Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Lebih Dahsyat ketimbang Fiksi: Beberapa Kisah Tengah Malam

3 min read

Berjenis minibus, berwarna silver, mobil yang lima menit lalu melaju dalam kecepatan tinggi itu masuk ke parkiran sebuah rumah toko (ruko) yang dijadikan sebagai warung karaoke remang-remang. Lima menit lalu, dalam kecepatan lumayan tinggi, saya persis mengikuti mobil tersebut. Pengendaranya seorang lelaki.

Umur si lelaki saya pastikan belum sampai 40 tahun. Perawakannya kecil dan tingginya mungkin cuma 155 sentimeter lebih sedikit. Saya memastikan ciri-ciri si pengemudi itu saat 10 menit lalu menemukan mobilnya tiba-tiba menurunkan laju untuk parkir di tepi jalan masuk ke sebuah stadion sepakbola di kota ini.

Seseorang keluar dari mobil itu dan si lelaki juga, tetapi hanya sebentar. Siluet mereka bergerak di dinding dan dari sana tampak sepasang tangan bersalaman. Seseorang yang baru keluar dari mobil itu adalah seorang waria bayaran. Lima menit kemudian, mobil si lelaki telah melaju deras di jalan raya. Ia berbelok ke sebuah warung remang-remang, sementara saya meneruskan perjalanan ke rumah seorang teman.

Apa yang aneh dari pemandangan itu?

Buat sebagian besar orang yang tak punya referensi soal kehidupan malam, perangai si lelaki pengendara mobil mungkin tampak aneh: ia menyewa seorang waria bayaran dan tiba-tiba kini sudah ada di warung remang-remang yang menyedikan jasa perempuan. Namun, beginilah konon kisahnya: jasa “cuci penis” alias oral yang dilakukan oleh seorang waria diyakini mampu menyelamatkan lelaki hidung belang dari kuman HIV/AIDS. Biasanya, seorang pria melakukan itu dengan waria bayaran setelah menyalurkan libidonya seksualnya kepada penjaja seks perempuan.

Akan tetapi, sebuah konon tetaplah sebuah konon.

***

Tiga bungkus rokok menyelamatkan saya dari tatapan kesal empat orang waria bayaran. Seseorang dari mereka mendekat dan saya sempat kaget sebelum akhirnya berani bertanya, “Mau diwawancara?”

Mereka sedang mangkal di depan sebuah swalayan yang sudah tutup saat saya menepikan kendaraan di tepi jalan. Tatapan kesal mereka menjadi ucapan selamat datang yang tak mengenakkan perasaan. Meski begitu, saya tetap nekat berjalan ke arah mereka dan menepis semua petuah omong kosong soal salah satu kaum marjinal ini, yang di antaranya adalah kemungkinan besar akan disemburit beramai-ramai.

Jelas itu tak terjadi dan tiga bungkus rokok kini sudah berpindah ke tangan mereka. Saya pun bisa mengobrol dengan mereka setelah membawa satu alasan: saya mengenal kawan mereka yang pernah bekerja di salah satu lokasi esek-esek di kota ini. Tiga puluh menit kemudian, saya dan mereka membikin perjanjian: mereka tak akan menuntut saya jika nanti tulisan yang terbit di media akan menimbulkan masalah hukum.

Tiga hari berselang, saya putuskan untuk tak mengirimkannya dan catatan kecil tentang mereka itu saya buang. Hal itu terjadi setelah pada musim penghujan itu saya menemukan seorang waria bayaran berdiri di tepi jalan dengan payung di tangannya. Ia terus mengepulkan asap rokoknya dan saat memapasinya dengan kendaraan yang saya tunggangi, saya menemukan mata yang merah menahan tangis. Kala itu, dua hari lagi Lebaran tiba dan saya mendengar ia bilang, “Aku kangen kampung halaman, Bang, tapi nggak punya duit buat pulang.”

Malam itu, tak ada yang memakai jasanya.

***

Bapak-bapak, rentang usia 40 tahunan, botak di sekitar belakang kepalanya, dan mengenakan jaket hitam serta celana kain berwarna sama—rincian itu adalah gambaran saya atas seorang lelaki paruh baya yang sedang menepikan motornya pada suatu malam. Tak lama, seseorang keluar dari semak belukar dan naik ke motornya. Mereka berboncengan.

Dua jam kemudian saya kembali ke lokasi tadi dan menemukan sang waria sudah berada di sana.

“Kamu masih ingat saya?” ia bertanya, sepuluh menit kemudian, sambil tertawa geli.

Ia adalah satu dari empat waria bayaran yang beberapa waktu lalu saya temui di depan sebuah swalayan yang sudah tutup itu. Malam itu, ia pindah mangkal ke lokasi ini karena berharap penghasilannya lebih tinggi karena di tempat tersebut tak ada saingan. Benar saja, belum lama mangkal, pemasukannya sudah lumayan.

“Oh, Bapak tadi?” ia berkata, menjawab pertanyaan saya soal lelaki yang 40 tahunan itu. “Itu pemain lama.”

Saya tak kaget mendengar pengakuannya. Empat tahun sebelum hari itu, saya sering menemukan pelanggan waria bayaran yang justru didominasi oleh pria dengan usia yang tak lagi muda. Biasanya, kata seorang teman, mereka adalah lelaki kesepian yang berahinya terlampau tinggi untuk mampu dipuaskan oleh sang istri. Kata teman saya lagi, ketimbang “menahan dahaga”, menyewa waria bayaran adalah salah satu alternatif paling masuk akal. Alasan klisenya: tarif mereka lebih murah dan servisnya “gila-gilaan”.

“Apa kamu tahu kalau aku nggak diapa-apain sama itu orang?” tiba-tiba ia bertanya.

Saya tetap diam.

“Dia cuma ajak aku keliling-keliling dan makan nasi goreng tenda pinggir jalan. Sumpah.”

Saya hanya tersenyum mendengarnya.

Pukul 02.00. Saya pamit pulang dan di sepanjang jalan, jumlah lelaki dewasa yang saya temui nongkrong di warung remang-remang kian meningkat. Apakah mereka semua kesepian? Tak ada penah benar-benar tahu kecuali diri mereka sendiri dan Tuhan.

***

“Aplikasi chat yang satu ini memang sarangnya waria,” kata teman saya, mengomentari pengalaman yang baru saya ceritakan kepadanya.

Jadi, sebelumnya itu begini:

Saya iseng menginstal aplikasi pesan singkat yang namanya sempat melejit beberapa tahun lalu. Hal itu setelah seorang teman mengeluh karena wartawannya gagal mengonfirmasi polisi soal pemberantasan praktik prostitusi daring (online) yang pengungkapannya sedang marak dilakukan di beberapa kota. Keisengan saya pun muncul karena itu.

Adapun aplikasi itu, kata beberapa teman, secara tak langsung memang sering dijadikan sebagai tempat untuk transaksi “jual diri” oleh beberapa oknum. Ketika saya masuk, tampak beberapa perempuan yang mengiklankan diri mereka lewat status mereka dan saya kira itu lumrah terjadi di sini. Namun, yang tak saya ketahui adalah seorang waria juga ikut mengaso di sana. Keisengan saya kembali muncul karena itu.

Berbasa-basi lima menit, saya langsung ke inti persoalan dengan bertanya, “Kamu bisa di-order?”

Tidak, jawabnya.

“Apa kamu bisa ditemui?”

Ia bilang, “Tentu.”

Semenit kemudian, foto sebuah salon (tempat pangkas rambut pria) ia kirimkan ke aplikasi saya. Ruangannya penuh benda-benda dan kebanyakan berwarna merah muda, mulai dari sisir hingga sepatu yang teronggok di dekat rak. Foto seseorang tergantung di dinding, tetapi tak jelas siapa.

“Kamu ke mari aja,” tulisnya lagi. Ia mengirimkan sebuah alamat.

Saya kenal alamat itu.

Beberapa tahun sebelumnya, seorang kawan berkisah tentang pengalamannya bertemu dan berkencan dengan seorang waria dan lokasinya persis sama dengan alamat tersebut.

“Kau tak akan percaya, mereka akan pakai sedotan untuk menarik sperma-mu!” ucap kawan itu, dulu. Saya kaget.

Saat itulah aplikasi saya kembali menerima pesan baru, “Jadi ke sini apa nggak?”

Saya tak membalas. Semenit kemudian, aplikasi itu menghilang dari gawai saya.

***

“Kamu tahu, kisah kaum kalian ini lebih dahsyat ketimbang fiksi?” tanya saya kepada seseorang yang saya temui di tepi jalan. Ia seorang waria bayaran yang baru keluar dari lokasi percumbuannya, sebuah semak belukar.

“Iya? Bagus dong itu!” katanya dan tertawa. Ia kini mendekatkan batang rokok ke bibirnya.

“Memangnya kamu tahu fiksi itu apa?”

“Enggak …”

Giliran saya untuk tertawa pun tiba.

“Fiksi itu kisah tengah malam,” saya berkata.

Ia kembali tertawa.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *