Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tiada Jomblo yang Kafah

2 min read

Tuhan,
beri aku perempuan.
Amin.

(“Munajat”, Binhad Nurrohmat)

Pada satu Kamis malam, ketika berada di Jakarta untuk suatu acara, saya “menguping” obrolan beberapa pemuda —kami mungkin seusia- yang duduk tidak jauh dari sebuah kedai yang baru saya masuki. Yang menarik dari obrolan itu, selain logat dan aksen Betawi yang kental dalam percakapan mereka (yang jarang ditemui di kota ini), ialah topik obrolan itu sendiri; mereka sedang membicarakan cinta — tepatnya asmara dari salah seorang di antara yang ada di situ.

Mungkin itu soal remeh karena kita sering juga mempercakapkan cinta dan asmara di mana saja (dalam [ke]rangka curhat dan sebagainya), tetapi poin pentingnya ini: celetukan dari seorang pemuda yang berdiri di antara parit dan punggung seorang kawannya. Ia tiba-tiba menyeru ketika rekannya belum selesai berkisah, “Lu bilang ama emaknye!”

Sambaran dari sang pemuda itu lahir karena mendapati rekannya galau dan tak tahu harus berbuat apa saat mendapati gadis yang ia cintai tak kunjung memberi kepastian soal hubungan mereka. Sontak, saya ikut tertawa geli tak jauh dari kerumunan para pemuda tersebut. Terang saja, soalnya: “solusi” yang ia berikan untuk sang kawan itu memang, bagi saya, terasa menggelikan.

Itu karena saya terbayang: pada zaman ini, apa masih ada pemuda yang terjebak dalam urusan asmara dan mengadukannya kepada orangtua sang calon pacar? Pada kurun sebelum ini, kiranya, hal itu juga tak terjadi. Sebab, hal-hal gila semacam itu memang tak mungkin banyak terjadi.

Namun, itu terjadi di Jakarta: kota dengan kampung-kampung yang menjorok ke dalam alias tepat berada di belakang gedung-gedung tinggi (yang dibangun konon di atas tanah orang-orang kampung di belakang itu). Sementara itu, di kota ini, ketika berbincang soal cinta di tepi jalan —sebagaimana yang dilakukan para pemuda di atas-, ingatan saya dipapasi kisah berikut ini.

Sebelum hujan melumat debu-debu sebuah jalan lintas, saya dan beberapa kawan duduk dan bicara soal asmara dengan lagak para bajingan. Saat itu, salah seorang rekan di antara kami mengaku kalau dirinya sedang jatuh cinta kepada gadis yang masih termasuk kawan dekat saya. Dia kemudian minta tolong buat “dimuluskan” langkahnya demi mendapatkan hati sang gadis. Saya tak bilang, “Lu bilang ama emaknye!” saat itu, tetapi ini: “Coba kau dekati kawan dekatnya yang perempuan.”

Alasannya sepele saja: kawan itu lama menjomblo dan ia juga tak punya banyak kenalan alih-alih teman perempuan. Ia hidup dan bekerja dengan banyak lelaki di sekitarnya, selama ini, hingga saat ia jatuh cinta, perasaan bingung langsung menyerangnya.

Hal itu pula yang bertaut dengan cerita dari Jakarta tadi: dua “pejantan tanggung” itu lama “membujang” —dalam arti yang bukan sebenarnya- alias “jomblo 24 karat” untuk rentang waktu yang cukup lama. Tiba-tiba muncul pertanyaan di kepala saya waktu itu, “Kenapa status kejombloan yang terlalu lama itu berimbas terhadap hasrat penaklukan seseorang?”

Ketika masih sibuk menduga-duga penyebab dari itu semua, saya malah terpikir: tak satu jua, ternyata, jomblo yang kafah di bumi ini atau dalam bahasa yang lumayan: tiap pasangan, sejatinya, cuma belum saling menemukan; sejak awal, sebagaimana sajak WS Rendra, “nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit”, dan kita memang hanya belum hampir-menghampiri.

Soal kafah atau sempurna itu, kita tahu bahwa tak ada pemuda Indonesia yang benar-benar menyandang status jomblo hingga usia 20an. Jika saja sensus digelar, akan didapati bahwasanya hampir setiap pemuda di negeri ini pernah menyatakan cinta atau berpacaran barang sekali sebelum menginjak kepala dua.

Karena itu, kita harus menyimpulkan dengan terang: jomblo atau tidak bukan soal berpacaran atau menyatakan cinta belaka, melainkan soal “getaran” di dada. Sial sekaligus untung, tak ada yang bisa menyensus hal itu — dengan metode apa saja.

Maka, saat membaca berita dan tulisan-tulisan yang menyoroti wacana Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno, soal urgensi kaum tuna asmara dan jomblo, sudah seharusnya kita tergelak. Pasalnya, selain konsep yang ia jejalkan itu tak masuk akal, yakni lewat Kartu Jakarta Jomblo (KJJ) yang nantinya akan memanfaatkan fasilitas ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA). Adapun kegiatannya, antara lain, nonton bareng, taaruf massal, dan game.

Selain dicibir, niat “mulia” Sandiaga itu dihujani kritik yang muaranya satu seruan, “Jangan campuri urusan privat!” Sebab, alasan Sandiaga memang menjengkelkan kaum-yang-malam-minggunya-selalu-diisi-dengan-doa-minta-hujan itu: populasi manusia menurun di kota-kota besar (dunia) dan pernikahan para lajang adalah solusinya.

Tak ada yang lucu dari hal tersebut karena Sandiaga tampaknya serius, kala itu. Namun, ketika wacana itu buyar akibat serangan bertubi-tubi para pengkritik, sebaiknya kita memang harus memaafkan “kekhilafan” Sandiaga. Sebab, persoalan jomblo bukan masalah berat, apalagi untuk ukuran Indonesia.

Maka, kalau masalah kejombloan memang menjadi biang kerok dari menurunnya populasi, sebagaimana pola pikir Sandiaga, sebaiknya kita katakan kepadanya, “Pak Sandi bilang aje langsung ama emaknye!”[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (23 Juli 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *