Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tak Nakal Maka Tak Sayang

2 min read

Kita perlu belajar dari kanak-kanak di sebuah kelompok bermain ini.

Dari enam bocah kecil yang ada di luar pengawasan seorang guru mereka itu, satu di antaranya bilang, “Jangan nakal. Kita harus jadi anak baik, seperti kata Bu Guru.”

Apakah makna laku baik dan kebaikan bagi anak seusia itu?

Mungkin kita bisa menerka jawabannya dari sinar mata mereka yang belum dikacaukan pahala dan dosa, surga dan neraka, kekufuran atau ibadah. Satu yang penting: belum ada dusta di antara mereka alih-alih pengingkaran atas cinta.

Tentu saja itu bukan soal cinta dalam kerangka pikiran dan kehidupan orang-orang dewasa. Kanak-kanak berusia 5-6 tahun itu hanya merasakan, sambil mencoba berbagi, rasa kasih dan sayang dalam kerangka imajinasi mereka: saling meminjamkan mainan, berbagi jatah bekal —kadang saling menyuapkan-, atau bernyanyi dengan vokal sekehendak hati sendiri alias tak beraturan.

Kanak-kanak itu bahagia, memang, dan orang-orang dewasa yang sedang dalam masa pendekatan (PDKT) tidak.

Sebab, ada hal-hal yang bukan datang dari hati, melainkan pikiran, pada masa-masa itu. Yang sering terdengar kemudian adalah satu ujaran: “Kamu terlalu baik buat aku.”

Kalimat itu bijak kedengarannya, tetapi meracuni. Sebab, alam pergaulan dan latar belakang sosial masing-masing orang yang berbeda-beda membuat pernyataan itu memunculkan pertanyaan tak mengenakkan di hati: benarkah kita terlalu baik?

Apakah menjadi buruk itu perlu?

Ki Hadjar Dewantara punya jawaban yang terus relevan hingga saat ini: “Nakal boleh, goblok jangan.” Karena pandangan itu pula, barangkali, tokoh Lupus dalam karya Hilman Hariwijaya terasa dekat sekali: ia seolah jadi prototipe bagi anak-anak remaja pada zaman itu, sekaligus menandai sebuah kurun yang mulai terbuka dan tak lagi malu-malu.

Lupus boleh jadi, sebagaimana yang diistilahkan kemudian, seorang “bad boy”, tetapi Ki Hadjar Dewantara?

Jika nakal harus punya kategori, kaum intelektual pada masa pergerakan Indonesia itu boleh dimasukkan dalam slot “terdidik”. Salah satu yang menarik perhatian: Sutan Sjahrir.

Konon, ketika para pemuda (senior) yang berdiskusi soal kebangsaan menemukan jalan buntu dari perdebatan-perdebatan mereka, Sjahrir hadir dengan gagasan agar keluh-kesah para insan cendikiawan itu ditampung dalam sebuah pertemuan besar. Hasilnya: Kongres Pemuda I dan II — yang juga menjadi pemantik lahirnya Sumpah Pemuda.

Kejernihan cara berpikir Sjahrir sendiri bukan tiba-tiba ada di kolong langit ini. Sebab, lantaran tak ingin menjelma sebagai pemuda rata-rata di zaman itu, pria yang kelak dijuluki “Bung Kecil” itu tampaknya berupaya untuk agak terlihat sedikit radikal —terminologi selanjutnya dari nakal. Karena itu, Sjahrir muda sering membaca koran-koran berbahasa Belanda dan dari situ ia mengerti bagaimana perkembangan di dunia maupun di tanah airnya.

Kita punya banyak kisah lain soal pemuda pada zaman itu, tetapi ceritera Sjahrir sudah cukup menerangkan: kenakalan penting juga, setidaknya bagi kemerdekaan.

Hal itu yang kini dirampas oleh pernyataan “Kamu terlalu baik buat aku” tadi. Sebab, meski patah hati juga bisa memantik semangat perubahan dalam diri seseorang, tetapi efek traumatis yang ditimbulkannya cukup lama untuk hilang, bahkan tak bisa (dari beberapa kasus).

Si penutur kalimat itu mungkin tak menyadari sejauh mana dampak dari kalimat tersebut. Di sisi lain, seorang pemuda yang “kebelet” juga tak paham benar apa yang terjadi selanjutnya saat kalimat itu mengacaukan pikirannya. Agak mendingan, memang, jika reaksi yang hadir kemudian ialah mencari air —dalam konteks itu: penyegaran-, seperti halnya para pengonsumsi pil PCC (cari kepanjangannya) di Kendari, Sulawesi Tenggara tempo hari.

Namun, jika yang terjadi tak seperti itu?

Bunuh diri bukan jawaban, tentu saja, dan lari sebentar dari perasaan semacam itu tak baik untuk kesehatan (pikiran). Orang-orang yang (terlalu) sakit hatinya itu sebaiknya memilih piknik dalam dua pengertian: sebagai gerak-badan, dan, untuk kemudian menjadi, gerak-jiwa atau perasaan.

Pada zaman modern ini, ketika semua orang berupaya berlagak baik dan benar —dalam aras agama dan sosio-kultural-, yang tersisa memang cuma hipokritas. Selebihnya: kenakalan dalam aras yang positif agar kau dicintai.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (24 Desember 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *