Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pramuria

3 min read

Barbara hanya pramuria; Barbara bukan Wanita Tuna Susila.

Perempuan paruh baya itu keluar dari dalam “kafe”. Ruang itu kecil saja–persis seperti rumah kontrakan tanpa kamar yang berada di pinggiran kota. Sebuah kaca tembus pandang di bagian depannya menggantikan peran jendela. Di antara debu-debu yang menempel di sana, belasan botol minuman beralkohol pelbagai merek berjejer rapi. Semerbak bau parfum tercium di udara: perempuan itu kelihatannya baru saja selesai mandi.

Para pengunjung mengenalnya sebagai Lina. Umurnya berkisar 30 tahun ke atas. Baju yang ketat dipadu celana jeans–tak kalah ketatnya–sebagai bawahan.

Begitulah penampilan Lina malam itu. Lipstiknya tebal–tapi bedaknya tak terlampau menor. Sesekali ia kecilkan volume speaker yang bergema dari kedainya: musik dangdut koplo dan remix dari kaset bajakan yang tersedia di tiap simpang jalan.

Tapi Lina tak sendiri di sana. Sekira enam hingga tujuh kedai berderet rapi ke sisi kanan; kafe Lina yang paling ujung. Ia juga punya tiga anak buah. Mereka menyebutnya marka; pengantar minuman. Tapi menurut istilah, mereka dinamai pramuria, dan para gadis yang bekerja di tempat Lina tersebut belum datang malam itu.

Perempuan lain keluar dari kafe sebelah–dua rumah dari tempat Lina. Mengenakan tank top kuning, ia berjalan tergopoh-gopoh dengan sepatu hak tinggi yang kelihatan kurang nyaman ia kenakan. Roknya pendek; setengah paha. Betisnya yang tak terlalu kecil (untuk usia dan ukuran tubuhnya), melenggang dengan irama yang tak santai; meski wajahnya tak letih.

Barbara putus sekolah; tapi Barbara tak putus asa.

Malam itu saya tak duduk di kafe Lina, sebagaimana biasa. Saya duduk di kafe tempat perempuan itu keluar–dan bekerja. Dengan langkah tertatih ia sampai akhirnya ke meja saya. Terbata-bata ia menyebutkan merek minuman yang barangkali baru selesai dihapalnya tadi.

“Mau Cointreau, Bang? Apa sepasang?”

“Kalau es jeruk ada?”

“Maaf, Bang, ini bar. Bukan kafetaria.”

“Hahaha. Saya pesan kopi saja. Nanti pesan minum.”

Tanpa bertanya lagi, ia masuk ke dalam, memberi isyarat dan berbincang sebentar, lalu keluar lagi mendatangi saya. “Sebentar lagi tiba,” katanya pelan. “Abang tunggu saja, ya.”

Saya mengangguk, dan ia duduk. Tepat bersebelahan. Saya bisa mencium jelas bau parfumnya; menghitung berapa banyak tali yang melilit punggungnya; atau menawarinya rokok saat itu juga dengan jarak sedekat ini. Tapi belum lagi selesai itu lamunan, bunyi mancis lebih dahulu mengejutkan: ia membakar rokoknya. Maksudnya, rokok saya–termasuk mancisnya.

Tapi saya tidak sekali dua ke mari dan hal itu, saya tahu, sudah jadi kebiasaan pramuria tempat ini. Mereka biasa merokok dengan rokok milik pelanggan. Tak perlu meminta. Kuncinya: jangan sungkan-sungkan. Barbara baru saja menunjukkannya.

Barbara gadis Jawa; tapi Barbara mesti “terbuang” ke Sumatera.

Sudah empat jam saya di sana. Tiga bungkus rokok dan empat gelas kopi tandas bersama Barbara. Tapi ia kadang-kadang mengeluh juga: “Pesan minum, dong, Bang, biar aku punya uang tip lebih.” Ia mengatakannya antara bercanda dan serius.

Tapi apa yang serius di tempat ini, batin saya. Sudah dua orang tumbang karena mabuk berat. Mereka pedagang. Saya terpikir anak-anak mereka di rumah–sekiranya ada: bapaknya tak lebih dahulu pulang ke rumah.

Tapi apalah arti pulang kalau tak ada yang akan dikenang. Mungkin mereka telah menjadikan tempat ini sebagai pelarian, batin saya lagi.

Barbara bilang ia baru dua hari di sini. Sehari-hari ia tinggal di salah satu perumahan di daerah dekat tempatnya bekerja ini. “Di sini, aku bangunnya paling cepat jam sepuluh,” katanya. “Itu juga karena suara tv dari kontrakan sebelah.”

Usianya 16 tahun. Ia dari Jawa Tengah. Menumpang sebuah bus antarkota, Barbara sampai ke kota ini. Darinya, saya banyak belajar bagaimana perempuan Jawa memosisikan dirinya dalam keluarga. “Ayah sakit, Bang. Ibu [pe]tani. Adek masih sekolah,” ceritanya suatu kali. Lewat sepenggal kabar itu ia seolah hendak berkata jika dirinya kini jadi tulang punggung keluarga. “Saudara, ya, ada, Bang. Tapi kondisinya sama.”

Di kota ini awalnya ia dijanjikan pekerjaan sebagai pelayan minuman di sebuah tempat. “Aku kira di kafe biasa, Bang,” katanya lirih. Tapi nasib berpilin lain. Ia kini jadi pramuria di kafe dangdut tengah kota yang sebentar lagi akan digusur. Pemerintah sudah merencanakan tempatnya kini bekerja itu sebagai kawasan wisata. Walhasil, kafe dangdut mesti tergusur ke tepi-tepi kota. Termasuk tempat yang kini menafkahinya.

Barbara hanya pramuria; tapi tidak untuk selamanya.

Empat tahun sejak tak bertemu Barbara, saya main ke tempat itu. Tapi kedai-kedai sudah kosong, lapak-lapak di bagian depan gelap, ilalang memenuhi tempat di mana kursi-kursi biasa dijejerkan.

Pemerintah kota telah merelokasi para pedagang di tempat ini. Selain sebagai wahana bermain, tempat ini kini diperuntukkan untuk berbagai kegiatan dan pagelaran. Di antaranya, pameran batu akik.

Udara dingin menyusup ke dalam jaket saya. Dan saya menemukan itu semua: tak ada lagi tawa renyah Butet ( salah seorang pramuria kafe Lina) ketika saya memintanya memesan nasi goreng di kantin depan; tak ada lagi bau parfum Lina yang menyengat ketika datang menawarkan minuman; tak ada juga Barbara ….

Saya tak tahu ia di mana saat ini dan apakah masih saja ber-tank top ria sampai dini hari. Tiba-tiba teringat jika ia dulu pernah bilang ingin pulang ke Jawa dan ikut kursus menjahit. Atau juga keterampilan lain yang bisa ia gunakan untuk hidup dari pelatihan di BLKI. Tapi saya teringat bagaimana saya selalu tersenyum mendengar ia bercerita bagaimana hasratnya ingin memperbaiki rumah. “Sudah reyot sekali, Bang,” katanya dengan nada sedih. “Mau bikin tabungan, tapi nggak punya KTP,” imbuhnya.

Tapi “kafe” itu sudah lama kosong; Barbara tak tampak lagi di sana. Tapi mungkin di sebuah jarak, Barbara sudah bertukar nasib dan tentu akan lebih baik. Hendaknya .…[]

(Nb: Kecuali Lina dan Butet, Barbara bukanlah nama sebenarnya.)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *