Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Loyalis

1 min read

Yang bersepaham dengan Jonru, belum tentu loyalis Prabowo. Sebab ia, boleh jadi, hanya sedikit kecewa dengan “naiknya” Jokowi.

Ini anekdot–sekaligus semiotika. Kita seolah tidak langsung tunjuk hidung; bahwa siapa saja yang sepakat dengan “ke-kritis-an” Jonru adalah mutlak pendukung Prabowo–kecewa ataupun tidak. Meski pada akhirnya, kita memang benar-benar tahu jika begitulah adanya.

Tapi kecewa adalah sikap, bukan sifat. Ia tidak datang dari ruang-ruang pribadi, ia tidak lahir dari permenungan; tapi ia muncul sebagai akibat dari suatu situasi.

Dan kita tidak tahu (dan sedang tak berusaha mencari-cari) situasi apa kiranya yang membentuk Jonru–terutama pasca-Pemilihan Presiden (Pilpres)–juga “jemaatnya” yang ramai itu; apa yang membuat ia bersikukuh jadi haters Jokowi hingga hari ini.

Tapi menyandarkan paradigma ini pada kekalahan Prabowo di Pilpres yang lalu adalah juga seperti memelihara kebodohan bahwa pendukung Jokowi tak mungkin bisa kritis pada sang jagoan. Rasanya, terlalu hipokrit.

Tapi yang tak hipokrit bukanlah yang tidak memihak. Kejujuran itu punya sisi, sebagaimana idealisme punya kepentingan tersendiri.

Jadi, berada di barisan Jonru atau menjadi oposisinya sekalipun, selalu ada bias di sana, ada yang janggal terasa. Sebab, kita memang tak bisa memonopoli suatu kebenaran–pun lagi melegitimasi sebuah kebohongan. Selalu ada jarak yang mesti diambil; dan bukan untuk menunjukkan, bahwasanya kita mandiri dan bisa idealis, sendirian; tapi agar kita mulai berpikir, lalu mengambil (atau membuat) perbandingan.

Sebab dari situ kita tahu, bahwa selalu ada orang-orang yang tak berpikir–meski “yang tak akan terpikirkan” itu juga tak pernah ada; semuanya pasti berpikir, tapi yang terpikir pasti tak semuanya. Ada yang terikat: pandangan; ada pula yang terlepas: pengkajian.

Seperti ketika Jonru keliru dan akhirnya meminta maaf perihal foto Jokowi di Papua itu, para jemaatnya–setidaknya bagi saya–adalah orang yang tak berpikir. Sebab kita tahu: berpikir juga bukan agar bisa gagah-gagahan untuk interupsi.

Berpikir, setidaknya, membuat kita mengerti: sebuah “pandangan/pemikiran”–dalam hal ini milik Jonru–sebaiknya menghasilkan interaksi yang berujung pada diskusi; bukan sekadar sikap kebersetujuan belaka, yang disimbolkan dengan “suka, ikut berkomentar, lalu share”, tanpa mau bersusah sedikit untuk “menemukan realita”, alih-alih “melahirkan kebenaran”. Dan melahirkan kebenaran itu berarti meniadakan protes.

Maka, bisakah kita mulai sadar bahwa Pilpres telah usai dan kita bukan lagi tim sukses yang mutlak dikendalikan partai?[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *