Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Sepi

31 sec read

Seorang kawan bertanya: “Sepi itu bagaimana?” Saya tak menjawabnya. “Apa (ke)sepi(an) itu lebih menyakitkan dari puisi penuh luka yang pernah kau tuliskan?” kembali ia bertanya. Sekali lagi saya diam; berusaha tak menjawab.

Lama kami berbincang soal sepi dan kesepian ini. Tapi seperti hamba-hamba fasik dalam hal asmara lainnya, tentu tak banyak hal yang bisa dibagi dan dipedomani. Selain satu kalimat ini, yang meluncur begitu saja dari saya: “Perempuan tersakiti oleh kata-kata;sementara laki-laki ‘merasa’ disakiti ketika kehilangan keduanya. Begitulah sepi bagiku: ketika kau kehilangan perempuan sekaligus kata-kata yang seharusnya tidak menyakitinya; tapi menahannya.”

Saya tak tahu apa kawan itu mengerti. Tapi yang jelas, malam itu jadi dingin sekali. Sialan, pantas saja Chairil sialan itu sampai memberi judul sajaknya “Hampa”, dengan kata “sepi” yang banyak di dalamnya.

Malam itu, kami tak kuasa untuk tak menertawakan Chairil; meski terus pula “dikoyak-koyak sepi” seperti penyair sialan ini.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *