Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Perempuan dan Definisi Kecantikan

2 min read

Beauty is pain.”

Kalimat pendek itu kembali mencuat di benak saya ketika seorang gadis berkata kepada kawannya, “Besok, aku harus diet lebih ketat lagi.” Dilihat dari postur, tubuh si gadis cukup proporsional. Ia pun kelihatannya baik-baik saja. Namun, ia terus mendesak kawannya itu, “Kau harus coba diet khusus ini. Agak sakit, tapi lumayan hasilnya.”

Saya terhenyak. Orang-orang benar: cantik itu menyakitkan.

Bagi si gadis, kesakitan itu akan lahir ketika ia gagal meraih akhir yang diharapkan dari diet ketat tersebut, sedangkan bagi kita, para lelaki, mendengar dua penggal percakapan barusan, rasanya, sudah sangat menjengkelkan. Namun, agaknya, itu sudah jadi bagian hidup perempuan.

Kita kenal beberapa ritual kecantikan sejak berabad lalu: memakan tanah liat, facial dengan urine, minum dan mencuci muka dengan arsenik, kotoran buaya untuk masker, hingga pedicure dengan ikan karnivora. Meski terdengar aneh, tetapi perempuan di abad lampau akan mengenang itu sebagai peninggalan terbesar kaumnya.

Ada satu cerita soal seorang ratu yang mewajibkan dirinya mandi dengan darah para perawan. Konon, ia melakukan itu demi menjaga kecantikannnya. Dari kisah itu ada galat: penyimpangan, lewat darah dan korban para perawan, tak lantas menjadikannya cantik, sebagaimana impiannya. Barangkali setelah itu ia memang mendapatkan itu, tetapi mereka yang telanjur tahu kisah itu tak lagi melihat hasil dari proses yang tergolong menjijikkan tersebut.

Lagi-lagi, dari kisah itu, kita berujar, “Beauty is pain.”

Terutama belakangan ini, dan yang terjadi pada generasi millennial, ritual kecantikan sudah kadung menjadi obsesi. Datanglah ke helat atau kondangan seorang rekan dan saksikan bagaimana riasan gadis-gadis berusia muda telah menampar istri para pejabat. Mereka tak berkonde, memang, tetapi riasan dan segala aksesori serta gestur yang dapat kita tangkap di tempat itu akan menjurus kepada tren ibu-ibu pejabat di negeri ini. Ya, menor.

Yang menyedihkan dari itu semua ialah riasan serta gaya berbusana tersebut tak hanya ada di ruang-ruang dan waktu-waktu “formal”, semisal hajatan tadi. Sial, memang, ketika kita harus berhadapan dengan gadis-gadis yang berupaya mengejawantahkan kecantikannya dengan memaksakan diri untuk tampil dengan “corak” yang sama, kapan dan di mana saja.

Tak semua gadis dari era ini yang terjerembab ke dalam tren seperti itu, tentu. Sekali waktu, kita juga akan berhadapan dengan gadis-gadis yang malah “kembali” ke masa lalu: dandanan retro atau yang menjenguk tren 70an hingga 90 akhir. Namun, dandanan seperti itu, dengan segala alasan “luhur”-nya, juga tak lepas dari kritik. Meski begitu, setidaknya, mereka yang merepresentasikan dirinya dengan budaya “jadul” itu berani untuk mengambil risiko. Dikucilkan, misalnya.

Seorang kenalan yang datang dari jauh memberi saya satu pengalaman soal itu. Mulanya, saya kira, dandanan yang ia usung menjadi satu bahan candaan belaka atau sebuah tren yang tak akan bertahan lama. Namun, yang terjadi, ia betah dan memang sejak lama ingin seperti itu. Ia sendiri bergaya ala perempuan 70an. Untuk harga, tak perlu kiranya dipaparkan di sini. Sebab, kita hanya butuh kalimat ringkas ini: Cantik itu menyakitkan, juga dari sisi finansial.

Di luar kisah itu, kecantikan hingga kini memang sudah kadung menjadi standar, bahkan juga dalam hal moral- bagi pada perempuan. “Padahal,” ucap seorang ibu sepuh suatu kali, “kecantikan lahir dari jiwa yang bersih.” Akan tetapi, mesti diingat pula bahwa lelaki juga punya andil terkait hal itu. Sebab, panggilan jiwa perempuan memang juga tak terlalu menghendaki kecantikan yang akrab dengan polesan; masih ada yang bertahan dengan riasan tipis, lipstik seadanya, dan pakaian yang tak terlalu mahal harganya. Agaknya, mereka itulah perempuan yang dimaksud ibu sepuh tadi: yang bersih jiwanya, dan karena itu pasti cantik.

Kita menemukan itu belakangan ini; ibu-ibu petani Kendeng yang berdemo menolak pendirian pabrik semen di sekitar pemukiman mereka. Bukan demo biasa, mereka bahkan menyemen kaki di depan Istana Presiden agar tuntutan ini dipenuhi: tolak pendirian pabrik semen demi menjaga keseimbangan alam dan generasi selanjutnya. Mereka tak mengenakan riasan, apalagi hingga menor, sementara kaki mereka pecah-pecah akibat zat yang ada pada semen: sesuatu yang tak mereka inginkan ada di tiap suapan nasi anak-anak mereka.

Mungkin kita masih bisa berkata, “Beauty is pain” lantaran kisah ibu-ibu Kendeng itu penuh dengan kesakitan, terutama soal menyemen kaki. Namun, yang menjadi ukuran, sebagaimana kata ibu sepuh tadi, tetap saja jiwa.

Dari situ, juga sedikit kisah soal ibu-ibu Kendeng, kita seharusnya berujar, “Cantik itu perlawanan!”[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (30 April 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *