Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Rihat

1 min read

Ada yang sengaja rihat karena ia memang penat. Tapi ada juga yang memaksakan dirinya rihat sebab ia tak tahu ke mana lagi akan “merapat”.

Jika hidup adalah samudra maka boleh jadi perempuan dermaganya. Tapi lelaki, sebagai penjelajah samudra, tak bisa seenaknya merapatkan perahu, pun kapal yang dinakhodainya.

Dalam satu kesempatan Buya Hamka menafsirkan perempuan menjadi per-empu-an, yang artinya, menurut beliau, adalah tempat bersandar. Penulis novel fenomenal Tenggelamnya Kapal Van der Wijk itu sejatinya menganalogikan perempuan ibarat sebatang pohon. Namun, lebih jauh, kiranya dapat pula diartikan sebagai dermaga, sebagai tempat berlabuh.

Selalu ada keriuhan di dermaga, meski kita tahu, pada malam hari suasana lengang yang akan menyelimutinya. Ketika kapal-kapal penuh tangkapan mengunggah hasilnya di sana, ada yang hampir luput ditafsirkan mata: adakah dermaga atau pelabuhan lain yang disinggahi para nelayan ini sebelumnya.

Barangkali hanya bekas gesekan, kumparan tambang, atau air muka para nakhoda yang bisa menjelaskan itu semua.

Lalu kita ibaratkan laku bersandar-berlabuh tadi dengan cinta. Ada pertanyaan penting sekaligus genting yang kerap ditanyakan pada para nakhoda asmara:

“Kapan terakhir kali kamu berpacaran.”

“Tiga tahun yang lalu.”

“Mengapa masih betah menyendiri hingga sekarang?”

“Lebih baik sendiri dulu. Aku ingin rihat.”

Tapi adakah yang bisa rihat di laut? Yang tahan diguncang ombak tiga tahun tanpa pernah bersua daratan?

Jawabnya hanya dua: mereka yang tak mau kembali ke darat, atau, mereka yang tersesat.

Memang, kita tahu, tak mutlak rasanya kembali ke darat melewati dermaga: kapal bisa langsung menjangkau bibir pantai tanpa mesti melabuhkan diri ke riuhnya pelabuhan.

Tapi bukankah ada yang hilang di sana: kenyataan bahwa kita hanya terapung-apung dalam ketakpastian? Tak lebih menyedihkan-kah itu ketimbang hanyutnya kelapa Karibia hingga sampai ke Indonesia untuk waktu yang lama?

Laki-laki melihat dirinya sebagai nakhoda: ia bebas, meski ia kesepian. Perempuan menemukan dirinya sebagai dermaga: ia riuh, tapi terselangkupi kesepian. Pada keduanya kita temukan temali waktu itu: mereka akan bertemu, namun jelas, bukan dermaga yang menjangkau kapal-kapal yang tengah berlayar, melainkan sebaliknya.

Menyimak laku seorang nakhoda yang seolah-olah khusyuk melayari luas lautan, adakalanya menimbulkan kesan bahwa sang nakhoda memang hampir-hampir menafikan peran daratan. Maka, sebagai dermaga, sang wanita tentu takjub, juga luka: ia tak tahu apa yang tengah dicari sang nakhoda di ujung sana, meski ia tahu ia juga tak layak meminta disinggahi, dirapati, dilabuhi. Namun dari kejauhan itu pula, ia boleh menduga kiranya jika sang nakhoda memang tak berani merapatkan diri ke sana–alih-alih memutuskan menetap selamanya.

Tapi selalu ada kemungkinan, dan kita boleh saja beranggapan: sang nakhoda, yang tampak gagah membelah samudra, ternyata menganggap laut sebagai tempat pelarian. Meski, parahnya, ia tak tahu siapa kiranya, dermaga mana rupanya, yang tengah ia rindukan, yang pernah ia kenang sebagai pelabuhan.

Kiranya, sang nakhoda hanya bermain-main dengan perasaan, untuk mengulur waktu dan kemungkinan baru yang kerap ia cemaskan: dermaga yang lapang membuka diri untuk kapal-kapal yang memang letih berlayar sendiri.

Di ujung senja yang akan karam lagi, dermaga menanti, kembali, hanya menanti. Sebab sang nakhoda masih berjuang menantang seperhempasan ombak, berikut segulung sepi.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *