Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Teks

2 min read

Pada acara Gerakan Indonesia Membaca Menulis Nasional (GIMM Nasional) beberapa waktu yang lalu, ada dua hal menarik bagi saya perihal peserta dari kalangan mahasiswa. Pertama, mayoritas dari mereka adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua, mayoritas dari mereka tidak menulis–dalam konteks membiasakan diri.

Untuk hal yang pertama, bagi saya, yang berasal dari jurusan lain ini, keterkaitan saya dengan acara itu memang kerap dianggap sebelah mata–terutama oleh peserta dari kalangan guru. Tapi hal ini tentu berdasar: jurusan perkuliahan saya memang tidak akan mengajarkan persoalan teks, tata bahasa, dll., yang memang dipelajari oleh mereka bertahun-tahun lamanya. Tapi agaknya, yang bisa saya lakukan kemudian hanyalah dengan terus menulis (sembari mempelajari persoalan kebahasaan) sebagai bentuk pembelaan atas ketidaktepatan (dalam sudut pandang mereka) terpilihnya saya dalam acara yang (sepertinya) hanya “berhak” diisi oleh orang-orang “Bahasa” tersebut.

Tapi dari sana pula saya akhirnya menyadari bahwa bergaul dengan teks memiliki dua sisi. Pertama, teks dipandang sebagai teks semata. Artinya, teks tidak mesti, dan akan, diturunkan. Pada konteks ini, terminologi teks disederhanakan sebagai bacaan belaka; teks tidak mesti memengaruhi seseorang untuk menghasilkan teks baru. Kedua, tentu saja, teks yang memengaruhi pembaca untuk menulis; teks yang akhirnya menghasilkan teks baru sebagai hasil pembacaan.

Memang, sangat menarik untuk memperbincangkan persoalan teks meski akhirnya saya menemukan hal itu: teks ternyata sangat jauh dari kehidupan mahasiswa hari ini–alih-alih memperbincangkan sejauh mana teks memengaruhi mereka.

Mungkin terkesan sporadis, tetapi dalam satu kesempatan saya akhirnya memang menemukan kerisauan tadi menjelmakan dirinya ketika kami (serombongan mahasiswa) sampai di Taman Ismail Marzuki, tepatnya di kios buku Jose Rizal Manua.

Hal itu terjadi ketika saya dan beberapa rekan mahasiswa lain tengah memilah-milah buku yang sekiranya hendak dibeli. Mungkin karena melihat betapa antusiasnya saya dan rekan-rekan masa itu, yang bersangkutan spontan berkata: “Wah, kalian begitu semangatnya bersua buku,” dan kebetulan komentar itu diarahkan kepada saya. Kemudian ia menyambung pernyataannya tadi dengan berkata, bahwa ia sejatinya belum lagi membaca Laskar Pelangi meski dirinya dalam satu kesempatan diskusi (yang masih bagian acara GIMM Nasional), melontarkan beberapa pernyataan perihal pariwisata, terkhusus pulau Belitung, yang mengindikasikan dirinya pernah membaca novel Andrea Hirata tersebut.

Mendengar pernyataannya, saya tidak terlampau terkejut–meski merasa riskan. Sebab, dengan segala ketersohoran sebuah karya, sebagaimana Laskar Pelangi, orang-orang memang, dan tentu, terbiasa menukil apa saja darinya (teks) tanpa perlu membacanya. Dalam arti, apa yang menjadi wacana orang ramai, itu pula yang akan kembali dikutip-sebarkan hingga tak tepermanai.

Tidak berhenti sampai di situ, lain masa (masih dalam acara GIMM Nasional), saya kembali menemukan hal serupa. Berawal dari tiap mahasiswa yang mesti memaparkan hasil akhir dari acara pelatihan tersebut (sebagai puncak acara), seorang rekan mahasiswa membuat pengakuan jujur kepada saya bahwa ia (meski anak Sastra Indonesia), kiranya juga tidak akrab bergaul dengan teks–pada konteks ini ia seolah ingin mengatakan bahwa pergaulannya dengan teks adalah jika dipandang dari sisi yang pertama, yaitu menganggap teks sebagai bacaan belaka sehingga ia merasa gugup dengan teks yang ia hasilkan sendiri untuk dipaparkan nanti.

Menemukan persoalan semacam itu, saya teringat tulisan Alvi Puspita yang pernah dimuat di rubrik “Alinea”Riau Pos edisi Ahad (asuhan Balai Bahasa Provinsi Riau). Sebab, dalam tulisannya Alvi juga menyinggung persoalan kegamangan mahasiswa berhadapan dengan teks, terutama bagaimana teks memengaruhi seseorang agar menulis.

Persoalan ini, seturut Alvi, memang bukan temuan baru dan tidak mudah diselesaikan sehingga diperlukan laku (semacam pemaksaan) agar mahasiswa mau menulis. Akan tetapi, memang perlu diwaspadai, bahwa laku (pemaksaan) itu tidak berujung pada kejengahan yang akan timbul di kalangan mahasiswa untuk membaca dan menulis yang bermuara pada ambivalensi. Dalam arti, teks memang ditulis, tetapi semua selesai hanya sampai di sana–tanpa diskursus, apatah lagi dialektika–terlepas dari bagaimana interpretasi yang tumbuh-berkembang dalam tiap kampus sebagai oase bagi pemikiran mahasiswanya.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *