Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Refleksi

1 min read

Sebaik-baik tulisan pasti berisi, atau berupa, refleksi. Tapi jika tidak, ia hanya “repetisi”.

Tapi repetisi, perulangan, terkadang juga perlu. Sebab, setidaknya, ia akan menunjukkan bahwa (meminjam beberapa istilah Goenawan Mohamad dalam Pagi dan Hal-hal yang Dipungut Kembali) para pengekor itu selalu ada, para penilep (kesempatan) akan menunjukkan dirinya, dan para pembaca “yang semenjana” itu tengah berada di antara kita.

Banyak tulisan, baik di media cetak maupun online, akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan itu, mulai dari opini, surat terbuka, esai–konon lagi status di media sosial, yang dirangkai sedemikian rupa untuk menyamai ketiganya. Ketika seorang penulis sekaliber Tere Liye membuat sebuah blunder beberapa waktu yang lalu, misalnya, kita akan menemui mereka: para pengekor, penilep, dan pembaca “yang semenjana” itu dengan watak yang kurang terasuh, logika yang tak terasah, juga pengalaman yang “sekadarnya” ikut berkomentar dan turut memberi “pandangan” atas “polemik” tersebut.

Setidaknya, dalam kategori esai, opini dan/atau surat terbuka, saya mengumpulkan sekira 7 hingga 8 tulisan yang punya keseragaman aksentuasi–alih-alih memiliki, dan memberi, nilai lebih–dari “polemik” yang terjadi antara Tere Liye dan “para pencela” status (dan cara berpikir?) dari penulis yang, semoga saya tak salah mengutipnya, telah menelurkan 24 karya (berupa buku) itu.

Diselisik dari sudut mana pun, hal ini hanya akan mengingatkan saya pada kutipan Zen RS (dalam redaksi bahasa saya): “Dalam kondisi turunnya minat baca seperti sekarang ini, budaya berkomentar semakin beroleh tempat.” Sebab, dalam sebuah “polemik” selalu ada orang-orang dan/atau pihak-pihak yang tertarik (untuk ikut di dalamnya) meski kita tahu ia, dan apa yang disuarakannya itu, tak akan jadi menarik.

Tapi kita patut pula bangga pada mereka. Di tengah keterbukaan informasi saat ini, bukankah masih ada orang-orang yang berusaha menutupi dirinya dari pengaruh luar; dari kendali media sosial? Bukan karena takut mengumbar privasi, orang-orang semacam ini hanya takut jika apa yang ia lakukan nanti akan membuat harga dirinya sedikit merosot. Jika ia berpandangan, misalnya, yang ia takutkan bukan cemooh yang akan memenuhi kolom komentar, melainkan lebih kepada berkurangnya pengaruh–atau dalam bahasa sederhana: hilang pengikut.

Orang-orang semacam inilah yang menurut saya lebih berbahaya di dunia maya: mereka yang tak menampakkan dirinya–apalagi pandangannya–tapi merasa selalu mewakili pemikiran orang-orang yang aktif di sana–jika pikiran itu dianggap benar akhirnya; orang-orang yang “sedikit-sedikit komentar, tetapi saat diminta menjabarkannya, mereka malah menghindar”.

Di dunia yang sumpek seperti sekarang ini, jumlah mereka lebih banyak dari buku yang dicetak tiap tahun. Mereka pun lebih dekat dari urat leher kita, karena, tanpa terasa, mereka ada dalam hati dan jiwa kita: orang-orang terdekat kita.

Tapi tulisan tetap akan jadi tulisan: ia pasti refleksi, saat ucapan menemui takdirnya sendiri, yakni dilupakan. Itu sebabnya kita suka pada tulisan yang terhimpun, bukan pada “kata-kata bijak”–meski datangnya bersibantun ….[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *