Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Senjakala Pergerakan Mahasiswa

3 min read

Sebenarnya saya sudah tak bernafsu lagi menulis tentang pergerakan mahasiswa, apalagi pada HMI—membahas dan menuliskannya. Sudah banyak tulisan kritis, baik pembelaan atau penolakan, tentang organisasi luar kampus rintisan Lafran Pane ini sejak aksi anarkis “massa” mereka di Pekanbaru mengemuka. Seakan tak tersisa lagi tempat untuk saya, tulisan-tulisan itu memang sangat representatif dan aktual—tanpa kehilangan intrik dan data sejarahnya. Tulisan-tulisan itu memang sudah cukup memprovokasi mahasiswa (terutama di Pekanbaru) untuk mulai berpikir tentang tak ada gunanya gerakan mahasiswa.

Tapi pada suatu siang saya menerima pesan: sebuah organisasi pergerakan, seperti HMI itu, membuka rekrutmen anggota baru—di pesan itu mereka tulis “rekuitmen”. Tak ada masalah sebenarnya, kecuali ketika sampai pada ujung pesan itu yang berbunyi, “Belum jadi mahasiswa kalau belum gabung ****”. Inilah masalahnya. Saya mulai terprovokasi. Slogan—atau apalah namanya—milik mereka yang tendensius seperti itu memang sah-sah saja jika dilihat dari kacamata promosi dan jualan nama. Sayangnya mereka alpa: saya tak suka promosi dan jualan nama—terlebih jika jualan nama ini bergerak masuk ke dalam istilah Bordieu yang disebut modal simbolik (nama besar). Atau mungkin saya saja yang terlalu gegabah berpikir seperti ini? Baiklah, saya akan menjelaskannya.

Dunia pergerakan adalah dunia wacana. Di dalamnya setiap insan diajarkan untuk mempertentangkan banyak hal dan tema, atau saling mengkonfrontir gagasan demi tercapainya tujuan. Saya tak tahu apakah mahasiswa pergerakan kita saat ini masih mempertahankan hal itu. Parahnya lagi, saya menduga para mahasiswa itu memang tak mengerti soal mendasar seperti ini—apatah lagi mengerti tujuan yang hendak diwujudkan. Singkatnya, yang penting masuk dunia pergerakan dulu, ngerti apa tidak ya urusan belakangan.

Sikap “membebek” semacam ini memang banyak ditemui dalam dunia pergerakan mahasiswa kita hari ini. Bahkan tak jarang, sikap mereka ini lebih lagi ketimbang para anggota dewan, sehingga mereka yang tak punya modal apa-apa selain waktu, tenaga dan pikiran ini, semakin hari kita perhatikan memang jauh dari nilai-nilai kepatutan dan keluhuran budi. Ada yang diam-diam menilap dan menggelapkan uang organisasi untuk dirinya sendiri; ada juga yang sedikit berbagi dengan para “kolega” di tubuh organisasi itu sendiri. Saya katakan begini: untuk masuk organisasi ini mereka cuma bayar puluhan ribu, tapi ketika di dalam organisasi jutaan hingga puluhan juta bisa masuk saku! Modal tak harus berbanding lurus dengan laba dan surplus rupanya, dan dunia pergerakan (mahasiswa) yang bukan berorientasi pada laba itu, kini telah bergeser kedudukannya!

Ini bukan isapan jempol belaka. Hanya mahasiswa semeter dua yang masih bertahan dengan argumen lama jika anak-anak pergerakan ini pastilah berlandaskan kejujuran dalam segala lini kehidupannya. Maka harus saya katakan lagi: dunia pergerakan kita adalah dunia wacana dimana, di dalamnya, kejujuran adalah barang langka yang tak terbeli oleh apa saja. Atau, mungkinkah hanya ketika seseorang berani menentang, yaitu dengan keluar dari organisasi tersebut, barulah kiranya kejujuran tadi dapat kembali ia renggut? Entahlah.

Jadi apa gunanya gerakan dan pergerakan mahasiswa kita hari ini?

Antara ada dan tiada. Dikatakan tiada, karena mereka ini hanya sekumpulan anak muda yang tengah gila-bergelora dalam kompleksitas dunia baru di hadapan mukanya. Mereka ini hanya segelintir partisipan yang bersiap dengan dengan segala kemungkinan: kelak, ketika tamat, punya pekerjaan di pos-pos strategis, punya uang, kemudian nyaleg (seperti senior mereka di pergerakan dulu), lalu mati. Kalau pun ada intrik, itu tak jauh-jauh: berkisar di skandal percintaan picisan dan penggelapan! Memang tak ada yang lebih menarik di Indonesia ini nantinya ketimbang senyum lepas mereka ketika digelandang ke pengadilan lalu penjara. Tapi tentu kita berharap hal ini tak akan terjadi.

Tapi apakah seluruh organisasi pergerakan mahasiswa begitu?

Tak bisa dipastikan—sebab itu dikatakan ada. Saya percaya diam-diam masih ada yang menyimpan harapan ke arah perbaikan dan perubahan di tubuh organisasinya, meski tak terkatakan. Mereka inilah nanti yang akan menepi, jauh ke pelosok-pelosok negeri, hanya demi satu hal: kesejatian hidup yang hakiki: tegak di luar dinding politik sambil terus melawan dalam hati. Ya, dalam hati—tak ada yang lain. Karena dunia pergerakan mahasiswa kita hari ini terlalu jelas kepalsuannya: tak ada hak-hak rakyat yang diperjuangkan, yang tersisa hanya nasi bungkus kiriman pemodal aksi unjuk rasa ditambah sedikit sokongan dana; tak ada juga kemaslahatan umat, yang tersisa hanya embel-embel nama umat ini atau kaum itu sedangkan kaum dan umat ini sendiri makin dilumat oleh mesin giling bernama kerakusan pemodal.

Saya katakan juga: jangan bertanya transparansi pada medioker-medioker kecil ini—apa saja macamnya. Tak ada yang tak tahu—sekali lagi, kecuali mahasiswa semester dua yang masih unyu—jika mereka ini bahkan tak segan “minta proyek” kepada para seniornya! Jangan kira aksi demo mereka terhadap kebijakan dan pemerintahan Jokowi—yang pakai acara shalat jenazah itu juga termasuk, lho—adalah “dari mahasiswa untuk rakyat”. Sebab yang ada hanya “dari Adinda untuk Kakanda”, dan sebaliknya.

Tapi sekali lagi, ini bukan sinisme—hanya karena saya bukan massa pergerakan dan aktivis pengajian kampus. Hal ini saya kemukakan di sini dengan harapan suatu hari nanti dunia pergerakan mahasiswa kita berubah ke arah yang lebih baik.

Memang ada banyak manfaat untuk ikut organisasi ekstra kampus ini. Di antaranya adalah mahasiswa kita dapat sedikit tercerahkan dari kehidupan hedonisme yang marak menjangkiti anak-anak muda kita sekarang. Mereka yang ikut organ luar kampus ini minimal punya sedikit keresahan pada situasi sosial, politik, budaya, dll yang, sedikit-banyaknya, juga mempengaruhi kehidupan mereka sebagai bagian dari masyarakat. Tapi apakah ini akan bertahan lama, saya pastikan jawabannya tidak. Sebab siapa yang sanggup berlama-lama dengan kejombloan idealisme sendirian?

Maaf, saya memang tidak akan membahas HMI di sini, sebab di tempat lain sudah banyak, dari yang provokatif, meneror sampai membela organisasi yang pernah diketuai Anas Urbaningrum ini setengah mati juga sangat banyak—begitu pula pihak-pihak yang menunggu Anas ke Monas juga ada yang berusaha menengahi pastilah juga ada. Silakan saja cari sendiri.

Tapi tiba-tiba saya teringat kata-kata seorang tua, dan saya kutipkan untuk kalian: “Kalau Masyumi masih ada, kau pasti jadi anggota HMI.” Kata-kata yang barusan keluar itu adalah milik anak seorang simpatisan Masyumi garis keras, yaitu nenek saya. “Sayang, Kakek kau tak lihat kau jadi Mahasiswa.”

Ah, maafkan cucumu, Nenekanda.[]

Tulisan ini tayang di Jurnal Kompatriot, Selasa (8/12/2015)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *