Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pacaran Serasa Nikah

1 min read

Hal yang paling menyebalkan dari satu teorema hubungan-beda-jenis-dua-insan bernama pacaran ialah egoisme yang kerap meruap di antaranya. Kita memang tak bisa menampiknya, tetapi berdiam dalam hubungan semacam itu juga menjadi satu kekeliruan yang nyata. Singkat kata, satu di antara mereka harus mengalah.

Pertanyaan kemudian lahir: Apa bisa terus-terusan mengalah?

Dari pengamatan sederhana, kita bisa menarik benang merah dari itu semua: Saat ini, nyaris semua hubungan pacaran terkumpar dalam hasrat untuk memiliki yang lebih. Itu bukan gejala, tentu saja. Jauh sebelum generasi millennial merasakan ciuman pertama, lalu dilupakan, orang-orang terdahulu sudah mengalami rasanya hidup di bawah tekanan. Mereka dijodohkan, ditunangkan, tanpa tahu apa yang terbaik dan bagaimana menjalani hari depan.

Tapi, itu pula kuncinya. Ya, soal hari depan. Sebab, kebanyakan dari yang terjadi dalam hubungan berpacaran kini ini ialah bagaimana mewujudkan hari depan itu sekarang juga.

Konyol, bukan? Tentu saja. Namun, di sekitar kita, semua itu memang benar-benar sedang terjadi.

Kabar tentang pasangan mesum di Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar) itu, misalnya. Dari sana, kita bisa mengidentifikasi bahwa segala yang bertaut dengan kata pacaran, hari ini, ialah hubungan sebebas-bebasnya atas dasar saling memiliki. Bahkan, di toilet, jalinan asmara dalam semboyan “Dunia milik kita berdua” itu juga tak bisa terpisahkan.

Perlu ditambahkan juga dari “kasus lama” itu: pengertian. Tentu bukan pengertian dalam arti biasa saja, melainkan dalam kerangka yang lebih sempit: harus ada dan siap sedia melebihi satpam di pos jaga!

Sebagian orang, terutama mereka yang berpikiran sangat-sangat terbuka, sering menganggap hal itu biasa. Bagi mereka, itu bagian dari proses. Namun, yang luput dibicarakan ialah ke mana proses itu akan bermuara nantinya.

Bukankah tak ada yang sanggup membayangkan bagaimana sepasang remaja –di tengah membuncahnya berahi di antara mereka– mampu melakukan hubungan luar nikah di toilet sebuah masjid? Atau pertanyaan ini: Hingga 2017 ini, sudah berapa pasangan mesum yang digerebek warga?

Pelan-pelan kita tafsirkan: semua bermula dari perempuan dengan tipikal suka mengatur dan laki-laki yang sifatnya begitu posesif. Keduanya tenang di permukaan, saling berahasia, tetapi di kedalaman hati dan pikiran mereka masing-masing, ada gembok yang tak bisa dibuka. Kita perlu mengistilahkan itu sebagai “kunci yang hilang di masa muda”.

Pasalnya, saat muda, tak ada yang benar-benar ingin dikalahkan asmara alih-alih oleh rasa-yang-pernah-ada. Semua ingin menjadi pemenang, meski maknanya bukanlah menapaki jenjang selanjutnya alias pernikahan. Barangkali karena itu pula sifat dan sikap egoistis tadi mesti dibuang jauh. Sebab, semua hanya akan berujung kepada (pe)rasa(an) trauma.

Kita pun tahu, trauma tak sebentar bisa disembuhkan. Perlu waktu lama buat mengerti bahwa apa yang selama ini terjadi hanya ilusi, termasuk hubungan pacaran itu sendiri. Namun, bagi sebagian orang, trauma tetaplah trauma: ia penanda bahwa pernah ada yang tersakiti di sini.

Maka, seandainya Seno Gumira Ajidarma membuka cerita pendek (Cerpen)-nya yang bertajuk “Kyoto Monogatari” itu dengan pertanyaan “Terbuat dari apakah trauma?”, kita sudah punya jawabnya: pacaran serasa nikah.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (28 Mei 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *