Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tidurlah, Mahasiswa …

2 min read

Pada sebuah perkuliahan pagi, selalu ada beberapa orang mahasiswa yang ngantuk di kelas. Bahkan, sampai ada yang ketiduran. Mungkin lain cerita jika fenomena ini terjadi di kelas-kelas perkuliahan di malam hari. Tapi, penampakan ini pun sebenarnya biasa saja jika dilihat dengan kacamata keseharian; mahasiswa memang “terlalu” sibuk dengan segudang aktivitas: di luar dan dalam kampus itu sendiri. Beberapa kesibukan yang antara lain adalah bekerja (sampingan), ikut rapat organisasi (yang “terlalu progresif”), berkelana atau nongkrong, dan juga olahraga jalan cepat (baca: belanja). Meski, tanpa perlu menghubungkan hal ini ke mana-mana, sejatinya, mahasiswa kita hari ini memang mahasiswa yang kurang tidur.

Setidaknya fenomena ini makin subur dan menemukan klimaksnya di era gadget ini. Jam istirahat mereka memang mulai terbatas dan hampir tak ada. Mulai dari yang sekadar iseng browsing, balas chat pacar dan merenungi perkembangan terbaru dari sang gebetan (atau picture yang menyiratkan kebahagiaan para mantan), terjun langsung ke dalam dunia per-komentar-an di portal berita online (terutama yang berpretensi menohok kinerja presiden yang “bukan pilihannya” itu), atau ada juga yang sibuk dengan upaya copy-paste tulisan-tulisan di blog-blog terpercaya untuk tugas kuliah, yang keseluruhan rutinitas malam harinya itu memang menyita waktu tidur, dan lantas, berujung pula berdampak pada menebalnya kantung mata (untuk kasus ini sebagian pengamat [yang sebenarnya juga tak terpercaya itu] berasumsi bahwa ketebalan kantung mata ini disebabkan oleh erosi yang ditimbulkan air mata, atau juga karena terpapar oleh radiasi kenangan ketika menemukan foto mantan tampak bahagia bersama “orang lain” di beberapa akun media sosialnya handphone itu sendiri terutama di malam hari).

Lain halnya dengan zaman dahulu: para mahasiswa (terutama para “aktivis”) yang kurang tidur lebih dikarenakan terlalu sibuk membaca dan mendaras (terutama buku-buku pergerakan), lalu berdiskusi soal beragam tema sampai subuh. Tapi memang tak semuanya begitu. Sebab masih ada juga segolongan mahasiswa yang terus melestarikan kebiasaan “purba” yang tetap berlaku sampai hari ini: main gitar di depan kos (sesekali diselingi minum “air kehidupan”) sampai pagi. Walhasil, ketika jam kuliah memaksa mereka bangun pagi, hanya ada dua hal yang pasti: berangkat ke kampus dengan sisa mimpi atau tidak kuliah sama sekali.

Tapi kantung mata mahasiswa memang tak menjelaskan apa-apa hari ini; siapa yang begadang karena sesuatu yang penting, dan siapa yang terpaksa mengorbankan jam tidur sebab harus menjalankan rutinitasnya. Dan tak ada juga yang peduli, bukan? Siapa pun, hari ini, bisa dengan entengnya membawa kantung matanya yang menghitam itu ke ruang-ruang kelas perkuliahan. Tak peduli orang berpikir “mengapa?”, perkuliahan akan tetap jalan terus; absensi mesti terus penuh terisi, sebab inilah indikator penting bagi orang tua di rumah: anaknya hadir kuliah, tanpa sekalipun bolos. Meski hanya datang, duduk, diam, dan sesekali diselingi tidur juga curhat.

Ah, sudah zamannya barangkali, jika mahasiswa tidur di kelas adalah hal yang lumrah. Di titik paling banal, para dosen mungkin menganggap hal ini sebagai efek dari krisis moral di kalangan anak-anak muda. Lantas, sebagian dosen itu mulai menanggapinya dengan riset kecil-kecilan—tapi faktanya teramat mengejutkan: “Terdapat segelintir mahasiswa yang part-time di malam hari, yakni mereka yang merelakan tubuhnya dieksploitasi dan dieksplorasi oleh kaum ‘gemar berplesir’ sampai pagi.” Maka, lahirlah kesimpulan pahit itu: “Degradasi nilai sedang terjadi, bahkan, juga kepada mereka yang tingkat pendidikannya (konon) paling tinggi!”

***

“Memangnya zaman dahulu gak ada ya, Prof?” celetuk seorang mahasiswa semester dua. Tapi sayang, perkuliahan yang diikutinya itu selesai sampai di sana. Dan pertanyaan tadi akan dijawab lain kali tentunya. Itu juga kalau pak Profesor ingat dan mahasiswa tadi tak segan menagih jawabannya minggu depan. Dan di sudut ruangan, beberapa mahasiswa senior yang sekelas dengan si mahasiswa kita tadi mulai bergumam lemah, “Tahu apa anak semester dua. Kenal begadang saja baru di acara-acara perkemahan kampus dan atau rapat-rapat bawah tanah organisasi mahasiswa. Dasar lemah!”

Ironis memang: para mahasiswa senior ini sebenarnya adalah mahasiswa yang “ngantuk di kelas, dan bahkan sampai ada yang ketiduran” sebagaimana yang saya tuliskan di awal tadi. Dan dua semester lagi, sang junior kita pasti akan menyusul kelakuan si seniornya itu, yaitu kurang tidur. Akibatnya sama: omongannya jadi melantur. Ketika perkuliahan telah selesai, hidupnya baru bermula: cari ruangan lain agar bisa tidur lagi sekadar nyambung mimpi.

Tapi, baiknya kita lupakan saja mereka untuk saat ini. Dan ssst…, jangan berisik, biarkan saja mereka tidur, daripada hanya datang, duduk dan diam, lalu pulang dengan pikiran tak tenang: tentang kampusnya yang tak pernah bisa membuat para mahasiswa merasa nyaman dan betah, seperti halnya mantan ranjang yang setia menanti di rumah.

Sudahlah. Zzzzz…[]

Tulisan ini tayang di Jurnal Kompatriot, Ahad (25 Oktober 2015)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *