Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Simulakra Cinta “Remaja”

3 min read

Muhammad Hidayatullah (18) memilih untuk bunuh diri di tengah-tengah percakapan video call dengan Apriani, pacarnya.

Slamet Riyadi (16) mengaku ingin punya anak serta beli tanah sendiri dalam mengarungi babak baru kehidupan pernikahannya bersama sang istri, Rohaya (71).

Fakhri Anang (21) harus menjalani sidang dalam kasus pedophilia usai dia masuk jebakan Guardian of the North.

Ketiga pemuda itu menjalani kehidupan yang berbeda serta di tempat yang juga tak sama. Kalaupun ada yang perlu dihubung-hubungkan dari ketiganya, tentu saja soal cinta (atau katakanlah asmara bagi Muhammad Hidayatullah dan Fakhri Anang). Di sisi lain, jika ada pula yang mesti disusun-rekatkan dengan ketiganya, bagi saya, tak lain dan tak bukan ialah karena mereka menjadi cerminan dari generasi ini — generasi yang memungkiri kata BJ Habibie ini: “Google gak selalu benar, harus cek and ricek.”-, yang memandang kesakralan sebuah hubungan dengan dasar yang rapuh.

Kedengaran pesimistis, tetapi mesti saya asumsikan demikian adanya. Sebab, jika terus dibelai oleh “kasih sayang” yang tak jelas maknanya (kasus Muhammad Hidayatullah), dicerca oleh banyak kalangan lantaran cinta yang terajut di antara jauhnya perbedaan usia (kasus Slamet Riyadi), atau nafsu buas yang tak pernah padam di dalam diri “remaja uzur atau dewasa tanggung” (kasus “aneh” Fakhri Anang), generasi ini lambat laun akan terus mencapai titik terendah dalam pandangan orang-orang di masa depan.

Mari simak kasus pertama. Berasal dari keluarga berpendidikan dan terpandang —sebagai putra bungsu Kepala Dinas Pendidikan Maros Arifuddin Wahab- ternyata tak serta-merta melenyapkan kebodohan Muhammad Hidayatullah dalam menghadapi permasalahan. Mungkin bisa dimaklumi bila Muhammad Hidayatullah hanya mengiris pergelangan tangan tanpa perlu gantung diri. Namun, hal itu bukan pula menjadi pembenaran saya akan adanya “hal-hal tak masuk akal” hanya karena persoalan asmara “hangat-hangat kuku” itu. Sebab, meski tetap menimbulkan efek psikologis yang besar, bunuh diri senyatanya memang lebih meninggalkan dampak yang riskan: semua orang harus menanggung dampak yang besar — sebelum dan sesudah sang jenazah dikebumikan.

Meski bukan remaja lagi, kasus serupa Muhammad Hidayatullah itu sebelumnya menimpa sosok Pahinggar Indrawan alias Indra (35). Benang merah yang mesti saya urai di sini — jika dikaitkan dengan kasus Muhammad Hidayatullah- ialah keduanya melakukan aksi nekat tersebut dengan memanfaatkan koneksi internet. Bukan maksud saya menyebut perpaduan kuota data dan android atau sejenisnya telah membuat kita terjebak dalam simulakra, melainkan cara pandang kita yang seharusnya tak diubah oleh perangkat digital tersebut. Dari kasus Indra, yang bunuh diri live di Facebook, ada pelajaran penting: orang galau mesti ditemani dan dihibur kesedihannya dari jarak dekat. Sekali lagi, dari jarak dekat alias pendampingan.

Hal itu yang tak bisa diperbuat dalam kasus Muhammad Hidayatullah. Sebab, selain karena sang pacar, Apriani, agaknya, belum berpikiran dewasa alih-alih membuat kekasihnya itu sadar, aksi bunuh diri itu dia lakukan lewat video call di sebuah aplikasi chatting-an. Kini, bak kata nasi sudah jadi bubur, yang mungkin terjadi hanyalah bagaimana dosa membuat mayat Muhammad Hidayatullah menangis di dalam kubur —oh, semoga itu tak terjadi. Alfatihah…

Sementara itu, terkait kasus “cinta” Slamet, kita memang tak bisa menjustifikasi bahwa yang terjadi itu adalah kekeliruan: betapa tak mungkin seorang remaja jatuh cinta hingga akhirnya menikah dengan seorang nenek. Pasalnya, yang kita ketahui dari kisah cinta mereka cuma ini: kenyataan bahwa tak seharusnya seorang muda menikah dengan seorang yang, ya, katakanlah, renta. Siapakah yang bisa dengan piciknya memandang kehidupan orang lain jika ia sendiri belum selesai dengan dirinya? Tentu saja kita akan saling menunjuk hidung jika harus dibebankan untuk menjawab cepat pertanyaan itu.

Bagaimana bisa orang-orang, termasuk kita, dengan mudah menghakimi keputusan Slamet? Sederhana saja, itu karena di dalam pikiran kita, generasi millennial yang kemalasannya tak tertandingi bahkan untuk sekadar mencari sebuah kata di KBBI, sudah terpatri bahwa kisah cinta mesti heroik: “Kau,” kata seorang lelaki, “gadisku yang muda, manja, serta lembut suaranya, akan kutaklukkan dikau dengan cara apa pun. Sebab, engkau ratu dalam kerajaan cintaku!” Atau, dengan bahasa yang lebih santai: cinta butuh pengorbanan.

Kini, kasus ketiga: pedophilia alias pelecehan seksual yang tak seharusnya ada. Bagi saya, berita itu menarik bukan karena permohonan Fakhri Anang ini: “Saya minta maaf, saya minta maaf. Jangan telepon polisi. Saya butuh seks.”, melainkan lantaran dia menjadikan seorang bocah laki-laki sebagai sasarannya. Ya, bocah laki-laki!

Tak ada yang perlu dikomentari, sejatinya, dari kasus cabul yang “hukuman” —jika masuk- dari sesama penghuni penjara itu nantinya bisa sangat sadis tersebut. Alasannya, dia bukanlah satu-satunya pelaku dari aksi biadab —meski belum sempat diperbuatnya- itu. Kita tahu, di luar sana, dan tak harus di luar negeri, kasus pencabulan bocah –dan itu sejenis- oleh orang yang lebih tua memang marak terjadi. Perlu digarisbawahi: sampai hari ini.

Namun, yang menjadi poin penting dari kasus Fakhri Anang ialah bagaimana libido “aneh” itu lahir dalam jejaring dunia digital hingga akhirnya ia mengaku: “Saya tahu itu tidak benar. Tetapi saya sedang horny.” Bukankah nyaris tiap hari film biru diunduh dan situs-situs penyedia jasa penggenjot berahi itu tak pernah sepi pengunjung? Yang menjadikan cerita itu menarik bukan soal dosa atau apa pun yang bertendensi langsung dengan kegiatan yang jelas tak baik itu, melainkan bagaimana orientasi seksual juga bisa menyelinap di benak seseorang yang entah sudah teracuni oleh apa masa lalunya saat ia berada jauh dari keluarga.

Benarkah cinta yang selalu saja “remaja” selalu memungkasi kisah pencarian muda-mudi generasi ini? Semua orang tahu itu — kita hanya perlu melacak jejak kebodohan (baca: kegalauan) di akun dan aplikasi chatting masing-masing.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (30 Juli 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *