Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Rendah Hati

1 min read

Semua membicarakan Tere Liye: mencela hingga memuji, akibat status panjangnya soal komunisme. Dia kemudian bikin klarifikasi. Tapi orang-orang telanjur marah dan dia, berikut pernyataannya, sekali lagi, jadi bahan pergunjingan, olok-olokan.

Seolah-olah tak mati akal, keduanya, antara pencela dan Tere Liye sendiri, terus bermanuver. Perang opini, debat kusir, hingga intimidasi terus saja bergulir.

Persoalan ini kiranya semakin menunjukkan indikasi itu: ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, hingga orang-orang bisa, dan bisa-bisanya, menganggap dan mendaku dirinya sebagai “penulis” tanpa sedikit mau bersusah-susah untuk memastikan kebenaran alias verifikasi.

Sementara kita tahu, semua orang yang mendaku dirinya penulis, hampir mampus memperjuangkan gagasannya di lapangan kebudayaan, dan mereka memegang satu hal: sifat (dan sikap) rendah hati.

Sebab tanpa itu, sia-sia saja segala laku insomnia yang dilakoni demi berlembar-berlembar tulisan yang sudahlah belum tentu dibaca, pun lagi laku, di negeri yang “banyak tabunya” ini.

Tapi ahli sejarah memang tak perlu menjelaskan panjang-lebar soal eksistensi orang-orang komunis dalam perjuangan kemerdekaan jika hanya ingin menyanggah kekeliruan Tere Liye itu. Dan para pencela juga tak perlu bertungkus-lumus untuk menunjukkan di mana letak kekeliruan tuan pengarang itu.

Sebab akhirnya, ketika orang-orang membaca dan mendaras pikiran Marxis-Komunis di negeri ini, selalu ada orang-orang seperti Tere Liye: yang berpikir bahwa gagasan, apa saja bentuknya, mesti diperjuangkan. Padahal tak selamanya, malah terkadang, ia hanya dianggap sebagai refleksi.

Maka teramat naif rasanya jika karena membaca sebuah pikiran yang tertuang di buku, lalu menyorakkannya kepada orang ramai, lantas dianggap sebagai penjaja satu ideologi, semisal Marxis.

Satu hal yang pasti: kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan Tere Liye meski apa yang dikatakannya itu telanjur melukai orang-orang dan pihak-pihak yang memang tahu dan mengerti perihal kebenaran itu.

Sebab Tere Liye adalah Tere Liye itu sendiri. Semoga lain kali, ia lebih rajin untuk verifikasi dan lebih telaten untuk bikin klarifikasi agar orang-orang mengerti bahwa meski buku dan gagasanmu terpajang di rak-rak toko buku bergengsi, kerendahan hati mutlak hanya ada di dirimu, dalam hati dan kepalamu.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *