Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Sial

1 min read

Yang sial adalah mereka yang takut gagal–tanpa mencoba; yang sialan adalah mereka yang mengutuk kegagalan.

Tapi sial dan perihal kesialan kadang diakomodasi oleh sebuah angka. Sore tadi, ketika turun lift, seorang mahasiswi yang tengah magang bertanya pada saya: “Mas, di lift-nya nggak ada angka 4, ya?” Saya jawab: “Ini kepercayaan orang Cina. Angka 4 itu simbol malapetaka alias kemalangan.”

Di Jakarta, ketika ikut di sebuah acara, saya menemukan angka 13 yang luput dari tombol lantai lift di sebuah hotel di sana. Seorang kawan yang baru menyadari hal itu di hari terakhir acara mengaku bergidik setelah tahu akan hal itu. Sementara saya, tertawa terpingkal-pingkal melihatnya ketakutan alias menertawai paranoia-nya yang menurut saya berlebihan.

Lain di Jakarta–yang mungkin terpengaruh oleh kepercayaan Kabbalah atau sekte-sekte Yahudi–di Italia, kesialan dimitoskan dengan angka 17. Benar-tidaknya, kita toh masih menyaksikan pemain timnas Italia yang bernomor punggung 17.

Tapi keluar sejenak dari mitos angka, kesialan rupanya juga terwakilkan oleh binatang, bahkan lewat benda-benda. Ada yang mengaitkan persoalan kematian dengan kucing hitam, gagak hitam atau jenis hewan (yang biasanya hitam) lainnya. Sementara untuk benda, biasanya mitos itu berkembang pada soal keramat dan yang dikeramatkan.

Berbicara soal gagak hitam, motor saya dahulu diberi julukan “Gagak Hitam”. Bukan karena apa-apa, melainkan karena terinspirasi dari film Crow Zero yang sempat menghebohkan itu.

Menyandang julukan “Gagak Hitam”, tentu saya sebagai pemilik dan pengendara motor itu–yang kadang-kadang juga percaya mitos–dibuat takut, gelisah dan khawatir. Pasalnya, motor yang saya kendarai sejak zaman pleistosin alias dari zaman SMA itu memang sering bermasalah. Mulai dari bagian depan sampai belakang selalu saja itu motor bikin onar dalam kehidupan saya.

Alkisah, suatu malam, sepulang mengantar seorang perempuan, motor itu mati di jalan yang lengang. Namun, agar cerita ini tak berkembang jadi horor, perlu saya beritahu, bahwa di Pekanbaru saat itu sedang marak aksi brutal geng motor. Maka di antara “sunyi kaku pohonan tak bergerak” ala puisi Chairil Anwar, yang saya takutkan itu untunglah tak terjadi: saya jadi korban keganasan geng motor akibat motor saya alias si “Gagak Hitam” yang tiba-tiba mogok di sebuah jalan.

Sungguh, itu adalah satu pengalaman yang mendebarkan dalam hidup saya. Sebab, beredar kabar, jalan itu adalah rute yang kerap dilalui geng motor besutan Kelewang yang bermarkas di Stadion Utama Riau tersebut.

Tapi kembali lagi soal sial dan kesialan, kiranya, kita perlu membedakan, mana yang sial, kurang beruntung, cobaan, hingga kesalahan sendiri. Dan dalam konteks “Gagak Hitam”, tentu saya punya dua hal itu sekaligus: kesialan dan kesalahan saya sendiri yang kurang merawat itu motor peninggalan.

Tapi yang sial, sekali lagi, memang hanya mereka yang takut gagal. Dan dengan “Gagak Hitam” itu, entah sudah berapa kesialan yang saya lewati sebab saya juga pernah takut gagal.

Kini, motor itu sudah diwariskan dan saya punya pengganti. Biar terkesan lebih keren dan tetap bertahan dengan gaya metaforis, saya kasih nama motor yang sekarang: “Angsa Putih”. Filosofinya, biar lambat, asal setia. Yang penting anggun, toh akhirnya kan sampai juga.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *