Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Terbaring dan Terjaga di Rumah Sakit dan di antara Orang-orang Tercinta

3 min read

Terbaring dan Terjaga di Rumah Sakit dan di antara Orang-orang Tercinta

Satu-satunya alasan saya tetap membenci tempat ini adalah beberapa kawan saya meninggal di ruang dingin ini setelah berjuang lepas dari penyakitnya. Mereka meregang nyawa, mencoba sembuh, tetapi maut tak pernah sabar untuk menunggu. Namun, di sini jugalah saya kini, di instalasi gawat darurat (IGD) milik sebuah rumah sakit: terbaring dalam denyut nadi yang lamban, tetap tabah menghabiskan waktu yang membosankan.

Jelas, saya tak berpikir akan koit seperti mereka.

Saya pun melongok ke kiri: jarum infus itu tampak menancap di bawah lapisan kulit saya, sementara air terus mengalir dari botol di atas sana lewat selang yang diteruskan ke urat di pergelangan tangan. Mestinya orang sakit membutuhkan lebih banyak hiburan, pikir saya saat itu, semacam siaran tunda sepakbola dari liga papan atas. Mungkin ada hal-hal seperti itu, tetapi kesedihan yang tergurat di wajah para saudara dan orang-orang tercinta cukup untuk menghapus semua hiburan di ranjang dingin ini.

***

Apa yang kau lakukan jika tersedia satu hari spesial untuk berterima kasih di republik ini? Mungkin lidah akan kelu untuk mengucapkan kata paling ikhlas itu; badan bakal pegal untuk menempuh jarak dan menyambangi rumah orang-orang terkasihmu itu satu per satu; mungkin ….

Di negeri ini, hari spesial semacam itu memang tak perlu ada sebab konon, kata orang luar, penduduk negara ini murah senyum. Tengoklah orang Bali, kata mereka, dan lihat rupa-rupa senyum mereka setiap hari. Saya percaya kata orang luar itu.

Namun, maksud saya bukan itu.

Negeri ini punya orang-orang yang melampaui hal-hal semacam itu. Rakyat di sini begitu ikhlas; gotong royong menjadi nama tengah semua masyarakatnya. Di rumah sakit, saat terbaring itu, saya kian yakin dengan pandangan tersebut karena di balik tirai saya, di barisan ranjang yang sama, saya mendengar keluarga si sakit datang dan terus memberi semangat. Tak hanya mereka, tentu saja. Orang-orang terdekat, akan halnya tetangga, pun hadir di sana, dalam momen mengharukan itu.

Malam itu, saya merasakan hal yang sama meski orangtua saya berhalangan hadir menemani anaknya yang tengah terbaring ini.

***

Saya belum pernah memendam rasa jengkel kepada satu pun dokter sebab teringat kerja-kerja kemanusiaan mereka yang terlampau mulia, bahkan meski saya harus memutar lagu “Di Rumah Sakit Brengsek” milik band punk Marjinal melalui pengeras suara di sebuah rumah sakit. Akan tetapi, malam itu, di rumah sakit pertama yang saya datangi, rasa lemas yang menyergap badan saya kian bertambah karena pemandangan di depan sana: seorang dokter duduk menghadapi meja bersama dua perawat dan mereka justru bercerita seolah-olah tak ada pasien di depan mereka.

Para petugas medis itu memang sempat melakukan tindakan, tetapi itu tak cukup buat saya sebab perangai si dokter sudah begitu melukai: ia bilang, dengan enteng, kamar inap untuk lelaki sudah penuh dan ia juga bertanya soal kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan saya. Saya yang terkulai lemas di ranjang dingin melirik ke arahnya, sebelum ia kemudian berkata kira-kira begini, “Kondisi pasien sudah lemah. Terlihat dari luar …”

Tanpa menunggu lama, seorang kawan yang murah hati langsung memotong omongan si dokter dan membawa saya pergi dari ruang IGD rumah sakit itu. Seandainya bukan saya yang terbaring di ranjang pada malam itu, adrenalin merusuh saya mungkin akan membuat kepalan tangan ini segera merobek bibir dan hidungnya.

Bukankah dokter seharusnya tak mengatakan hal yang sia-sia dan lekas memberikan pertolongan?

Pertanyaan saya sama sia-sianya dengan berharap lebih untuk mendapatkan perawatan yang baik, sedangkan kartu BPJS di tanganmu cuma Kelas III.

***

Kini saya di rumah sakit kedua. Jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah sakit pertama. Mungkin saya naif, tetapi penanganan di sini lebih baik, padahal dua rumah sakit ini sama-sama milik swasta. Ketika dokter dan perawat di sini menghampiri kami, saya berharap siksaan ini segera berakhir. Seorang perawat lain mengambil sampel darah saya dan membawanya untuk diperiksa di laboratorium.

Dokter, yang sejak tadi berdiri di depan saya, juga sudah memulai pekerjaannya: ia menyuruh saya melakukan beberapa gerakan dan bertanya soal kondisi yang saya rasakan. Hal-hal semacam itu yang tak saya dapatkan di rumah sakit sebelumnya dan tangan saya ingin terkepal kuat saat menyadarinya. Tak lama, seorang perawat lain datang dan mulai memasang jarum infus. Karena kondisi tubuh saya yang masih lemas, ia agak kesulitan menemukan pembuluh darah yang dapat dialiri cairan infus.

“Kami cari lagi, ya, Pak,” ucapnya.

Mendengar itu, saya ingin menampar wajahnya karena perih lubang jarum yang tadi mesti ditimpa perih lubang jarum yang baru. Tentu saja saya bercanda soal menampar wajahnya, tetapi tidak untuk membogem si dokter di rumah sakit sebelumnya.

***

“Tagihannya segini, sudah dibayar,” ucap pacar saya, yang sudah dua jam lebih menemani, di sini. Di ponsel, hari sudah bergerak ke pukul 04.00 WIB.

“Siapa yang membayar?” tanya saya, dan ia menyebut nama seorang kawan.

Mungkin tiga atau empat tahun lalu, kawan itu yang terbaring di sebuah rumah sakit. Ia harus mendapatkan napas buatan via oksigen di sebuah rumah sakit di kota ini. Ketika ia mengabarkan bahwa dirinya di rumah sakit, saat itu, saya bergegas menemuinya. Hal-hal semacam ini, waktu itu, sudah lama tak saya lakukan, kecuali memang kepada orang-orang yang saya cintai dan hormati.

Ketika sudah agak pulih dan mengetahui penyakit yang saya derita malam itu, saya tak sempat langsung berterima kasih kepada semua yang hadir menemami di sana. Jumlah mereka tak banyak, tetapi itu lebih dari cukup. Di sisi lain, saya tak tahu cara menebus kemurahan hati mereka meski saya tahu juga kalau cara apa pun yang saya lakukan jelas tak akan mampu menebus itu semua.

Saya tak ingin lagi membenci rumah sakit, sejak hari itu.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *