Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pandemi, Ekonomi, dan Orang-orang Miskin

1 min read

Pandemi, Ekonomi, dan Orang-orang Miskin

Ketika pada Maret lalu pandemi atau wabah Corona (Covid-19) masuk ke tanah air, Mawar (11 tahun) masih bersekolah: ia akan berangkat pagi-pagi sekali menempuh jalan beraspal dengan jarak dua kilometer, belajar, bermain, tanya-jawab dengan guru serta teman-temannya, lalu pulang ke rumahnya menjelang pukul 15.00 sore. Namun, tak sampai sepekan kemudian, sekolah diliburkan; proses belajar-mengajar via tatap muka berganti “sekolah dari rumah”. Mawar ingin bersedih atas kondisi itu, tetapi kenyataan menyergapnya: di rumahnya tinggal tujuh orang: ayah, ibu, dua kakak, dirinya, dan dua adik—dan semuanya harus makan, persis seperti yang pernah dipetuahkan oleh ibunya.

Tetangga keluarga Mawar memang tak banyak; hanya ada dua rumah bedeng lain di sekitar kediaman sederhana itu. Pekerjaan para jiran ini juga sama dengan keluarga Mawar: pencari botol bekas. Lantaran keadaan keuangan yang sama-sama memprihantikan, seorang anggota relawan penyelamat-keluarga-miskin yang pernah ke situ mengganti istilah desakan ekonomi menjadi “desahan” ekonomi. Mawar tak mengerti soal itu sebab dalam benaknya kini cuma terngiang petuah ibunya tadi: “Semua orang mesti makan.”

***

Berapa banyak orang, atau keluarga, seperti Mawar? Jawaban paling mungkin: sebanyak jumlah orang miskin di negeri ini. Dalam situasi penuh kecemasan seperti sekarang, terutama oleh pandemi dan ketidakpastian ekonomi, orang-orang miskin masih dalam hidup-yang-kemarin: sebelum dan setelah pandemi, tak ada yang benar-benar berubah, kecuali ketidakpastian yang kian jelas di hadapan mata mereka.

“Tapi sembako (sembilan bahan pokok) ‘kan sudah dibagi?” Anda bertanya.

“Sembako terus dibagi sejak negara ini berdiri,” jawab saya.

“Jumlah mereka, orang miskin ini, tidak bisa dimistik jadi nol!” balas Anda.

“Jangan mengutip sajak WS Rendra,” ucap saya, “kalau Anda masih sinis terhadap mereka, orang-orang miskin ini!”

***

Lain Mawar, lain pula Ardi (12 tahun). Nama yang disebut terakhir ini duduk di atas motor butut ayahnya, suatu sore akhir pekan lalu. Tanpa masker, ia berdagang jagung di tepi jalan. Jagung-jagung itu ditumpuk dalam sepasang keranjang sayur dan sebuah timbangan berkarat terkepit di pangkuan Ardi. Kepada tiap orang lewat, Ardi terdengar selalu berujar, “Singgah, Pak, singgah, Buk. Jagung manis, belilah.”

“Kenapa Ardi tak di rumah saja?” Anda bertanya.

“Ibunya tidak bisa berjualan, ayahnya sakit keras,” jawab saya.

“Anak sekecil itu tak sepatutnya berdagang, apalagi di tengah pandemi. Tak bermasker pula!” balas Anda.

“Anda terlalu banyak bicara,” ucap saya, “sementara kompor ibu Ardi sekarang sudah kehilangan nyala!”

***

“Semua orang mesti makan,” kata Ibu Mawar, entah di mana, kapan, dan kepada siapa saja ia bicara saat itu, tetapi gemanya sampai kepada kita: tiap orang mesti makan, sebelum dan sesudah pandemi, sebelum dan sesudah “desahan” ekonomi ini. Tiap orang, pada akhirnya, mesti keluar dari situasi yang biasanya ia jalani (kerja di kantor atau pabrik, makan enak di restoran atau di tepi jalan, lalu sesekali rekreasi ke taman hiburan atau menemani anak naik odong-odong dua ribuan) dan mulai menerima kenyataan pahit bahwa semua mesti dirumahkan dengan dua kondisi: bekerja dari ponsel dan laptop atau dirumahkan tanpa pesangon dan di-PHK oleh pabrik atau perusahaan.

“Semua orang mesti makan,” kata Ibu Mawar dan itulah mantranya. Persoalannya, kita baru ingat tentang kemestian itu—nikmat berbagi—saat dunia tidak sedang baik-baik saja, seperti hari-hari ini.

“Kalau setelah pandemi?” Anda bertanya.

Saya tahu Anda tahu jawabannya.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *