Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Kurban (Tanpa) Perasaan

2 min read

“Tuhan hanya ‘bersandiwara’ ketika menyuruh Ibrahim menyembelih Ismail,” ucap seorang khatib dalam satu khutbah Iduladha lalu.

Tentu saja maklumat itu benar — karena itu pula banyak jemaah yang mendengar pernyataan tersebut, menangis. Sebab, ketaatan, sebagaimana sering diulang-diulang para guru mengaji kita, bertumpu kepada iman.

Kita ingat setelah itu: iman lebih tinggi derajatnya ketimbang pengetahuan. Yang merumuskan ketetapan itu: agama. Diam-diam kita menolak, tetapi lebih sering bersetuju.

Mungkin itu karena kita masih punya perasaan — mungkin juga tidak.

Dulu ada seorang pria paruh baya, pada 2011, yang berkurban seekor sapi. Ia taat, memang, dan punya hidup yang rapi: salat lima waktu di masjid. Di waktu lain, ia berdagang.

Ada bisikan ketika sapi milik pria itu akan disembelih, “Berkurban bisa, tapi bersedekah untuk tetangganya yang miskin payah minta ampun.”

Pantaskah iman diduga — kedalamannya, manfaatnya, atau akibatnya?

Mungkin tidak, hingga ini yang terjadi: ketika daging selesai dibagi, situasi agak gaduh karena warga tak mau menerima bagian kurban dari orang yang kurang berderma. Pria paruh baya itu bahkan harus datang ke masjid dan berbicara dari “hati ke hati” dengan warga demi mendinginkan suasana.

Orang kurang mampu punya kuasa, memang, bila mereka bersama dan di saat seperti itu lah orang berada sadar bahwa ia hanya “pengecualian” kecil dari sistem sosial di negeri ini.

Tahun-tahun setelah itu kemudian berjalan tanpa “perasaan”: tak ada lagi yang “berisik” perkara daging si Anu atau kurban yang tak diterima Tuhan karena kurang bersedekah. Mungkin, itu karena sebelumnya mereka alpa: tiap syariat, termasuk sedekah dan kurban, bukan sekadar soal memberi dan menerima atau pahala dan dosa.

Pasalnya, di situ, sejak lama, bertaut kasih dan sayang, penghormatan, juga kemerdekaan tanpa pamrih. Sekantong daging itu seakan berkata, “Dari sini, makan enak sehari untuk kegembiraan yang langgeng masanya.”

Namun, manusia urban hampir tak mengerti itu; egoisme telah merebut kepercayaan bahwa berbagi tak boleh diartikan sebagai mengurangi milik pribadi — kita sering galau karena itu.

Bagi anak muda, “kerikil kecil” itu seakan berada di dalam sepatu: mereka lepas seseorang dengan hati kecil yang tak menerima dengan lapang; mereka terima seorang lainnya, tetapi luka lama itu masih meruyak di dalam dada.

Karena sering galau, kita sebut itu berkurban perasaan. Sentimentil, kedengarannya, tetapi tak mengena — barangkali karena “sedih adalah bagian dari ketidaktahuan”, seperti penggalan puisi Goenawan Mohamad. Itu lantaran ritus kurban yang tak seharusnya ada, lewat perasaan, dihadirkan.

Padahal, jika mau sedikit terbuka, kita bisa menangkap itu sebagai bagian dari sejumlah kejutan yang biasa dihamparkan hidup: usia, rezeki, dll.

Namun, karena sering galau, kita sulit menerima peralihan perasaan (pindah ke lain hati) itu sebagai sebuah alegori. Kita cemas, kemudian, dan mulai membayangkan tak ada apa-apa lagi di luar sana.

Kurban perasaan lahir dari situ dan sebuah pakem mulai disetujui: tiap rasa yang terlampau dalam, ibarat lubang, tentu tak sebentar menimbunnya. Akibatnya, luka bakal lama buat sembuh, sedangkan penawarnya cuma realita: sendiri, terasing — seakan-akan dunia cuma udara yang penuh tinggam.

Meski begitu, istilah —bukan hakikat- kurban perasaan tersebut juga penting: ia akan mengingatkan orang-orang di zaman berikutnya untuk lebih santai dan terbuka dalam menerima garis takdir — kenyataan terburuk sekalipun.

Seperti kisah pria paruh baya tadi, anak muda juga akan mengerti: tiap jalinan asmara punya waktu dan tempatnya sendiri — yang sering tak jelas dan asing. Di sisi lain, mereka pun akan tahu kalau tiap yang bertaut juga bakal menemui nasib utuk diperceraikan suatu waktu.

Sebenarnya, itu cuma perkara “jodoh” atau tidak. Sayangnya, Tuhan tak pernah bersandiwara soal ketetapan yang satu itu.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (3 September 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *