Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

LDR Terjauh dan Kita

3 min read

Apakah Long Distance Relationship (LDR) terjauh di dunia ini?

Anak muda itu, Pagor (bukan nama sebenarnya), bilang, “LDR terjauh itu ketika pacaran beda kota, beda provinsi.”

Namun, faktanya, kekasih pemuda 21 tahun itu berada di kota yang sama dengannya. Kediaman keluarga mereka cuma terpaut 15 menit perjalanan jika mengendarai sepeda motor.

Agaknya, Pagor tak mengerti benar apa itu LDR; ia dan sang kekasih “baru” beberapa bulan belakangan berpacaran. Meski bagi Pagor itu asmaranya yang kedua, ia tak juga bersua esensi dari hubungan tersebut: menemukan. Sementara, si perempuan —yang usianya baru 19 tahun itu- baru kali itu jatuh cinta dan berpacaran.

“Beda kota, beda provinsi cuma perkara geografis, anak muda,” orang-orang tua akan berkata seperti itu seraya tertawa kepada Pagor dan kekasihnya. “Cinta selalu punya cara buat mengatasi itu.”

Seperti Pagor, yang juga tak memaklumi perkara jarak lainnya dari istilah LDR terjauh adalah Stella (juga bukan nama sebenarnya).

Gadis asal Medan, Sumatra Utara, itu baru dua bulan menyandang status single — selain kebodohan, ia benci jika ada yang menyebutnya jomblo. Muasal perpisahannya dengan sang kekasih cukup unik: mereka sama-sama berterus terang soal hubungan yang, menurut agama dan ukuran budaya Indonesia, terlarang, yakni perbedaan agama.

Meski tak menyesali itu, Stella sering menggerutu, “Kalau tak direstui, toh bisa kawin lari ke luar negeri.”

Akan tetapi, bagi sang pacar —sebagaimana jamak ditemukan pada kebanyakan lelaki di tanah air yang terikat kepada tata krama dan budaya-, kepatuhan terhadap orangtua tetap menjadi prioritas utama hingga ia urung melamar Stella.

Lantaran hubungan itu terasa tak mungkin, malam itu terasa sangat dingin: dua perasaan terbelah karena LDR terjauh — dalam kata-kata Stella.

“Langit kami sama, buminya juga. Tapi, rumah ibadah kami berlainan,” tuturnya.

Seharusnya angin ikut bergidik malam itu saat mendengar suaranya…

Lain Stella, lain pula Alina. Tokoh fiktif yang menjadi legenda dalam cerita pendek Seno Gumira Ajidarma itu menyahut ketika ditanya soal LDR terjauh, “Tentu saja saat aku dan Sukab gagal bertemu dan dia cuma mengirimkan senja bodoh itu buat menebus kerinduanku.”

Alina, yang kini dalam kisah ini berumur lebih dari 60 tahun, kembali menyela, “Ya, karena aku dan dia beda dunia. Dia sudah enak di surga, sedangkan aku masih tertatih sendirian menempuh jalan kehidupan di dunia.”

Ya, Alina dan Sukab kini berada dalam LDR terjauh, setidaknya. Sebab, cinta mereka cuma bertemu dalam doa-doa Alina kepada si pengirim senja terbaik di dunia buatnya. Namun, bukankah semasa hidup, cinta sepasang kekasih juga bertaut dalam bahasa yang, dengan istilah Goenawan Mohamad, “membuat kita sadar kalau kita cuma debu” itu?

Benar, agaknya. Akan tetapi, selagi masih sama-sama bernyawa, sepasang kekasih masih bisa bertukar kabar lewat pesan-pesan dalam rupa-rupa aplikasi yang tersedia saat ini — sesuatu yang tak mungkin ada jika salah satunya mati.

Hal itu yang kemudian membuat Alina bersedih, tetapi tetap optimistis, “Aku akan menyusulnya, dan di sana, kami akan melukis senja paling indah untuk selamanya.”

Terpaut 40 tahun lebih muda, kini ada kisah soal Johari dan Pitaloka. Keduanya masih dalam tahap pendekatan, sebenarnya. Namun, lantaran cinta di antara mereka melimpah, jarak akhirnya hilang dalam kamus hidup keduanya.

Kini, coba sodorkan pertanyaan apa LDR terjauh di dunia dan kita akan menemukan jawaban yang sudah bisa diduga dari mana gemanya.

“Ketika Johari tidak jemput aku tiap malam Minggu,” kata Pita.
“Tentu saja saat aku nggak denger suara Pitaloka semalam saja,” timpal Jo.

Orang-orang tua yang mendengar itu punya kosakata yang ditarik dari kurun ini dan sudah masuk entri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) teranyar sementara ini: lebay. Ya, keduanya agak lebay untuk kisah cinta satu kota.

Lantas, apakah LDR terjauh di dunia ini?

Johari dan Pitaloka seharusnya mendengar kisah si Satuklinov: ia dan sang gebetan tinggal tak berjauhan; kos mereka dekat saja, sekira 5 menit dengan berjalan kaki. Tiap hari bertemu muka dalam pelbagai aktivitas luar kamar: makan, nongkrong, nonton, dan senarai lain yang bisa ditambahkan seperlunya. Mereka juga punya minat yang sama dan karena itu tergabung dalam sebuah komunitas.

Cinta melahirkan jarak, kata orang, dan begitu juga sebaliknya. Akibat terlalu (sering) berdekatan, keduanya hidup dalam bayang-bayang “perasaan yang berakhir biasa saja”.

Cinta membuat waktu cepat berlalu, kata orang, demikian sebaliknya. Hal itu juga terjadi dalam pasang-surut asmara Satuklinov dan gebetannya. Dua bulan bersama-sama, mereka akhirnya berpisah. Secara baik-baik, memang, tetapi mereka gamang: apakah ke depannya akan ada cinta berikutnya? Sebagaimana kita, mereka pun tak tahu.

Usut punya usut, sebelum berpisah, Satuklinov dan sang gebetan ternyata memang sudah kurang “nyambung”: gawai masing-masing telah membuat mereka kian asing; kebersamaan, dalam pengertiannya yang dekat, tertunda.

Ketika berhadapan di meja makan, suatu malam, Satuklinov membentak gebetannya itu karena nasi goreng yang dipesannya sudah tandas, sedangkan si bakalpacar tersebut masih berkutat dengan gadget-nya. Kali lain, saat sang gebetan sedang serius bercerita soal “tukang intip” di asrama putri-nya, Satuklinov malah khusyuk membaca semua direct message yang masuk ke handphone-nya sambil sesekali memberi atensi, “Hmmm ….”

Terang saja malam itu pipi Satuklinov menerima sambaran tangan halus sang gebetan. Sejak itu, dia berjanji akan mendengarkan apa saja keluhan dari orang yang dicintainya. Akan tetapi, janji tinggal janji karena pada akhirnya sang gebetan memutuskan untuk pergi.

Satuklinov yang malang, yang asmaranya tak selempang jalan ke kos-kosannya itu, akhirnya mesti pecaya jika cinta ternyata soal perjuangan. Meski tak seekstrem perjuangan pasangan Sayuti Melik dan SK Trimurti yang legendaris itu, setidaknya ia akan paham satu hal di sini: hidup soal menemukan, cinta soal keberlangsungan.

Soal LDR terjauh? Masing-masing tentu punya definisi, dan jarak terbesar, kata orang bijak itu, memang cuma ada di pikiran.

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (7 Januari 2018)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *