Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Menulis

1 min read

Ketika diasingkan ke Pulau Buru, tak ada yang bisa dilakukan Pramoedya Ananta Toer selain bekerja, bekerja, dan bekerja, yang tentu, dengan “sedikit” paksaan. Saat itu Pram, panggilan akrabnya, mungkin berpikir: sebagai penulis, apa yang bisa saya lakukan agar hasrat ini (baca: menulis) bisa tercapai?

Sebagai penulis paling berpengaruh di masanya, karier Pram seolah tamat di pengasingan itu. Impiannya untuk menerbitkan naskah-naskah terbaru harus dikubur dalam-dalam sebab ia tak bisa berbuat apa-apa di sebuah tempat, yang bahkan, jauh dari akses untuk buku, apalagi alat tulisnya.

Tapi Pram belum kalah: ia masih punya suara. Dikisahkan bahwasanya hampir tiap malam, pada medio 70-an itu, Pram bertutur tentang seorang jurnalis yang kemudian jadi “Bapak Pers Indonesia”. Tirto Adhi Suryo namanya. Setiap malam, akhirnya, para “sejawat” mendengarkan kisah Pram seperti seorang bocah yang khusyuk mendengar pendongeng berkisah.

Antusias yang besar dari sesama tapol (tahanan politik) di sekelilingnya untuk mendengar itu cerita, memang membuat Pram urung berputus asa. Ia kemudian menulis cerita itu dalam sebuah mahakarya: Tetralogi Bumi Manusia.

Bermodal mesin ketik butut hasil “merayu” pada tentara, Pram akhirnya diizinkan mengetik cerita itu. Ditemani lampu teplok, dan mungkin rokok (yang akrab dengan dirinya), Pram merampungkan naskah itu dalam situasi yang sulit dan dengan segala keterbatasan.

Sampai di sini, boleh jadi, kita merasa bahwa menulis memang butuh perjuangan; menulis bukan sekedar mencoret-menggores kertas dengan kata-kata yang sebelumnya berjalin-susun di kepala. Menulis adalah menerjemahkan kembali apa yang pernah disuarakan, didengar atau tidak.

Tapi yang menarik, dengan menulis, kata-kata tak akan hilang ditelan angin. Persis seperti kata Pram. Atau kata sebuah pepatah: verba volant, scripta manent.

Maka, penulis manalagi yang kau dustai cintanya, sedang itu (cinta) termanifestasi dalam karya, sementara lelaki banyak omong yang kau puja saat ini, suatu hari akan kehilangan kata-kata dan bualannya?[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *