Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Millennial dan Tren Pacaran Kontemporer

2 min read

Sejumlah berita yang lahir dari kisah percintaan sepasang kekasih beda bangsa, Ilaria Bianco dan Dzulfikar, membuat orang-orang terkejut. Di samping jarak yang terentang sangat jauh, usia keduanya yang tergolong muda juga menjadi sorotan publik, terutama di lini masa media sosial.

Ilaria, gadis asal Italia itu, baru berusia 21 tahun saat kisahnya tiba-tiba menggemparkan, sedangkan Dzulfikar, pemuda asal Batang, Jawa Tengah, dua tahun lebih tua. Tak hanya itu, yang menarik dari kisah itu ialah soal keteguhan Ilaria untuk mewujudkan impiannya menikah dengan Dzulfikar. Pasalnya, perempuan berambut panjang itu menabung selama dua tahun demi bertemu dengan sang mempelai prianya. Ilaria sendiri diketahui bekerja di sebuah restoran di Italia.

Di sisi lain, penting juga untuk dihadirkan satu fakta menarik lainnya ini: mereka berkenalan lewat media sosial Facebook. Ya, ini memang era generasi millennial dan jalinan asmara bisa dan lumrah saja bertaut di sana. Namun, yang membedakan kisah Ilaria dan Dzulfikar dengan “roman dunia maya” lainnya ialah pada kedewasaan mereka. Sebab, Dzulfikar, yang wiraswasta itu, agaknya, paham satu esensi dari kisahnya tersebut: jarak bisa memisahkan, tetapi niat yang tulus senantiasa meniadakan itu semua.

Namun, di balik simpati yang besar, millennial juga menyimpan kenyinyiran tersendiri, tentu. Di kolom-kolom komentar tautan berita soal pasangan yang baru menikah itu, ada saja netizen yang meragukan hubungan keduanya akan bertahan lama. Ada yang menulis kira-kira begini, “Tak akan lama. Perbedaan budaya keduanya terlalu tajam”, atau dengan nada provokatif ini: “Penasaran dengan motivasi si Ilaria yang jauh-jauh datang dari Italia. Tanya kenapa?”

Tak aneh, memang. Yang menakjubkan dari kisah mereka bukan muaranya, melainkan karang-karang tajam yang akan mengadang biduk cinta keduanya.

Hal itulah yang tak ditemukan dari pasangan ini: sepasang mahasiswa yang “bercinta” di WC Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (26/4/2017). Kisah itu sendiri lumayan menggemparkan. Sebab, ada dua hal besar yang menjadi sorotan: masjid dan hubungan di luar nikah. Tak ayal, saat berita mereka diciduk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Sumbar sekitar pukul 21.10 WIB itu naik di kanal daring, lini masa media sosial ricuh. Semua orang mengutuk “berahi” dan perbuatan keduanya.

Mungkin perempuan itu di bawah ancaman si pria, pikir saya suatu kali. Sebab, yang terjadi belakangan ini memang patut disayangkan: kisah asmara penuh intervensi dan kerap berakhir sebagai tragedi. Kita bisa menyebut itu sebagai salah satu tren pacaran di era kontemporer. Terkait itu, kita patut pula menghadirkan kisah pacaran fenomenal dari Kalimantan, Ahmad Sahril alias Lauren dan Rizky Budiansyah.

Sembari melihat apa yang diberikan mesin pencari ketika namanya keduanya diketikkan, kita ingat kronologis ajaib ini: Lauren ternyata seorang pria dan Rizky baru mengetahui hal itu ketika mereka diinterogasi di markas Satpol PP setempat. Rizky syok karena sang pacar yang (sialnya!) berkerudung itu tak bisa mengelak dari pertanyaan petugas hingga dia harus menerima kenyataan bahwa Lauren ternyata seorang waria.

Tentu saja itu bukan lagi kesialan, melainkan sudah masuk ke dalam kategori nestapa. Pasalnya, Lauren sudah “dicumbui” dan itu tak hanya terjadi sekali. Tak mungkin diceritakan di sini prosesnya, tetapi Lauren memang punya jurus jitu menyiasati itu semua. Meski tertipu, Rizky patut bersyukur karena dia tak senelangsa para pendahulunya: mereka yang telah menikahi seorang pria dalam taraf ketidaktahuan paling purna, yang akhirnya sadar jika telah menjadi korban penipuan dalam hal jenis kelamin.

Orang-orang yang ingin jawaban ringkas di media sosial itu kemudian bertanya, “Ada apa ini? Kenapa akhir-akhir ini tak ada lagi yang bisa diterima logika, termasuk dalam hubungan percintaan anak muda?” Kita akan menjawabnya, dengan ringkas juga: “Selamat datang di era millennial!” Sebab, dari sekian banyak modus percintaan yang ada saat ini, semua nyaris mengarah ke satu muara: pemaksaan, dengan perempuan yang rentan menjadi korban.

Tak ada yang ingin hal itu terjadi, tentu, tetapi menghindar dari hal-hal semacam itu juga bukan perkara mudah; butuh energi yang besar, pola pikir yang sedikit lebih tertata ketimbang mereka yang seumuran, dan, yang terpenting, tekad kuat untuk meniadakan hal-hal semacam itu dalam lorong-lorong percintaan yang kelak atau sedang ditempuh. Terlalu berat, barangkali.

Menjawab itu, lagi-lagi kita tertumbuk kepada satu pernyataan sederhana: “Semua itu bagian dari proses dan langkah pendewasaan diri.” Pacaran dan tren yang melingkupinya itu juga proses, tentu saja, dan karena itu bisa luput atau terkikis. Yang perlu dipikirkan di zaman yang ajaib ini, kiranya, cuma ini: “Masih adakah perasaan yang tulus itu, yang tak usai dirundung pertanyaan-pertanyaan baru lagi ke depannya?”

Sepasang kekasih yang “bercinta” di WC Masjid Raya Sumbar dan Lauren dan Rizky tak pernah tahu jawabannya. Namun, kita juga tak perlu bertanya kepada Ilaria dan Dzulfikar, tampaknya. Sebab, mereka baru saja memulai hal itu, dengan satu peninggalan besar buat kawula muda: keberanian adalah cinta itu sendiri.

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (14 Mei 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *