Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Malam Puisi

1 min read

Kalau ada agenda sastra (di Pekanbaru) yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya tiap bulan, barangkali, Malam Puisi (Pekanbaru) adalah jawabannya. Puluhan anak muda, baik pelajar maupun mahasiswa, niscaya akan memenuhi kafe yang digunakan untuk acara ini tiap kali perhelatannya.

Tapi bukan anak muda saja, pasti. Ada juga generasi berumur (untuk tidak mengatakan tua) yang akan tampak hadir dalam acara tersebut. Satu hal yang menyatukan mereka: keinginan untuk bersastra ria, yang tentu saja, lewat puisi.

Maka, di sini, kita tahu: sastra masih punya peminat, sekaligus penggemar, rupanya; sastra belum habis, dan bahkan, ia masuk ke sebuah ruang di masa silam ketika Sartre, sastrawan besar Prancis, menghasilkan karya-karyanya: kafe.

Dibesut oleh Reky Arfal (setelah sebelumnya Alpha Hambally) dkk., Malam Puisi yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini memang boleh disebut sebagai oase dalam keringnya acara-acara berlabel sastra di Pekanbaru, dewasa ini.

Baru-baru ini, memang, Riau Televisi mengeluarkan program baru untuk menumbuhkan kembali semangat berkesusastraan, terutama di Pekanbaru: Madah Poejangga. Dan dalam program yang berlangsung setiap Sabtu malam itu, akan ditemui nama-nama besar yang hidup dalam lapangan kebudayaan di Riau.

Tapi Malam Puisi tetaplah Malam Puisi. Sementara Madah Poejangga mewadahi para sastrawan dan pegiat seni kawakan dan punya nama, meski juga berusaha merangkul generasi muda, Malam Puisi tetap saja menawarkan hal berbeda: gairah anak-anak muda, lengkap dengan ironi: mereka hadir meski tak terlalu “gandrung” pada puisi.

Tapi apa pentingnya “gandrung” untuk “sesuatu yang memang sejak awal sudah teralienasi”, seperti puisi?

Dari kecil, kita disuguhkan pemahaman bahwa sastra itu puisi, dan puisi itu Chairil Anwar. Seakan-akan tak ada lagi nama-nama lain yang bisa mengakrabkan kita dengan dunia literasi ini selain nama si pengarang sajak “Aku” atau “Doa” tersebut.

Tapi begitulah Indonesia, rupanya. Dalam dunia yang terus bergerak ke arah modernisasi, puisi semakin “asing”, sastra makin terjepit dalam “sesuatu yang tak lebih penting” seperti belanja dan duduk-duduk sampai pagi. Sebab, sedari dini kita memang tidak diasuh dengan puisi, kita tidak diasah untuk mengoptimalkan intuisi.

Satu hal yang pasti: dalam seni, termasuk sastra, ada orang-orang cerdas yang menggerakkannya. Itu sebabnya dunia politik ada: untuk menampung mereka yang tersisih darinya.

Maka, dengan tema EPILOG, harapan kita, Malam Puisi Pekanbaru spesial akhir tahun ini, tidak terjebak kepada sebatas hegemoni dan seremoni. Tapi ia juga bisa sebagai refleksi, sekaligus evaluasi, paling tidak, bagi diri kita sendiri.

Tabik untuk Malam Puisi. Datang, dengar, dan bacakan puisimu![]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *