Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Kolonialisme dan Imperialisme, Tanpa Epilog dalam Pementasan “Wak Zam”

5 min read

Wacana kolonialisme dan imperialisme, dalam konteks perdebatan antara pro dan kontra, menurut Arundathi Roy, seperti mendebatkan pro dan kontra pemerkosaan. Ia bersifat destruktif di satu sisi, sedang di sisi lain terlihat konstruktif. Dalam kasus pemerkosaan, si pemerkosa adalah pihak yang menerima langsung nilai-nilai konstruktif tersebut. Meski ia menyadari, bahwa nilai-nilai destruktif telah lahir juga dari tindak asusilanya itu. Nilai-nilai destruktif semisal trauma dan gangguan psikis lainnya. Dan masih dalam pengamatan Arundathi, kita mendapati si korban pemerkosaan ini sebagai si penerima yang juga mengalami hubungan itu.

Hubungan yang hampir-hampir tidak bermanfaat bagi si korban tersebut, sebenarnya bertendensi yang —untuk tidak mengatakan sama— hampir mendekati bagi si korban. Sedikit-banyaknya ia pun pasti ikut merasakan bagaimana proses pencarian kepuasan si pemerkosa melalui dirinya tadi. Bahkan di suatu kesimpulan terburuk, kita malah menemukan si korban mengalami kecanduan pada hubungan yang mulanya terasa menyakitkan dan menyulitkan ini. Si korban mulai merasa dan menjadikan apa yang menimpa dirinya itu sebagai kebutuhan, untuk masa selanjutnya. Kebutuhan yang tak lagi ia penuhi dengan pemerkosaan, tapi dalam sebuah hubungan yang tak menyakiti, baik dirinya maupun si pemuas kebutuhan itu.

Dalam konteks keadaan kolonialisme, jika kita berpijak pada analogi Arundathi di atas, maka akan muncul sebuah pemahaman bahwa kebutuhan sang terjajah pada mereka yang menjajahnya, selain dilayani, adalah rasa aman, dari hubungan yang sejatinya timpang itu. Ada kekhawatiran tersendiri di pihak terjajah jika si pemuas nafsunya tadi tak lagi bisa melindungi (kehendak) dirinya ini. Dan kita dapati, keinginan itu sendiri pada akhirnya, mengalami perpindahan wujud menjadi kebutuhan. Sampai di titik ini, peluang bagi si terjajah untuk lepas semakin tidak mungkin. Sedangkan bagi penjajah, hal ini adalah untung yang tak dapat dan tak mungkin ia abaikan. Dua keadaan yang begitu bertolak belakang adanya, tapi tetap menampilkan sisi mutualisme. Hubungan yang jernih di permukaan, tapi sebenarnya betapa keruh di dalam.

Tarik-ulur hubungan penjajah dan terjajah di atas, disuguhkan pada pementasan teater Wak Zam, Senin dan Selasa (22 dan 23 Desember 2014) yang lalu di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, oleh Teater Sanggar Titah Negeri. Mahasiswa Universitas Riau yang mendominasi jalannya pertunjukan tersebut, kembali menerakan pada mereka yang datang, bahwa hubungan pemerkosaan (dalam analogi Arundathi Roy) adalah persoalan mendasar yang tak akan pernah selesai dipentaskan. Ia berkelindan dengan berbagai hal yang juga begitu elementer bagi manusia. Dalam hal ini tentu saja batin (perasaan) adalah yang paling akar dari masalah kolonialisme. Untuk si terjajah, batin merupakan pintu masuk bagi segala hasrat dan keinginan si penjajahnya kelak. Tak dapat disangkal, batin adalah aspek utama yang harus ditaklukan lebih dahulu sebelum sampai pada penjajahan fisik dan kebendaan. Dan dari pementasan Wak Zam malam itu, batin pertama yang hendak dan pada akhirnya dapat juga ditaklukkan adalah batin seorang raja. Wak Zam yang menitik beratkan pesan moral dan kritik sosialnya pada perlawanan seorang tua yang tak pernah usai ini, memang mengambil latar pada zaman kerajaan-kerajaan, terutama di bumi Melayu. Masa-masa di mana elit pribumi yang diwakili oleh raja-raja dan para pembesarnya yang begitu mudah berkompromi dengan tipu-daya asing (kaum penjajah).

Di masa itu, raja adalah simbol dan seluruh representasi dari kekuasaan (daulat) yang bulat penuh. Wewenang yang besar dan limpahan tanggung jawab pada pundaknya, terkadang menjadikan ia merasa terisolasi dari kehidupan yang wajar. Inilah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari seorang raja. Tidak terkecuali orang-orang terdekatnya semisal pembesar-pembesar yang oleh raja dirasa dapat dipercaya. Berbagai intrik akan tersaji demi kepentingan-kepentingan itu. Pada pementasan Wak Zam, kepentingan itu mengemuka lewat patih dan panglima yang bersekutu untuk merebut kekuasaan sang raja yang sangat besar. Mereka berkomplot untuk memuluskan rencana pembangunan dermaga yang sedianya dibiayai oleh asing. Meski pada akhirnya penonton mengetahui, bahwa kekuasaan sang raja itulah yang menjadi tujuan utama dari persekutuan ini.

Wak Zam, yang juga menjadi judul pementasan ini, adalah tokoh yang tentu saja juga memainkan peran penting selain orang-orang di lingkar kekuasaan tadi. Sebagai cerminan dari budaya perlawanan dan bagaimana seseorang merasa mewarisi tanah airnya, Wak Zam pun berbuat, yang meski kecil, namun menunjukkan kesungguhannya untuk terus bertahan. Ia seakan menjadi karang terakhir yang masih berdiri di antara hempasan ombak keserakahan. Nilai-nilai ketimuran dikedepankan oleh sosoknya melalui kesadaran bahwa bumi yang ditempatinya tak serta-merta rusak oleh perilaku alam. Tapi lebih dikarenakan ketamakan manusia dan motif-motif keuntungan sepihak. Hidup sebagai orang terakhir di pulau yang didesuskan akan tenggelam, Wak Zam juga telah menjelma bufferstaat (daerah penyangga) antara kepentingan yang menajam dan idealisme yang terkikis, sebagaimana keadaan pulau yang ia tempati.

Tinggal di pulau bersama seorang istri dan anak yang kurang mendukung keputusan “berani” tersebut, Wak Zam adalah wajah-wajah masa silam dari sebuah pembangkangan kepada otoritas dengan keputusan mereka yang tidak berpihak pada rakyatnya. Lantas bagaimana refleksi dari perlawanan Wak Zam jika dikaitkan dengan masa sekarang ini? Dewasa ini, model perlawanan tentu mengalami sekian transformasi bentuk, dari radikal kepada sedikit kooperatif, dari bawah tanah sampai perdebatan kusir yang sebentar bak angin yang semilir. Pun semua itu akhirnya tetap saja menunjukkan tanda-tanda bahwa perlawanan masyarakat akan selalu ada. Perlawanan terhadap penindasan yang tak pernah dikatakan benar meski pro dan kontra di atas juga tidak dapat terbantahkan.

Mereka yang terjajah pada hari ini, telah merasakan bagaimana sebuah imperium tengah dibangun dengan tapak perekonomian. Transasksi keuangan, perniagaan, dan hal-hal lain dengan motif ekonomi telah menjadi batu pijakan bagi kelanggengan sebuah kolonialisme. Dan untuk tidak menutup mata, penjajahan atas nama ekonomi itu, memang hanya dapat bertahan jika penguasa melegitimasi tindak-tanduk sang penjajah di wilayahnya. Inilah yang juga tergambar dalam pementasan Wak Zam. Perkawinan budaya —memakai istilah Pramoedya Ananta Toer— antara feodalisme dan pribumi yang kehilangan nilai-nilai keluruhannya, nyatalah menjadi cap untuk keabsahan kaum penjajah dalam mengeruk kekayaan sebuah kawasan.

Keadaan yang akan dan kelak darurat serta kacau (chaos) ini, sejalan dengan pendapat Andre Gunder Frank, yang menyebutkan bahwa kolonialisme sebenarnya menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi dan menghambat kesuksesan ekonomi. Akses masuk yang besar bagi kaum kolonial telah memaksa pribumi untuk kalah di negerinya sendiri. Dan di saat ini, kekalahan itu ditandai dengan menjamurnya investor luar negeri. Lemahnya daya saing masyarakat adalah faktor kunci yang memperburuk kondisi. Jika di masa lampau kita mengenal politik pintu terbuka, hingga investor berbondong-bondong dan merasa terpanggil untuk datang ke Nusantara, maka pada hari ini, pintu itu tidak saja terbuka. Ia lebih kepada rumah yang seperti sengaja dikosongkan dan investor sendirilah yang akan mengisinya. Sebuah keadaan yang dengan kasat mata terlihat seperti mematangkan perekonomian bangsa penerima, padahal dalam kacamata keadilan, hampir-hampir ia tidak berdampak bijak. Ada semacam korelasi yang timpang di sana. Dan dalam Wak Zam, hubungan timbal balik yang tak sehat itu dapat kita telusuri ketika pembangunan dermaga itu selesai nanti.

Dalam sebuah sajaknya, WS Rendra juga telah menuangkan kegelisahannya pada keadaan ini lewat larik-larik: /Jalan lalu lintas pada masa kini/ mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,/ adalah alat penyaluran barang-barang asing dari/ pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan/ bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan./ Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus, tidak untuk petani/ tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong./

Kegelisahan semacam inilah yang terus melintas dari percakapan-percakapan Wak Zam bersama istri dan anaknya. Meski apa yang diutarakan Rendra dalam sajaknya, tidak serta-merta ditampilkan dalam pementasan tersebut, tapi benang merah yang coba diurai Wak Zam melalui mimik dan percakapannya itu, cukup memberi pengertian pada penonton untuk konteks kegelisahan Wak Zam yang —sedikit untuk menyeluruh— tersebut. Sosoknya, saya kira, telah menjelmakan mosaik-mosaik kesedihan itu dengan cukup apik. Namun perlu digarisbawahi adanya, jika perlawanan batin Wak Zam itu didukung oleh benturan-benturan fisik dan bagian-bagian dari pementasan yang mewujudkan perlawanan itu sebagai sesuatu yang dinyatakan, tentu akan lebih baik dan menjadikan tokoh Wak Zam menjelma sebagai sosok dalam epik-epik sejarah (perlawanan).

Kematian sang raja di akhir cerita dalam lakon ini, ditandai dengan naik takhtanya salah seorang pembesar istana, sejalan dengan pendapat Franz Fanon bahwa kolonialisme merusak politik, psikologi, dan moral negara terkolonisasi. Gesekan-gesekan kepentingan yang pada akhirnya mencederai kesatuan sebuah negeri yang awalnya damai dan sentosa. Politik sebagai salah satu aspek penting kehidupan kerajaannya itu, mendapat gangguan baik dari luar maupun dari dalam tubuh kerajaan itu sendiri.

Sementara dari sisi psikologi, ada semacam gangguan psikis dan mental, entah itu bagi sang raja, pembesar, atau rakyatnya, yang berpangkal dari praktik-praktik kolonialisme. Gangguan psikis yang tidak hanya melemahkan daulat sebuah kerajaan, namun juga melemahkan orang-orang hidup setelahnya. Sebab disadari atau tidak, pemikiran-pemikiran feodal itu akan terus “terwariskan” pada generasi-generasi berikutnya. Seumpama kepergian Belanda dari bumi Nusantara yang sampai detik ini masih menyisakan artefak-artefak pemikiran destruktifnya, seperti korupsi. Pemikiran-pemikiran yang menjadi racun bagi keturunan-keturunan si terjajah yang sampai hari ini belum mendapatkan penawarnya.

Seperti kolonialisme yang entah kapan akan berakhir setelah di abad baru ini berhasil bersalin rupa menjadi sebentuk penjajahan yang sangat sistematis dan menyakiti dari dalam. Corak-corak penguasaan zaman baru yang tidak lagi menggunakan kekuatan fisik sebagai aspek utama. Meski di sudut lain, Wak Zam dan karakter-karakter perlawanan (lain) pada kolonialisme juga tak akan pernah padam. Sebab sekalipun pementasan itu selesai, tapi epilog bagi kolonialisme tetap tak dapat kita temukan. Seperti dalam sajaknya, Goenawan Mohamad menuliskan, /Teater, sutradara selalu bergumam/ hanya kehidupan dua malam./ Dan perlawanan itu akan diteruskan di luar pertunjukan, dengan epilog yang masih mencari-cari bentuknya di masing-masing individu, entah sampai kapan.[]

Tulisan ini tayang di halaman “Esai” Riau Pos, Ahad (11/1/2015)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *