Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Verboden voor Pembantu-Inlander

2 min read

Beberapa waktu setelah membaca berita ini, nafsu makan kita mungkin jadi berkurang: Seorang pembantu hanya bisa menatap majikannya sekeluarga yang sedang makan dengan lahap di sebuah restoran. Lebih parahnya lagi, duduk mereka pun “sengaja” terpisah.

Pada mulanya hanyalah foto dengan caption yang memang menggerus nurani para penyimak, tapi kemudian naik ke meja redaksi dan dikemas jadi artikel dan berita. Tragisnya, media luar negeri pun turut menyoroti peristiwa tersebut.

Direnungkan sekilas, peristiwa itu mengingatkan kita pada sebaris kalimat lawas zaman kumpeni: verboden voor honden en inlander (terlarang bagi anjing dan pribumi). Pasalnya sederhana saja: saat ini, honden alias anjing atau para binatang, umumnya, jelas tak boleh masuk mal, kecuali ada satu kepentingan mendesak, semisal pameran. Namun, persoalannya jadi lain karena ini soal manusia dan kemanusiaan. Sebab, kadang-kadang anjing lebih punya kedudukan atau posisi yang layak ketimbang pembantu — hal yang juga dirasakan oleh hewan-hewan peliharaan lainnya.

Lihatlah pada berita di atas; betapa angkuhnya sang majikan yang notabene juga inlander-sok-perkotaan-seperti-yang-lainnya itu melanggengkan hal-hal yang, sebenarnya, tak perlu dibawa “keluar pagar”, yaitu stratifikasi sosial atau prestise yang selama ini hidup dan mengakar di benak masyarakat kelas menengah-atas-ngehek di Indonesia itu (kau pembantu, aku majikanmu!) dan melingkupi rumah-rumah mewah mereka.

Sederhananya, perlu kita katakan bahwa sang majikan, sejatinya, tak harus mempertontonkan keangkuhannya kepada khayalak ramai dengan omong kosong bernama aktualiasi diri ala teori hirarki kebutuhan pada mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro itu sehingga “kemurnian” diri mereka tak terkotori oleh wajah-wajah memelas dan tak-menarik-di-foto ala kelas bawah yang, sialnya, mereka pekerjakan di rumah-rumah mereka dengan kamar yang menjorok ke arah dapur itu. Sebab, diskriminasi kelas yang terjadi saat ini jauh lebih runcing dari penindasan di zaman kumpeni, yaitu kuning menjajah kuning alias inlander menindas inlander atas dasar upah dan kehormatan!

Benar bahwasanya manusia modern dewasa ini tak bisa lepas dari kungkungan pragmatisme akut soal kebutuhan akan status sosial di hadapan orang ramai. Namun, bukankah kemanusiaan bisa tumbuh di bumi ini karena kehadiran orang-orang yang hidupnya-kurang-beruntung dan (dalam bahasa WS Rendra) “kalah dalam pergaulan” itu?

Membaca berita itu sekali lagi hanya membuat kita merasa mual dan ingin muntah lantaran di era percepatan informasi dan teknologi saat ini, sebuah foto memang lebih jujur ketimbang mata-nurani kita sendiri. Tengoklah di mal-mal yang AC-nya super-dingin-bikin-keriput-kulit itu bagaimana setiap hari mata kita dimanjakan dengan pemandangan “biasa” perihal majikan dan pembantu yang berjalan beriringan penuh barang belanjaan dengan “korban” terbanyak ialah perempuan! (Pantas saja negeri ini mengekspor begitu banyak pembantu [dengan bahasa keren ala Orde Baru: Tenaga Kerja Wanita!] ke negeri tetangga jika ternyata di Indonesia sendiri kaum babu tak pernah “dapat tempat alih-alih “dicatat”!) Sebab, pernahkah hati kecil kita bertanya; seperti apa rasanya berada dalam posisi mereka; siapkah kita, seperti dia, untuk duduk terpisah dengan sang majikan yang menguyah makanannya dengan khusyuk seakan tiada terusik nuraninya untuk sekadar berbagi dengan orang-orang yang, tololnya, dia marginalkan dalam konteks pembantu-majikan?!

Mungkin terasa apriori, tapi foto itu sudah menjelaskan secara rinci bahwa kemerdekaan (hidup) bukan hanya soal berhentinya perang dan penindasan fisik. Namun, lebih jauh, pada ketenangan batin oleh diskriminasi dan penjajahan kelas yang, mirisnya, pada foto itu, dimulai dari halaman depan peradaban alias meja makan. (Lihat bagaimana di sinetron-picisan yang urung dihentikan penayangannya oleh KPI itu ketika seorang pembantu makan tidak bersama majikannya, tapi di sudut dapur atau kamar-sempit-gelap-pengap mereka yang hanya punya satu barang mewah, yaitu kipas angin!)

Di rumah-rumah mewah seperti itu, di kompleks-kompleks dan perumahan elite seperti itu, ternyata tak hanya pemulung, pengemis, dan pengamen saja yang dilarang masuk, tapi nurani pun mesti kita tanggalkan ketika melewati portal dan gardu satpam![]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *