Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Migran

2 min read

Hampir tengah malam saat itu. Mulanya seorang, kemudian beberapa. Perempuan-perempuan migran dari Timur Tengah melintas di sebuah jalan. Ada yang mendorong kereta bayi, ada yang berjalan berdua-dua, ada yang sendiri. Entah ke, dan dari, mana. Empat lelaki berjalan di belakangnya–migran juga, dan posisinya sama: imigran.

Melihat mereka setiap malam melintas di Ahmad Yani, persis depan kantor, saya teringat dua orang: Aylan Kurdi dan Syarif. Dua-duanya migran; dua-duanya nahas.

Aylan tewas di semenanjung Turki beberapa waktu yang lalu. Dunia heboh; kecuali Charlie Hebdo. Seperti biasa, majalah kartun satire dengan humornya yang gelap itu memicu kontroversi: kematian Aylan, bagi mereka, adalah tragedi komikal, adalah sesuatu yang banal; perlu ditertawakan.

Baru-baru ini mereka, Charlie Hebdo ini, merilis kartun baru: “Andai Aylan dewasa, akan jadi apa dia?” begitu kira-kira redaksi bahasa yang tertulis di karikatur “penuh olok-olok” teranyar dari majalah asal bumi Napoleon itu. Di sana digambarkan beberapa ekor monyet berpakaian laiknya manusia: stelan jas lengkap dengan topi. Aylan diandaikan sebagai salah satu monyet itu; ia berlari, mengejar seorang perempuan berkebangsaan Jerman, yang kita tahu, jadi salah satu negara suaka bagi orang-orang Suriah yang negerinya tengah dilanda perang.

Tapi yang terbiasa mengolok-olok adalah mereka dengan pikiran jorok. Aylan, kita tahu, tewas di garis pantai itu dalam sebuah aksi heroik. Fotonya jadi viral; setiap media–nasional dan internasional–memajang fotonya di halaman depan. Ia pahlawan–setidaknya bagi anak-anak yang hak, dan waktu, untuk bermainnya dirampas oleh rezim. Sementara Charlie Hebdo adalah rezim yang lain.

Setiap rezim, boleh jadi akan lalim. Charlie Hebdo, entah dengan dorongan apa, memotret peristiwa nahas ini dengan kacamata yang lain, yang tak terduga: kematian seorang bocah, baginya, adalah gelak-tawa yang mesti dirayakan lewat “mata tanpa keadilan”.

Aylan mungkin mati, tapi keadilan, kata seorang pesohor Romawi, mesti ditegakkan sekalipun esok langit runtuh.

Lalu Syarif. Kami berjumpa di Purna MTQ. Bersama seorang kawannya, kami duduk di salah satu sudut taman yang ada di sana. Dengan aksen Arab yang kental, ia menawar kepandaian saya berbahasa asing. Jadilah sore itu duo Arab meladeni seorang inlander yang tak punya tradisi berbahasa asing dengan baik, yaitu saya. Percakapan dengan bahasa ibu Margaret Tatcher, yaitu Inggris, mesti terbata-bata–kadang menggunakan isyarat.

Syarif banyak bercerita bagaimana orang-orang di negerinya, Afganistan, dibunuh oleh “teroris”. Termasuk ayahnya. Syarif mengisyaratkan tangannya ke leher, menirukan adegan pemenggalan, dan ini, katanya, dilakukan di hadapan keluarganya.

Saya tak tahu apakah Syarif tahu sejauh mana andil Rusia dalam perang di Afganistan dulu, tapi saya mengerti: dalam tragedi, tak penting siapa dalangnya, yang pasti, bagaimana menghentikan semua ini.

Syarif setahun di bawah saya saat itu; 20 tahun usianya.Tapi wajahnya terasa sangat tua: kegetiran telah merampas masa mudanya. Ia juga bercerita tentang kekejaman orang Syiah di kampung halamannya, tapi saya katakan, untuk yang satu itu, saya tak banyak tahu. Jadilah ia hanya bercerita tentang Taliban dan Al-Qaeda.

Setahun kemudian, hampir dua, saat ini, saya tak tahu Syarif di mana, sementara Aylan, tentu sudah tersenyum di surga. Dan yang lebih saya tak tahu, akan ke mana mereka.

Tapi arah adalah sesuatu yang kapan saja bisa berubah. Tak kuasa saya membayangkan orang-orang Timur Tengah ini akan melawan. Tapi bukan dengan cara-cara terorisme ala ISIS, misalnya, melainkan lewat perlawanan yang lebih terstruktur, sistematis dan tanpa membuat dunia jadi kuburan panjang bagi orang-orang seperti mereka. Paling tidak, pertempuran demi pertempuran, seperti kata Acep Zamzam Noor dalam salah satu sajaknya, akan mendewasakan mereka.

Saya tak tahu Syarif di mana; tapi orang-orang seperti ia, entah mengapa, selalu ada di dunia. Seperti perempuan-perempuan migran yang lewat barusan, kini melewati jalan itu lagi. Kini, saya tak tahu mereka dari, dan akan ke, mana. Tapi keadilan, semoga membawa mereka ke arah yang lebih baik lagi.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *