Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Peristiwa Puisi: Ketika Sepi Disiasati

4 min read

Membaca sebuah puisi, berarti menemukan banyak tanda. Adakalanya ia begitu lugas memaparkan ke arah mana dan kenapa dan mengapa, sampai kepada sejumlah pertanyaan untuk apa ia ada dan sudahkah ia menggiring opini pembaca. Begitu juga dengan makna yang terdapat di dalam sebuah puisi. Kadang ia hadir dan bersembunyi di balik tanda-tanda yang sengaja dihadirkan untuk menarik minat pembaca kepada “tubuh” puisinya. Meski seringkali dalam sebuah puisi terdapat celah dan rekahan yang membuat makna tersebut hilang di antara sekian banyak tanda.

Dibutuhkan pertimbangan dan penggalian pada ruang pemikiran seorang penyair, untuk mendapatkan tempat dan momen puitik yang tepat, agar tanda-tanda tersebut dapat disematkan tanpa mengurangi kekuatan jalinan tanda yang diatur sedemikian rupa dalam untaian kata. Tanda-tanda yang saya maksud di sini, dapat berupa tema, imaji, peristiwa maupun aspek lain yang dianggap dapat mewakilkan “perasaan” penyair dalam puisi yang dituliskannya dan sebagai entitas tersendiri pada benak setiap pembacanya.

Ketika membaca tanda-tanda dalam puisi, kita senantiasa dihadapkan pada dua kenyataan: puisi seakan berkarib dengan kita atau malah terkesan jauh dari keseharian. Sebab metafor yang “diundang” ke dalam puisi, sangat menentukan “perjamuan” bahasa si penyair terhadap pembaca sebagai tetamu “hajatan” kata.

Adalah Anju Zasdar, salah seorang penyair muda Riau yang menurut hemat saya merupakan (salah satu) “tuan rumah” puisi yang baik. Kedekatan hubungan antara kata dan makna dalam beberapa puisinya, menjadikan lelaki kelahiran Pekanbaru, 13 Mei 1983 ini, sebagai cerminan bagaimana seorang penulis puisi yang “dimatangkan” peristiwa. Ada keterkaitan dan “keintiman” khusus pada tanda-tanda dalam puisi-puisinya yang membuat saya sebagai salah seorang pembaca, merasa dekat dengan “perasaannya”.

Berangkat dan mengangkat tema “muram” seperti luka, sepi, jarak, dll, seorang penyair sering kehilangan “nyawa” dalam karya puisinya. Banyak di antara mereka yang sering menggarap tema melankoli, namun tak kuasa dirundung oleh “hama” yang saya atau Anda sebut sebagai bukan puisi dan klisenya: sekedar curahan hati yang mungkin akan terdengar basi. Selain bertutur tentang hal-hal yang begitu biasa, tipikal puisi seperti ini biasanya akan dengan sangat mudah “patah” sebelum sudah.

Tapi di tangan Anju, tema yang menurut saya adalah rumah teduhnya ini, cukup bernas dan kuat. Seperti dalam salah satu kutipan sajaknya “luka kita” berikut ini: 1./ percakapan kita/ luka dalam kata/ benci menolak lupa/ 2./ alangkah pedihnya/ sakit di dada/ jadi manik airmata/ 3./ siapa sembunyi?/ aku hanya bersiasat dengan sepi/ siapa berlari?/ jam patah, waktu melipat lelah/ …/

Pada penggalan puisi “luka kita” tersebut, ada semacam “iklim” yang coba dihadirkan oleh Anju untuk mengelaborasi makna. Iklim yang saya maksudkan adalah kata-kata yang menurut saya “basah”, karena ia berpretensi kepada tema yang sedang dipuisikan. Antara lain pada bait /luka dalam kata/. Penyair seperti hendak berusaha menegaskan jika ujung yang ingin ia tuju pada puisi ini sebenarnya ada pada awal pertemuan. “Kata” yang Anju tuliskan, memiliki makna yang begitu luas dalam pengamatan saya.

Berinduk kepada luka, “kata” bisa saja diartikan sebagai sebuah isyarat tentang situasi yang ada dan “bermukim” dalam puisinya tersebut. Sementara dalam konteks verbal, “kata” diapit oleh sebuah pengertian sebagai sesuatu yang diucapkan. Sementara saya berkeyakinan bahwa esensi dari “luka kita” bukan sesederhana yang “diucapkan”. Tapi ia tak begitu terikat dan bisa saja kembali bebas berkeliaran dalam konteks atau pun sisi pembacaan yang lain.

Lalu pada /aku hanya bersiasat dengan sepi/, sebuah paradigma dimunculkan oleh Anju dengan membuat sebuah paradoks setelah dijejal dengan pertanyaan /siapa sembunyi?/. Ini adalah teknik penyematan tanda yang menarik menurut saya. Karena Anju berhasil merancang sebuah baris yang memukul mundur pertanyaan pada puisi sekaligus pertanyaan para pembaca. Dengan tetap mempertahankan alur yang runut dan lembut, Anju telah menciptakan sebuah “musik” yang setiap orang akan berbeda menembangkannya.

Kemudian mari kita perhatikan puisinya “buat nasti” berikut ini: /pesta telah bubar, nasti/ kesepian meradang/ bersama lecet di tumitmu/ /mari aku antar kau pulang/ sebelum mabuk menyeretmu/ ke penanggalan luka dalam/.

Hal menarik yang terdapat pada puisi ini dalam “lecetnya” makna yang “diseret” oleh penyair adalah bagaimana menjelmakan kesepian dengan sisi yang lain. Dalam riuh-rendah suasana sebuah puisi, penyair harus mampu memancangkan rambu yang menunjukkan dasar dari penggalian puisi. Lalu apakah Anju berhasil menunjukkan rerambu itu atau malah terkesan alpa dan tak mengenalnya?

Kita simak pada baris-baris /pesta telah bubar, nasti / kesepian meradang /bersama lecet di tumitmu/. Akan terdapat sebuah transformasi makna menurut hemat saya, meski penjelasan untuk “pesta” secara harfiah adalah perayaan dan atau kebahagiaan. Perayaan yang juga bisa diterminologikan sebagai sebuah dunia yang berisi dan begitu berisik. Atau malah kepedihan yang sengaja ada dan “aku dan nasti” dalam puisi ini terjebak di dalamnya. Seperti mengharuskan mereka untuk tinggal dan menetap dalam sebuah lingkungan yang sebenarnya menghadirkan kesenangan namun juga bersifat utopia. Sehingga Anju —dalam puisi ini— ingin keluar daripadanya dengan kata pembuka yang mencerminkan ketidaknyamanan “kita” dalam ruang-ruang yang mengurungnya.

Dan di bait kedua, Anju berusaha membebaskan makna untuk kembali ke fungsi semula: sebagai rambu atau sebagai maklumat yang seolah ingin bergerak mengatur “langkah” pembaca yang sebelumnya telah masuk ke dalam “pesta”. Tiga baris yang cukup berkarakter sebagai akhir puisi sekaligus jawaban dari kegelisahan “aku” dalam puisi ini, yang kembali bebas namun sesungguhnya masih memiliki keterikatan batin sepenuhnya. Terlepas dari itu semua, kembali saya merasa bahwa Anju telah menunjukkan di mana rambu dan mengenalkan tanda-tanda yang “terbaca” kepada pembaca.

Namun yang menjadi catatan penting pada sajak-sajak Anju Zasdar adalah bagaimana kesamaan tema yang sering menjerat penyair dalam sebuah lingkungan bahasa yang relatif sama. Misal pada puisi “yang disisakan jarak”. Kita kembali atau seakan-akan serasa dihubungkan pada imaji dan bentukan makna yang sama yaitu jarak dan melankoli yang membuntutinya: /perpisahan kita/ lengkung resah tanda tanya/ aku menduga jarak biang keladi airmata/ kau makin jauh sebelum sempat kuajukan tanya/ siapa paling kita ragukan ketika/ cinta sembunyi di balik nama samaran?/ rindu disergap bayang-bayang/ dicecar segelintir pertanyaan/ apa yang bisa kita amankan,/ selain mendebat penyesalan?/ gerakmu gerakku sebatas pintu/ langkah tak beranjak/ dari situ ke situ/ pecah tangis waktu!/.

Pada puisi di atas, ada semacam maksud untuk “meneruskan” dan menerakan apa yang telah dituliskan Anju dalam “luka kita”. Puisi yang sebenarnya masih satu kesatuan yang begitu utuh bila Anju tangkas mencermatinya. Masih terdapat di dalamnya “aroma” kepedihan yang sama dan konteks yang coba dikedepankan pun dalam pembacaan saya masih menyentuh persoalan yang sama. Inilah sekiranya yang harus benar-benar diperhatikan oleh penyair agar ke depannya, karya-karya yang dihasilkan dapat menyentuh sisi pembacaan yang lain lagi. Keberanian Anju untuk mulai mengeksplorasi aspek lain dengan “kanvas” muramnya ini patut kita nantikan. Sebab dalam “peristiwa puisi”, Anju telah mengutarakan niatnya untuk keluar dari “pakem sunyi” yang selama ini ia emban: ada yang diam-diam/ membaca tanda/ memutar gerak/ langkah/ mungkin/ yang paling mahir/ menafsir tanda-tanda/ adalah jejak dirimu/ pembaca kitab waktu/

Sehingga fungsi dari sajak “hibernasi” yang menurut saya adalah sajak fundamental seorang Anju, dapat terwujud dan bukan sekedar tempelan atas rumitnya mengurai serat-serat pemikiran ke dalam sebuah karya yang komprehensif: /dari mulutmu/ kata-kata keluar/ sebagai petapa/


Barangkali tidaklah muluk, apa yang pernah dituliskan Marhalim Zaini pada rubrik “Senggang” Riau Pos tertanggal 1 Juni 2014 yang lalu, bahwa Anju Zasdar adalah salah satu dari sekian banyak “nama-nama” muda yang patut untuk diapresiasi sebagai generasi teranyar bagi perkembangan dan kemajuan sastra Riau, khususnya pada kancah nasional. Dan mendapati pergerakan semacam ini —sadar atau tidak sadar— sebenarnya para penyair “muda” Riau memiliki daya saing dalam pergulatan kesusastraan dewasa ini.

Dengan usaha ke arah perbaikan mutu karya dan ketahanan mental, maka apa yang dicitakan oleh pendahulu (sastrawan Riau) dapat terwujudkan. Lantas, barulah “kesepian” Riau pada tradisi kebudayaannya belakangan ini —dalam hal ini sastra— dapat disiasati oleh sebuah “peristiwa” yang bernama kelahiran dan tumbuh besarnya kembali para penulis puisi dari generasi baru. Semoga alam —dengan segala macam seleksinya— dapat berpihak kepada sastrawan muda (Riau) yang tengah bergelora. Termasuk Anju Zasdar![]

Tulisan ini tayang di halaman “Esai” Riau Pos, Ahad (22/3/2015)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *