Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Menafsir Hubungan Tanpa Status

2 min read

“Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar pada 1949 silam dalam puisi “Derai-Derai Cemara”. Namun, di era millennial, pernyataan artikulatif dari penyair Angkatan ’45 itu sebaiknya diganti: “Hidup (saat ini) hanya menunda komitmen akan adanya hubungan percintaan.”

Boleh jadi itu kesimpulan yang tergesa, tetapi, bagaimanapun, dampak dari hal tersebut mulai kita rasakan seluruhnya: lelaki atau perempuan di kurun ini jarang sekali punya hasrat yang “bersih” alih-alih cinta yang “jernih”. Kita dipersuakan dengan hal itu, misalnya, ketika sepasang manusia beda jenis kelamin terlibat dalam pusaran hubungan yang tak belum ada ujungnya. Orang-orang di masa ini mengistilahkannya dengan halus: hubungan tanpa status (HTS).

Uniknya, meski diisyaratkan sebagai jalinan tanpa hasrat untuk menuntut lebih, HTS tetap meninggalkan kejanggalan tersendiri; tiap “pasangan” HTS, pada akhirnya, tak pernah mau dan ingin hubungan yang selama ini terjalin tersebut berakhir sebagai roman picisan belaka.

Mungkin sebagai upaya untuk menanggulangi dampak buruk dari hal itu atau tidak sama sekali, Awkarin –selebgram yang sempat viral itu- datang menawarkan istilah baru: “Relationship Goal”. Meski sempat disanjung karena “pola” yang ditawarkannya itu, apa yang didesakkan Awkarin bagi dirinya dan jamaahnya itu bukannya tanpa cela. Sebab, “Relationship Goal”, yang muaranya suatu hubungan dengan “kejelasan yang sungguh” itu, kiranya, hanya akan membuat mereka yang menjalaninya terdampar pada satu titik terburuk jika hal itu tak terwujud, akhirnya. Padahal, gembar-gembor dari gagasan Awkarin tadi, sebenarnya, menarik.

Satu dari sekian hal menarik itu, yakni memberdayakan sifat sabar di generasi muda saat ini. Akan tetapi, pada kenyataannya, yang terjadi memang sebaliknya; tiap pasangan mesti menanggung hasrat yang besar dengan upaya mereka yang tak seberapa.

Jika dikembalikan ke HTS, “Relationship Goal” ala Awkarin itu memang tak akan pernah berhasil. Sebab, titik berat “Relationship Goal” memang lebih kepada jalinan asmara yang sudah dalam tahap pacaran. Karena itu, tiap pasangan yang akan menjalankan “tirakat” dengan metode Awkarin tersebut, memang, mau tak mau, haruslah pribadi yang kuat.

Persoalannya, saat ini, jika mengakhiri “jerat” HTS saja tidak mampu, bagaimana mungkin kuasa untuk melenggang ke tahap pacaran? Namun, ketimbang meributkan, juga menelaah, tata cara buat keluar dari zona HTS itu, ada baiknya menggali akar mula dari terciptanya model hubungan seperti itu.

Penyair kawakan Indonesia, Sapardi Djoko Damono (ingat-ingatlah lagi puisi “Hujan Bulan Juni” atau “Aku Ingin”-nya yang tersohor itu), saya kira, sudah membahasakan dengan tersirat pemicu terjadinya HTS itu dalam puisi “Hatiku Selembar Daun” berikut ini:

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini
Ada yang masih ingin kupandang
Yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
Sebelum kau sapu taman setiap pagi

Tentu selembar daun yang disebut Sapardi di atas hanyalah perumpamaan. Majas hiperbola dengan maksud merendah tersebut sengaja dia pilih untuk menimbulkan efek psikolgis yang besar: hati (dalam puisi) itu hanyalah selembar daun dan dia hanya ingin berada di sebuah halaman, buat menyatakan keberadaannya, sebelum akhirnya tersapu juga.

Sialnya, penyapu halaman itu tak lain dan tak bukan ialah orang yang ia puja. Puisi yang pemaknaannya bahkan bisa lebih jauh lagi itu, memang, menyiratkan dua hal penting soal hubungan percintaan. Pertama, kita, manusia, memang lemah: perasaan, harapan, dan hal lain yang berkaitan di dalamnya. Kedua, waktu, bagaimanapun sebentarnya, akan abadi – dengan peristiwa yang mengiringinya, akan dikenang selamanya.

Itulah mengapa, saya kira, pangkal-mula HTS ialah ketika tak ada yang benar-benar berupaya buat menyatakan dirinya, cintanya, dan keberadaannya kepada yang lainnya. Mereka hanya diam, menunggu, dan menanti hingga cinta, akhirnya, tertunda dan berujung pada kekalahan.

Padahal, jauh hari, penyair dan filsuf Pakistan, Muhammad Iqbal, sudah berkata, “Aku ragu ada dan tiadaku. Namun, cinta mengumumkan, aku ada!” Lantas, di hari-hari belakangan ini, ketika dua sejoli, yang, sebenarnya, dimabuk asmara, tak pernah berani keluar dari perangkap bernama HTS itu, yang mesti dijadikan kambing hitam bukanlah waktu atau kesempatan, melainkan bagaimana cara mengakhiri segala yang sedang atau pernah ada itu dengan indah – pacaran atau berpisah.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (11 Juni 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *