Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

56 sec read

Tanpa pagi, tak ada sorak tukang kue atau roti, rengek kanak-kanak, dan harapan dalam ujaran: “Ayah, hati-hati di jalan.”

Ketika harapan diungkai dalam doa malam, kata orang, pagi membereskan itu semua: kita mesti ke luar rumah, mencari nafkah, dan kembali lagi sore nanti. Siklus itu berlalu sampai kita tak kuat lagi atau barangkali tak ada.

Saat hari jadi malam lagi, harapan-harapan, yang tersebut dalam doa, tiba-tiba baru—seakan-akan kita sudah lupa doa dan harapan kemarin.

Memang akhirnya tiap pagi selalu ada yang baru di hadapan kita: bulir embun yang bukan seperti kemarin atau lusa, yang bergantung di lain daun. (Oh, mungkin tak ada yang aneh benar soal itu, kecuali saat ia tak ada lagi.)

Kanak-kanak itu pun, yang merengek tiap pagi—entah karena malas mandi atau enggan bangun—, sejak dini sudah menemui paginya sendiri. Mereka akan belajar dari matahari dan sekali waktu bilang, “Adakah orang tinggal di sana, Bunda?”

Tentu tak ada, jawab Bunda. Kelinci, katanya lagi, cuma ada di bulan.

Seorang anak akan bertanya terus, soal itu, sampai datang hari ketika sekolah menelan tubuh dan mengisap waktunya. Di sekolah itu pula nanti seorang guru akan menjelaskan, “Anak-anak, tak ada manusia yang sanggup tinggal di matahari karena panasnya.”

Bocah itu akan terheran-heran mendengarnya dan ia kini ingat Bundanya pernah bilang tentang itu, mirip-mirip penjelasan Bu Guru. Ia jadi kangen pagi, karena itu—ketika tak ada teman-teman di sisinya dan ia rajin bertanya sendiri dan gurunya cuma Bunda.

Belasan tahun kemudian ia akan mengawali tulisannya dengan kalimat seperti ini:

Tanpa pagi, tak ada sorak tukang kue-roti, rengek kanak-kanak, dan harapan dalam ujaran: “Ayah, hati-hati di jalan.”[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Refleksi

Avatar Boy Riza Utama
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *