Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Puisi dan Gagasan yang Mengkhawatirkan Itu

5 min read

Dalam esainya (Riau Pos, 17 Januari 2016), Alpha Hambally menukil sejumlah puisi yang menurutnya memiliki muatan dan bernilai sejarah. Banyak nama dihadirkan Alpha untuk mendukung gagasannya itu; bahwa puisi yang bertemakan sejarah “…seperti semen di antara batu-batu bata, sebagai perekat pertanyaan-pertanyaan yang akan tersusun menjadi sebuah bangunan…,”. Meski ia tekankan, “…tapi saya belum tahu apakah bangunan itu nantinya kokoh atau malah runtuh…,” tapi dengan sejumlah nama serta nukilan puisi mereka, saya menemukan beberapa gagasan dan sejumlah perspektif dalam pembacaan Alpha atas sejumlah puisi bertema sejarah tersebut, di antaranya postkolonialisme dan pascakolonialisme. Keduanya, saya kira, sangat relevan untuk menggambarkan bagaimana situasi sejarah (Indonesia) dengan dua sudut pandang: pelaku (penjajah) dan korban (terjajah).

Nama-nama seperti Thamrin (pada puisi Esha Tegar Putra), Tan Malaka (pada puisi Ahda Imran), Kartosuwiryo (pada puisi Triyanto Triwikromo), dll., yang dikutip Alpha, sudah barang tentu dimaksudkan untuk menarik satu garis tegas dan jelas, bahwa puisi bertema sejarah tidak bisa dilepaskan dari narasi-narasi kesejarahan yang juga memuat biografi para pelaku (juga saksi) sejarah yang akan mendukung tegaknya suatu bangunan puisi yang menggunakan sejarah sebagai tema utamanya.

Namun kemudian, ketika sampai di ujung esai itu, Alpha menurunkan satu pernyataan sekaligus pertanyaan penting yang kiranya perlu dijawab bersama. Ia menulis, “…Namun setelah beberapa waktu lalu Norman Pasaribu menjadi Juara 1 Lomba Cipta Puisi yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dengan membawa tema homoseksual, saya sedikit ragu apakah tema-tema sejarah masih akan bertahan beberapa tahun ke depan, dan diminati penyair-penyair muda. Di mana karya sastra menurut saya adalah cerminan bangsa, apa yang bisa kita bawa dan ceritakan ke dunia. Selain sejarah mungkin penyair bisa menggali tema lokal, kuliner, dll…,” hingga ia melontarkan pertanyaan itu, “…Karena apabila puisi seperti Norman Erikson diterjemahkan, lalu dibaca oleh seorang sastrawan luar, kira-kira menurut Anda, apa yang akan dikatakan seorang sastrawan luar tersebut?”

Sampai di sini, kekhawatiran Alpha, bagi saya, jelas adalah kekhawatiran yang berdasar — jika argumennya disebabkan aspek ketimuran yang jelas-jelas dijunjung negeri ini yang bahkan jauh sebelum Indonesia ada telah terhimpun dalam status sebagai negara. Namun sampai pada akhir pertanyaannya yang menyebutkan secara terang, bahwa jika pembaca karya dari Norman (dalam hal ini manuskripnya, yaitu Sergius Mencari Bacchus [2015]) kemudian adalah sastrawan luar, beberapa pertanyaan baru yang mengemuka di hadapan kita: Apakah para sastrawan luar, terlepas dari tema yang digarapnya bertendensi sejarah atau tidak, akan menghadapi “gangguan” dalam pembacaannya nanti atas puisi-puisi dengan tema homoseksual yang digagas Norman pada puisi-puisinya sebagaimana yang ditakutkan Alpha? Bukankah dengan kultur kebebasan yang marak dan kerap dianut di luar negeri sana malah menjadikan puisi-puisi dengan tema demikian dapat diterima tanpa cela? Bukankah tema yang digarap Norman ini adalah isu yang sedang menemukan pembela(an) di luar negeri sana? Lantas, sastrawan luar negeri mana yang sedang dikhawatirkan Alpha jika harus “memandang Indonesia” dari puisi-puisi Norman nantinya?

***

Membaca puisi bertemakan sejarah sejatinya memang seperti yang disebutkan Alpha. Sebab, jika potongan-potongan peristiwa sejarah adalah batu-batu bata dengan puisi (yang dengan kekhasannya mengungkap dan memberi warna serta nilai lain dari sebuah narasi yang umum diterima dan dilembagakan) adalah semen yang (diharapkan) mampu menguatkannya, fungsi dan guna puisi dituliskan itu akan tercapai — terlepas dari kekuatan puisi yang dituliskan itu.

Namun, mempersoalkan tema yang diusung Norman kiranya memang terasa paradoksal. Di satu sisi, apa yang tengah diupayakan Norman dengan tema semacam itu memang dianggap sangat mengkhawatirkan. Dalam budaya masyarakat Indonesia yang (sejatinya) hidup dengan budaya permisif, hal-hal yang dianggap kontra dengan adab dan moral yang melembaga di masyarakat kita hanya akan menjadikan tema semisal yang dijunjung Norman itu, kelak, memancing kehadiran kaum konservatif untuk unjuk muka, pasang badan, dan angkat bicara. Meski, di sisi lain, bagi selentir jiwa yang memang mengharapkan keran kebebasan itu dibuka (terutama perihal orientasi seksual yang masih tabu diungkap-dibicarakan hingga hari ini), mereka akan bertepuk-sorak menemukan karya sejenis ini mendapat tempat dalam dunia sastra (Indonesia) yang sering disebut sebagai cerminan dari kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa.

Tapi, sepanjang perjalanan sastra Indonesia dewasa ini, kita sejatinya telah menemukan dan menyaksikan bagaimana karya-karya yang hendak membongkar ketabuan selalu berakhir dengan nahas, dengan tragis. Sebutlah para pengarang perempuan yang kerap dilabeli sebagai generasi “Sastrawangi” yang diisi oleh nama-nama seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu yang dalam pandangan sastrawan Taufik Ismail disebut-sebut sebagai pengusung Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) dan karya-karya mereka disebut sebagai Fiksi Alat Kelamin (FAK) dalam pidato kebudayaan yang dibacakannya itu. Meski pembelaan (dari kaum pembela, tentunya) bermunculan atas pernyataan dan tulisan Taufik Ismail yang kemudian menimbulkan polemik, namun satu hal yang pasti kemudian adalah pandangan (berupa sinisme) dari Taufik Ismail telanjur sampai ke hadapan khalayak sastra Indonesia di masa itu. Pandangan itu pula yang kemudian menjadi pijakan bagi kalangan konservatif yang tak bersetuju dengan karya-karya mereka maupun yang kelak serupa (dari para epigon) untuk mengatakan dan mendakwa, bahwa karya semacam itu hanyalah bagian dari kesia-siaan — sebab dianggap menyalahi norma dan oleh karena itu tercela.

Lantas, karya serupa (dalam upaya membongkar ketabuan) bukankah juga datang dari penyair jebolan pesantren yang puisi-puisinya dianggap “membelakangi tembok” dari lembaga yang mengasuhnya selama ini. Sang penyair, Binhad Nurohmat, bahkan tak hanya sekali melakukan rekonstruksi atas nilai-nilai yang dianggap tabu tadi. Setelah Kuda Ranjang (2004) yang peluncurannya menimbulkan polemik (hingga penyedia buku puisi itu mesti menarik bukunya dari rak-rak di toko-toko mereka), si penyair yang seolah tak jera dicap banal malah meluncurkan kumpulan puisi yang tak kalah sensasional, yaitu Bau Betina (2007). Tapi, menariknya, bukankah seorang pemerhati sastra dari Australia bernama Marshall Clark kemudian malah tertarik dengan tema puisi-puisi Binhad dalam Kuda Ranjang hingga menerjemahkannya ke bahasa Inggris, yaitu The Bed Horse (2008)?

Dalam kasus Binhad kita mungkin bisa berargumen, bahwa khalayak yang mengapresiasi puisi-puisi dengan hal-hal yang berbau kontroversi ini bukan dari kalangan sastrawan. Namun, bukankah dengan status Marshall yang peneliti sastra Indonesia itu karya Binhad sejatinya telah menarik perhatian luar negeri?

Tapi ini pula kiranya yang menurut saya mesti benar-benar diperhatikan, yaitu perihal dorongan sebuah karya ditulis, apa manfaatnya, hingga sejauh mana karya tersebut memengaruhi pembaca. Begitu pula dalam memandang tema yang kini diusung Norman. Sebab kita tahu, bagaimanapun sebuah karya mesti memiliki gagasan, hingga (dalam konteks puisi Norman) kita mesti mencari di mana letak gagasan itu dan sejauh mana memengaruhi perkembangan zaman dan peradaban, pun lagi bicara soal keterwakilan dari sebuah karya — alih-alih bicara makna.

***

Sebuah karya (dalam hal ini puisi) yang ditulis oleh seorang pengarang tentu tidak akan bergerak jauh dari pengalaman-pengalaman si pembuat karya, si pengarang. Meski, misalnya, seorang pengarang menakik tema dan gagasan bagi karyanya dari hal-hal yang telah lampau, telah berlalu, juga jauh (sejarah), bukankah tilas-tilas laku pribadinya akan tercermin-tertuang dalam karyanya—dalam hal ini, si pengarang menjadikan tokoh dalam karyanya sebagai alter ego dirinya berikut pengalamannya—yang hadir ke pembaca?

Para pengarang mungkin akan mengulang-ulang istilah terkenal, bahwa “pengarang telah mati” (The Death of Author) dari Roland Barthes untuk mengelak dari tuduhan jika ia (sebagai pengarang) adalah yang paling bertanggung jawab atas karya, berikut gagasannya. Tapi hal ini kemudian sering terdengar taksa — terlebih jika hanya menggunakan satu telinga. Sebab, apa yang coba diungkap Barthes lewat istilahnya itu lebih kepada persoalan teks yang telah sampai ke khalayak ramai, sehingga ia tak perlu, dan tak mungkin, dibela. Sebegitu paranoia-kah para pengarang bila para pembaca tunjuk hidung kepadanya atas apa yang ia baca; terlebih jika itu sesuatu yang tabu baginya, baik secara kultur dan hal-hal lainnya? Saya kira, seluruh pengarang akan sepakat menjawab tidak atau tidak menjawab dan kemudian berusaha mengatasinya.

Tapi apa yang terjadi pada Allen Ginsberg di Amerika Serikat dahulu itu kiranya memang menjadi pelajaran bagi para pengarang dalam menghasilkan karya-karya yang mengatasnamakan karyanya sebagai sebuah upaya menyingkap ketabuan; mendaku dirinya. Allen, yang merupakan pelopor dari “Generasi Beat” di Amerika Serikat itu, kemudian harus “merelakan” namanya disebut-sebut dalam persidangan atas buku puisinya yang kontroversial, Howl (1956). Ia disangkakan sebagai seorang yang tak memiliki norma ditambah berbagai tuduhan keji lainnya. Puisi-puisinya yang banyak berkisah seputar bobroknya generasi Amerika pasca perang dunia kedua itu dianggap telah menyebarkan virus kesesatan dan lebih jauh, merusak moral bangsa (lewat gagasan homoseksual yang diusungnya).

Sebagai sebuah puisi, yang menurut Alpha tadi akan mencerminkan bagaimana karakter sebuah bangsa, puisi Allen di masa itu dituding sangat provokatif dalam kaitannya dengan demoralisasi generasi muda, dalam kaitannya dengan keberadaban sebuah karya. Meski, ia tetap punya pembela, tapi ia riskan. Dalam film dokumenter tentang dirinya —dengan judul yang sama dengan buku puisinya, Howl (2010), ia bahkan menyingkap ketabuan itu dengan membuat pengakuan: ia jatuh cinta— spesifiknya pada sesama jenis; ia kemudian dianggap menyuarakan tema homoseksualitas dengan gamblang di Amerika Serikat.

Serupa tapi tak sama, kita teringat pada Arthur Rimbaud yang dalam konteks percintaan sesama jenis itu, menjalin hubungan dengan sesama penyair Prancis, Paul Verlaine. Terlepas dari kebenaran narasi atas biografi Rimbaud dalam film Total Eclipse (1995), di bawah peran seorang Leonardo DiCaprio tersebut, karya-karya yang dihasilkannya memang terasa melampui zamannya—meski tanpa tendensi dorongan seksual (terbesar) yang didesakkan ke dalamnya. (Rimbaud, melalui peran Leonardo, bahkan mengatakan ia mulai menafikan arti dan hakikat cinta.) Sementara itu, kita tak tahu seberapa jauh puisi-puisi Norman nantinya: apakah akan dipengaruhi para pendahulu, dan memengaruhi kita nantinya, sebagai pembaca; apakah tema homoseksual itu dibangun dengan dorongan seksual atau malah mementalkan seluruh argumen yang kerap meragukannya sebagai salah satu pelopor dalam hal tema, sebagaimana yang dituliskan para dewan juri Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2015 yang lalu itu sebagai bentuk pertanggungjawaban. Kita tunggu saja…[]

Tulisan ini tayang di halaman “Esai” Riau Pos, Ahad (27/3/2016)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *