Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Rembang

2 min read

“Jokowi lali!” teriak Mike dan ibu-ibu Rembang dalam sebuah aksi demonstrasi.

Bersama Marjinal, band yang digawanginya dengan Bob Oi, juga ditemani rekan-rekan punker’s dan aktivis lingkungan, Mike duduk di tenda ibu-ibu Rembang yang menolak pendirian pabrik semen di wilayahnya. Mike tersenyum, tapi terenyuh. Ia tahu: perjuangan yang melibatkan perempuan sudah jarang terjadi di Indonesia. Kecuali aksi Kamisan depan Istana Presiden itu, yang berisikan mantan orang-orang yang di-PKI-kan, seperti anggota Gerwani, BTI, dll., perjuangan yang melibatkan perempuan kini memang nyaris tak terdengar gaungnya.

Perempuan hari ini memang terus berpikir tentang masa depannya, tapi itu perihal masa depannya sendiri–nyaris bukan soal kemaslahatan orang ramai–semisal lipstik apa yang akan dipoleskan ke bibir ketika pacar tiba menjemput; setebal apa bedak bakal dipupurkan ke muka ketika sebuah perusahaan berniat merekrutnya; atau juga soal kepantasan busana yang akan dikenakan untuk menghadapi calon mertua. Mereka lupa: kecantikan lahir dari kedalaman jiwa; bukan paras ayu yang direka-reka sedemikian rupa.

Kecantikan itu sederhana; tapi banyak perempuan telanjur tersesat dalam rimba kosmetika. Kecantikan itu ada; tapi tidak mengada-ada.

Debu naik ke udara, bercampur deru mobil pengangkut material dan logistik untuk pembangunan pabrik semen di Rembang itu. Mike masih di sana setelah Marjinal naik panggung. “Kartini-kartini rembang pasti menang!” begitu teriak Mike dan personel Marjinal lainnya. Teriakan yang juga jadi judul lagu mereka sebagai bentuk dukungan pada perempuan-perempuan Rembang yang perkasa ini.

Saya tak menemukan adegan segerombolan anak punk datang memberi dukungan seperti ini di film Samin Vs Semen (2015). Tentu saja. Mike datang ke sana sekira bulan April tahun lalu. Sementara film itu dirilis sebulan sebelumnya; di tahun yang sama. Tapi itu sudah cukup menjelaskan jika punk bukan organisasi para pengamen yang sering terlihat di lampu merah di banyak kota. Punk adalah gerakan; gerakan yang melawan.

Tapi film berdurasi 39 menit 25 detik itu menampilkan Melanie Subono. Selebritis yang mulai concern dengan dunia aktivis ini tak kuasa menahan keharuannya. “Ketika kami, perempuan kota, masih sibuk dengan spa, wifi, dll., ibu-ibu di sini sibuk mikirin masa depan generasinya.” Begitu kata Melanie.

Melanie tentu hanya satu dari sekian banyak perempuan lain yang bersimpati pada aksi semacam itu. Sebelumnya, dukungan dari sesama perempuan sudah mengalir ke Rembang. Mulai dari aktivis dan pegiat lingkungan, hingga akademisi. Semuanya perempuan; semuanya tak ingin direndahkan.

Laki-laki sangat rentan untuk merendahkan martabat perempuan. Tapi di Rembang, ibu-ibu ini bergerak lebih jauh: mereka diinjak kaum pemodal dan korporasi. Ibu-ibu yang tinggal di kawasan bukit kapur Rembang dan Pati ini menuntut rencana pembangunan pabrik semen itu dihentikan. Hanya itu. Mereka tak meminta kompensasi dan lain-lainnya. Mereka tak minta disejajarkan, apalagi dipuja kodrat keperempuanannya sebagaimana marak terjadi di kota-kota. Mereka hanya ingin ekosistem tetap terjaga sebab anak-anak mereka akan tumbuh besar suatu hari. Mulia sekali; sederhana.

Kecantikan memang lahir dari alam; bukan dari sapuan kosmetik ke wajah yang dihasilkan perusahaan perusak alam. Ibu-ibu Rembang telah membuktikannya. Tanpa alas kaki, memakai caping (sebagai simbol petani) dan keringat yang tentu semerbak di udara, lelaki mana yang tak akan berdecak kasmaran menemukan perempuan segigih mereka. “Demi anak-anak.” Demikian mereka berujar.

Perempuan bisa kelihatan cantik ketika duduk minum kopi atau merokok; tapi duduk di tenda dan melakukan perlawanan atas hak yang dirampas, hanya akan meruntuhkan imaji kecantikan dari perempuan yang duduk di kedai kopi, sedang merokok atau menelan sepotong cake di kafe tengah kota tadi.

Kecantikan adalah ricik mata air, bukan air mata. Ia lembut mengalir tapi tak terpaksa. Dari situ lelaki membasuh wajah dan tubuhnya. Perempuan Rembang lebih lagi: mereka embun pagi yang bergulir lembut di ujung daun ketika deru traktor hendak menghancurkan kemurnian hutan Jawa.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *