Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Motivasi Itu, Cuk …

2 min read

Lampu studio dihidupkan. Seluruh kru bersiap pada posisi dan tugas mereka. Seorang pria lima puluh tahunan bersama asistennya keluar. Sementara ia melambai-lambai ke semua penjuru, orang-orang bertepuk tangan, yang tentu, sesuai arahan. Dengan gestur yang mantap, ia kemudian menyapa pemirsa, di studio dan layar kaca, dengan kata-kata yang memang hanya miliknya: “Salam Super”.

Mario Teguh, demikian nama lelaki itu, mulai bekerja. Dengan segala pengalaman; dibungkus kata-kata dan permisalan yang menawan, para pemirsa seolah terhipnotis saat itu, dan mungkin, setelahnya juga. Lelaki yang hampir kehilangan seluruh rambut di bagian kepalanya ini, konon, adalah seorang motivator kawakan. Maka, mustahil rasanya akan ada yang tak mendengar kata-katanya yang tentu saja bernilai kebaikan dan nyaris benar itu (di tiap episodenya).

Tapi pengecualian untuk kami (saya dan dua rekan) yang malam itu sedang asyik “debat kusir” tentang salah satu acara unggulan di Metro TV ini. Dalam keadaan tidak sedang menonton program pak Mario (begitu ia disapa) kami terus bicara soal betapa tidak pentingnya acara ini.

Sebab apa?

Orang-orang perlu dimotivasi karena mereka (selalu) merasa tak punya pengalaman bermakna. Lain soal jika orang-orang ini datang untuk mendengar kisah inspiratif. Dan Pak Mario, dalam konteks ini, adalah penutur kisah inspiratif tersebut.

Di Cina, konon pemerintahnya memotivasi rakyat, terutama buruh, agar efektivitas mereka bertambah. Ya, sah-sah saja. Selagi itu tidak disiarkan, bagi kami (saya dan dua orang kawan) tadi, tentu tidak berpengaruh.

Sebab motivasi terbaik, kata seorang kawan, lahir dari diri sendiri, tak lain. Pengalaman akan memberinya dinamika, kata saya. Dari sana, kita butuh kata-kata untuk membungkusnya. Singkatnya, pengalaman itu akan jadi menarik ketika bungkusnya rapi. Dalam hal ini, sastra jadi pilihan utama.

Tapi mencerna yang didengar memang tak sesulit mencerna yang dibaca. Jadilah buku-buku sastra kita berdebu di rak-rak toko buku. Padahal, di dalamnya ada pengalaman yang dipa(n)du hasil observasi yang tak sebentar.

Saya tidak tahu berapa harga tiket menonton acara Pak Mario secara live; atau barangkali gratis? Entahlah. Tapi saya juga tak bermaksud mengecilkan apa yang telah beliau lakukan. Semuanya berguna, semuanya bermanfaat. Pak Mario super sekali, tentunya.

Tapi hanya menonton, mendengarkan, dan bertepuk tangan sambil garuk-garuk itu… Tapi tanpa pengalaman itu, berbahaya kan, Pak Mario?

Usai acaranya malam itu, Pak Mario berbincang hangat dengan saya. Tak perlu rasanya saya tuliskan semua perbincangan itu. Tapi di akhir-akhir perbincangan ada beberapa dialog yang saya ingat. Kira-kira begini:

Pak Mario: Mau jadi asistenku, Cuk?

Saya: Super Mario, eh, super sekali itu, Pak. Tapi saya ogah. Capek.

Pak Mario: Kenapa? Aku yang lebih capek, Cuk. Kowe kan tahu, pemirsanya kan gitu-gitu aja. IQ-nya nggak nambah. Malah nambah dongo kata orang Metro TV. Huft.

Saya: Ya, kan jauh-jauh hari sudah tak bilang, kalau bisnis motivasi itu menggairahkan. Maksudnya orang-orang yang bergairah, kitanya lemes.

Pak Mario: Iya. Tapi mau bagaimana, Cuk? Nggak mungkin toh aku banting stir alias ikut bentuk program lain itu. Passion-nya di sini, Cuk.

Saya: Dagelan politik kayak Mata Najwa, gitu? Bagus itu, Pak. Tak kasih nama Gundul Mario, yo?

Pak Mario: Gundulmu iku! Aku ini Mbah Jiwo, Cuk. Abis ngisi acara Stand Up Comedy, aku ini. Didandanin sama orang make up. Heuheuheu. Tapi lagakku sudah kayak Pak Mario Bros, eh, Mario Teguh, kan?

Saya: Apik sangat! Diancuk kowe, mbah! Kampret. Motivasu kalau begini. Motivasi Asu! Tak kira beneran Mario Asu, eh, Mario Teguh sampeyan iki tadi.

Pak Mario Palsu alias Mbah Jiwo: Heuheuheu. Eh, tapi kowe jangan sebarkan transkrip pembicaraan kita ini, yo! Awas, ada MKD.

Saya: Majelis Konco Dewe? Peduli asu, Pak!

Kami: Heuheuheu.

Nb: Untuk menghabiskan waktu di malam itu, saya dan Mbah Jiwo berusaha “memotivasi” seorang pemilik warung dengan mengajaknya bercerita. Tentu, tentang Pak Mario Teguh dan serum penumbuh rambut dari Rudi Hadisuwarno yang super sekali harganya; juga pengunduran diri Setya Novanto yang memotivasi para jomblo agar mundur dari perjuangan menghadapi mantannya (baca: minta balikan).[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *