Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Yang Muda, yang Tertipu Cinta

2 min read

Sekitar dua kilometer sebelum menyentuh salah satu batas kota Pekanbaru, seorang perempuan tampak letih dan terdengar menangis. Di bahunya tersandang sebuah ransel. Sementara itu, karcis bus antarkota di tangan kirinya melambai-lambai karena angin. Cuaca memang sedang tak baik, saat itu; tiap jam hanya berisi hujan. Namun, ketimbang udara, perasaan perempuan itu, rasanya, lebih tak baik lagi; tiap detik, baginya, serasa menikam.

Mungkin itu karena ia baru tertipu.

Ia mengaku berasal dari Medan, Sumatra Utara. Usai berkenalan dengan seorang laki-laki di laman Facebook, ia datang ke Pekanbaru dengan niat bulat: saling bersemuka. Laki-laki itu, yang mengaku tinggal dan bekerja di kota ini, memberinya alamat. Akan tetapi, ketika diperhatikan, alamat itu tak jelas. Karena itu, tiap orang hanya bisa mendesah lantaran tak bisa membantu si perempuan.

Si perempuan yang nyaris seharian menunggu pria tersebut di loket bus itu, akhirnya memberanikan diri datang ke rumah saudaranya di kota ini. Menumpang ojek, ia pergi.

Sebelumnya, ia mengaku malu datang ke rumah sanak-familinya itu. Sebab, ia cemas mereka akan menghakiminya karena tahu penyebab kedatangannya ke kota ini: lelaki dan cinta. Namun, karena terus didesak, ia memberanikan diri datang ke sana. Orang-orang di sekitar loket bus tersebut, yang tahu kisah perempuan itu, hanya tersenyum getir. Sembari melepas perempuan yang kira-kira berusia 25 tahun itu, dari mulut orang-orang di sana terdengar beragam makian:

“Bodoh!”
Longor!”
Bongak!”
Pekak!”

Perempuan itu pergi, tetapi kisahnya akan dikenang selalu. Sebab, tak hanya sekali-dua cerita model begitu terjadi.

Jauh sebelumnya, hikayat soal perempuan yang tertipu dengan iming-iming “cinta” di media sosial memang sudah banyak terjadi, dengan sejumlah variasi. Namun, polanya sama: berkenalan tanpa bertemu muka, lalu menjanjikan “cinta”.

Aneh, memang, mendapati kenyataan bahwa kisah itu terus berulang dan ada. Itu karena di era terbukanya informasi ini, masih saja ada yang tertipu di media sosial dan yang lebih parah dan perih, semua itu karena cinta.

Seorang kawan menimpali cerita soal perempuan itu, “Ia sudah cinta ‘buta’ sama si laki-laki sepertinya.”

Kawan lain bilang, “Cewek itu saja yang kurang kerjaan!”

Untuk kemungkinan pertama, kita bisa sepakat menjawab “tidak”. Sederhana saja soalnya: cinta buta itu tak ada. Yang terjadi ialah menggebunya hasrat di dalam diri dua insan yang dimabuk cinta untuk saling berkasih-kasih. Hasilnya, segala hal yang wajar akan terasa berlebihan. Sebaliknya, ketika hubungan itu berakhir, segala yang wajar akan terasa menyebalkan.

Yang kedua, soal “kurang kerjaan”. Saya tertawa mendengar pernyataan kawan itu. Sebab, ia sepertinya juga “kurang kerjaan” hingga dengan enteng mengatakan itu.

Perempuan, kita tahu, memiliki perasaan yang lebih lembut ketimbang laki-laki. Ada satu anekdot soal itu: Ketika anak terjatuh dan terluka, ibu akan menjerit, sedangkan ayah akan langsung membawa si anak ke rumah sakit. Namun, ketika anak selesai diberi pengobatan di rumah sakit, ayah-lah orang pertama yang “menjerit” (karena tagihan biaya), sedangkan ibu yang sadar untuk segera pulang.

Tentu tak selamanya anekdot itu benar, tetapi cukup buat menjelaskan: laki-laki lebih menggunakan pikiran, perempuan memakai intuisi dan perasaan. Hal itu berhubungan dengan persoalan “kurang kerjaan” tadi karena kita bisa menemukan hal ini: dalam tiap laku pendekatan (PDKT), para laki-laki rata-rata mengerahkan “akal”-nya untuk mendapatkan perempuan. Adapun perempuan akan lebih menggunakan perasaannya ketika menerima seorang laki-laki baru di dalam hidupnya.

(Sampai pada titik itu, ada kesan yang unik saat ini; ketika seorang perempuan menampik upaya PDKT seorang laki-laki, kita seakan-akan menemukan satu kesimpulan sepihak bahwa tiap laki-laki diciptakan hanya untuk menyakiti.)

Perempuan yang terkatung-katung di sekitar loket bus tadi merasakan hal itu. Kita mungkin bisa menyebut ia kurang kerjaan karena jauh-jauh datang ke sebuah kota hanya karena cinta, tetapi bukankah si laki-laki lebih kurang kerjaan karena “menggoda” sesuatu “yang jauh”, yang pada akhirnya tak ia sentuh?

“Cinta berawal dari kejatuhan,” tulis penyair Acep Zamzam Noor dalam satu puisinya, “dan berakhir pada lubang yang sama.” Kata-kata Acep tersebut, jika harus diterjemahkan ke dalam kisah si perempuan, bisa berbunyi, “Cinta berawal dari penipuan di media sosial dan berakhir pada penelantaran di loket bus dan terminal.”

Yang kurang kerjaan dari kisah itu ialah si laki-laki—dengan segala kebodohannya; si perempuan hanya menegaskan arah kisah itu—dengan segenap ketidaktahuannya.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (16 April 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *