Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Sarjana

2 min read

Kebanyakan mahasiswa saat ini ingin “menamatkan” kuliahnya dengan cepat; bukan “menyelesaikan” kuliahnya dengan tepat.

Dalam wawancara dengan sebuah jurnal, seorang pengajar Sosiologi di salah satu universitas terkemuka di Indonesia berkata, bahwa mahasiswa hari ini tidak lebih dari sekelompok manusia yang kelak akan dicap berpendidikan (yang biasanya lahir dari kalangan menengah ke atas), namun selanjutnya akan terasing dengan dunia luar kampus.

Tapi hal ini, kata dia lagi, tentu tidak berpangkal dari mahasiswa itu sendiri. Dalam arti, kampus tentu juga berperan membentuk watak mahasiswa-nya, hingga mereka kelak merasa teralienasi (terangsingkan; merasa berbeda).

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Seorang dosen sering mengulang-ulang pertanyaan yang sama kepada mahasiswanya: “Untuk apa kamu kuliah?” Dalam tingkat berpikir sederhana, ditambah pengalaman yang tak seberapa, jawaban paling masuk akal (yang biasanya lahir dari mahasiswa semester 4 ke bawah) adalah “untuk mendapatkan ijazah”. Jika pun ada alternatif lain: “untuk membanggakan orangtua.”

Tapi belakangan, kita ternyata juga menemukan jawaban semacam ini lahir dari mahasiswa semester 5 ke atas. Adakah yang salah dengan semua ini?

Ijazah memang diperlukan– mengingat pemetaan keahlian (spesialisasi) dalam dunia kerja kita yang tak pernah jelas. Tapi hal ini pula kemudian yang menjadi ganjalan: apakah dengan ijazah semua akan selesai?

Lantas, untuk siapa pendidikan itu selama ini?

Sementara lapangan pekerjaan yang tersedia (dianggap) tak pernah mencukupi, ribuan sarjana terus dicetak setiap tahunnya, dan dalam konteks ini, pengajar Sosiologi tadi kemudian menyebut kampus sebagai mesin pencetak tenaga yang berijazah.

Betapa riskan membayangkan kampus kemudian dianalogikan sebagai mesin. Ia tentu hanya menghasilkan kesamaan, keserupaan, yang ujung-ujungnya adalah keseragaman pada diri masing-masing individu yang nyaris merata di segala hal, hingga terminologi mahasiswa kemudian tak lebih dari sebuah komoditas.

Kita bisa saksikan bagaimana seorang sarjana menenteng map lamaran pada zaman dahulu, tapi tak pernah terbayangkan jika di zaman ini map tersebut duduk berdampingan di jok depan mobil seseorang yang baru diwisuda sebulan yang lalu. Mengendarai mobil orangtuanya, memarkirnya, lalu masuk ke dalam sebuah kantor ber-AC, diwawancarai kemudian menerima penolakan untuk dapat bekerja di sana–pernahkah kita membayangkan ini semua? Tentu tidak. Tapi sedikit-banyak kita akan menemukannya.

Dalam sebuah perkuliahan, seorang dosen pernah berujar pada mahasiswanya, bahwa mereka yang pantas dihargai adalah mereka yang berkeringat. Sang dosen kemudian memberi contoh, bagaimana seorang sarjana dengan muka berdebu dan pakaian yang hampir lusuh masuk ke dalam sebuah kantor di tengah kota. Sarjana itu, kata sang dosen lagi, telah menempuh sembilan kantor dan ini adalah kesempatan terakhirnya hari ini. Dengan tampilan yang menyedihkan seperti itu, tentu, ujar sang dosen, siapa yang tak akan berempati; siapa yang tak akan tergerak hatinya untuk mengetahui usaha sarjana ini lebih jauh. “Karena Manajer Personalia, atau juga pemilik perusahaan, bukanlah orang bodoh. Mereka pernah miskin, atau setidaknya, pernah menderita. Khusus untuk pihak personalia, mereka terlatih untuk mengenali gestur dan psikologi seseorang,” kata sang dosen.

Dari permisalan di atas, premis yang diberikan sang dosen mendapat pembenaran, bahwa yang berkeringat memang pantas dihargai.

Tapi kita tentu tak akan berhenti sampai pada tataran seperti itu. Terminologi “yang berkeringat” ini mungkin juga dapat bergerak dan mencakup perspektif yang lebih jauh lagi.

Seseorang yang berkeringat kiranya dapat kita asosiasikan pada mereka yang benar-benar berusaha dan berupaya. Bukan hanya pada persoalan mencari kerja, sebagaimana dikemukakan tadi, namun dapat pula dipergunakan pemakaiannya pada masa ketika seseorang kuliah. Sederhananya, apa yang diusahakan (dengan keringatnya sendiri) pada masa perkuliahan dulu, itulah nanti yang akan ia terima di kemudian hari; ketika ia bergelar sarjana.

Tapi yang “berkeringat sendiri” belum dapat pula jadi acuan. Dalam arti, keringat yang dikucurkan hanya demi kepentingan sendiri di masa perkuliahan, ternyata bergerak pada satu kesimpulan: mahasiswa hanya menamatkan kuliahnya, dan hampir-hampir tak menyelesaikan tanggung jawab moralnya pada lingkungan sekitar.

Inilah yang kemudian akan membuat mereka canggung menghadapi dunia luar kampus. Mahasiswa mungkin dapat menenteng satu tas berisi buku dalam sehari penuh, tapi apakah pernah meluangkan waktu menjenguk ceruk-ceruk perkotaan, semisal lingkungan kumuh, yang anak-anak para pemukimnya hampir tak punya bahan bacaan–yang jika pun ada, tapi masih harus disibukkan dengan aktivitas demi menyangga ekonomi keluarga mereka (dengan mengamen, misalnya)?

Jika jawabannya tidak, bagaimana bisa kita mengharapkan manfaat dari seorang yang berpendidikan tapi hampa moralnya? Bukankah kita tak lebih dari komoditas dan barang-barang produksi ketika tak lagi punya empati dan kepekaan meski sedikit saja?

Seringkali mahasiswa akan menjawab, bahwa jenjang perkuliahan yang ditempuhnya ini diperuntukkan bagi orangtuanya. Hal ini benar. Namun perlu dicermati, apakah hal ini pula yang akan memengaruhi perkembangan mental mahasiswa. Sebab, dirinya akan merasa dibebani sebuah tanggung jawab atas dasar biaya.

Mungkin kita perlu berpikir ulang, memperbaiki niat, sekaligus (setidaknya) mulai mengarsir tujuan jangka panjang dari semua jerih dalam aktivitas perkuliahan. Sebab, kebanyakan dari kita memang selalu takut jika keringat yang tercurah tak lekas mendapat ganti yang sepadan; sementara usaha yang kita lakukan, pun senyatanya masih terlalu semenjana.

Di titik inilah kita sering sudah merasa, juga menduga, diri telah menjadi sesuatu yang akan berguna. Padahal, sebaliknya, kita belum, dan bahkan tak pernah, melakukan apa-apa ….[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *