Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Rupiah Baru dan Sentimen yang Tak Menentu

2 min read

Sentimen pribumi terhadap etnis Tionghoa (atau yang biasa dikategorikan Cina) kian menggelora belakangan ini. Semuanya hadir dan berkembang lewat beragam isu; orang-orang dekat Presiden Joko Widodo (Jokowi), utang pemerintah Republik Indonesia (RI) kepada Republik Rakyat Cina (RRC), tenaga kerja asing (TKA) yang marak di Indonesia terutama dari Cina, dan terakhir —yang menggemparkan— soal mata uang alias Rupiah seri terbaru.

Soal uang baru tersebut, terlebih lagi di Facebook dan media sosial lainnya, juga di pelbagai situs berita, memang menjadi isu primadona. Para wartawan sibuk menulis dan verifikasi sana-sini untuk memastikan kebenaran kabar tersebut plus mendulang berita, tentunya. Tak ayal, perhatian publik sempat tercurah sepersekian masa kepada polemik atas lembaran kertas berharga tersebut.

Namun, sayang, ketika perdebatan soal Rupiah yang dikata mirip dengan Yuan (mata uang Cina) itu selesai, perdebatan belum sepenuhnya usai. Sebab, ada pula polemik soal Cut Nyak Meutia yang tak berhijab dan apa jasa Frans Kaisiepo —pahlawan di pecahan Rp10.000 baru— hingga tiba-tiba masuk ke dalam pilihan pemerintah di dalam uang seri terbaru bikinan mereka.

Adapun soal hijab Cut Meutia, klarifikasi datang dari banyak arah. Yang paling mengena, tentu, dari cucunya; Dara Meutia. Namun, setelah sebuah artikel yang ditulis Dara itu diturunkan, suasana pun mulai kondusif kembali.

Jauh sebelum Cut Meutia, pahlawan perempuan dari Aceh lainnya, Cut Nyak Dhien, juga pernah mengalami hal serupa. Saat itu, yang menjadi polemik adalah otentifikasi dari foto Cut Nyak Dhien —yang juga pernah tercetak di lembar Rupiah— mulai diperdebatkan. Pasalnya, sebuah foto yang menunjukkan bahwa istri Teuku Umar itu mengenakan hijab (atau kerudung) santer beredar. Sontak, publik kaget.

Sebagaimana diketahui selama ini, Cut Nyak Dhien tidak berhijab, termasuk gambar dan foto yang beredar di buku pelajaran (sosial dan sejarah) selama ini.

Tak lama, sebuah foto dari abad 20 menjadi viral. Di foto tersebut, Cut Nyak Dhien tampak menunduk. Menariknya, ia tak mengenakan hijab kala itu. Keterangan pada foto itu menyebut bahwa gambar Cut Nyak Dhien yang tampak dikelilingi oleh beberapa pria tersebut diambil ketika perempuan kelahiran 1848 itu dalam masa pengasingan di Sumedang. Sebelumnya, Cut Nyak Dhien ditangkap oleh Belanda.

Akan tetapi, perdebatan itu pun tak selesai dan Cut Nyak Dhien, bagi sebagian kalangan konservatif, tetap dianggap berhijab. Terkait hal itu, jawabannya relatif dan perlu pembuktian lewat serangkaian penelitian sejarah. Namun, yang menjadi perhatian kita bersama tentu saja soal pertarungan wacana atas nama agama. Pasalnya, bagi kalangan Islam-konservatif, sosok Cut Nyak Dhien memang perlu dihidupkan untuk mengatasi hegemoni kelompok sekuler yang dianggap terlalu memuja seorang RA Kartini sebagai gambaran perempuan yang utuh.

Jika mau sedikit lebih terbuka, kita pun akan bersua sosok pahlawan perempuan asal Aceh lainnya, yakni Ratu Inayat Zakiatuddin Syah yang juga tak berhijab, sebagaimana Cut Nyak Dhien.

Tapi, sentimen yang lebih besar datang ketika Frans Kaisiepo hadir di lembaran Rupiah baru. Setidaknya, perhatian publik tercurah kepada pria kelahiran Pulau Biak, 10 Oktober 1921 tersebut karena dua hal. Pertama, sosok. Di Indonesia, mau tak mau dan suka tak suka, pasca-merdeka 1945, persoalan rasial hingga saat ini masih membelenggu Republik terutama soal warna kulit.

Orang Timur, begitu kita menyebutnya, sering diidentikkan sebagai mereka yang berkulit gelap dan berambut keriting. Permasalahannya, definisi yang membelenggu kita sejak lama itu pula yang mengakibatkan sentimen atas nama rasial itu melembaga. Padahal, aspek teritorial semestinya ikut melebur ketika Presiden Soekarno meneguhkan janji bahwa negeri ini merupakan satu kesatuan atau nation; nasional. Sayang, perjuangan mengikis sentimen atas nama rasial itu memang tak mudah.

Adapun yang kedua, persoalan jasa Frans Kaisiepo terhadap Indonesia. Sangat disayangkan, memang, bila suara Papua yang “parau” belakangan ini ternyata merupakan gema dari masa lampau. Masyarakat Papua yang seharusnya punya hak penuh atas bumi, air, udara alih-alih harga diri mereka, memang terluka sejak lama. Hal itu pula yang mengakibatkan tokoh sekelas Frans Kaisiepo dengan entengnya dihina oleh segerombolan manusia kurang akal yang bergentayangan di media sosial.

Semestinya, polemik tersebut memberi satu gambaran baru bahwa sistem pengajaran mata pelajaran Sejarah di sekolah-sekolah kita mesti diubah. Artinya, tokoh-tokoh sejarah mesti mendapat porsi yang seimbang dalam pembicaraan soal proses dan titik balik kemerdekaan Indonesia. Kemudian juga perlu: pengajaran mata pelajaran Sejarah di kelas-kelas jangan lagi bertumpu kepada narasi dan hafalan belaka. Sebab, ada hal-hal yang mesti digali dari Sejarah, semisal bagaimana menempatkan kearifan seorang tokoh sejarah dalam kehidupan sehari-hari, betapa pentingnya menggali karakter kebangsaan dari sosok-sosok yang berjuang untuk negeri ini tanpa pamrih, dan lain-lain.

Pasalnya, dua dekade dari sini, kita tak bisa membayangkan apa jadinya negeri ini jika para murid dan siswa di sekolah-sekolah saat ini kehilangan rasa hormat kepada para pahlawan, dan dengan pemikiran yang sempit, mereka merasa tak bersalah untuk menghakimi orang-orang yang berbeda pandangan dengannya hanya karena sosok pahlawan yang diidamkan —dalam wacana kesalehan— tak mereka temukan.

Padahal, negeri ini butuh pahlawan-pahlawan baru, yang “bersendiri”, dan tak bergerombol, apalagi kurang akal.[]

Tulisan ini tayang di Suarabuku.com, Ahad (15 Januari 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *