Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Khawatir

2 min read

Berhentilah untuk khawatir apabila pada hakikatnya semua memang akan berakhir ….

Empat puluh sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam kehidupan Parinem. Sebab, lebih dari separuh masa hidupnya itu dilewati dalam duka: ia dan suaminya mesti terusir jauh dari kampungnya: Cilacap, Jawa Tengah.

Hal itu bermula dari penangkapan terhadap adiknya. Tindakan ofensif–berupa “pembalasan”–dari orang-orang yang tak senang, atau juga yang pernah jadi korban, dari partai terbesar keempat dalam pemilu 1955, Partai Komunis Indonesia (PKI), menjadi pangkal dari seabrek “kesialan hidup” yang mesti ditanggung Parinem sekeluarga. Diinisiasi aparat Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), upaya pelenyapan terhadap keluarga para simpatisan partai yang diketuai DN Aidit itu semakin punya arah: dibunuh atau terbunuh. Dari kota yang konon hanya punya satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) itu, Parinem akhirnya mesti “berjalan lebih jauh”; Parinem menembus ruang dan waktu.

Parinem menceritakan itu kepada saya dengan hati yang diliputi kesedihan–barangkali juga dengan dendam. Tapi ia tak menangis saat itu; ia bercerita lepas, seakan-akan ia mengerti jika duka tak mesti mendekatkan kita pada kecengengan.

“Petaka itu bermula dari sebuah gong,” katanya.

Adiknya, yang tak berafiliasi dengan partai apa pun saat itu, dikisahkan menerima titipan berupa sebuah gong. Alat musik pukul itu ditumpangkan oleh seseorang yang mengaku bergabung dalam barisan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dipimpin oleh Njoto, lembaga yang bermarkas di Jalan Cidurian 19, bilangan Menteng, Jakarta Pusat itu sempat diklaim sebagai penggawa kebudayaan dan kesenian pada masanya, terutama saat “Demokrasi Terpimpin”. Parinem tak tahu itu, tapi, sebagaimana orang-orang di sana, ia suka ludruk. Gong itu adalah perangkat pertunjukan yang penuh kritik sosial itu, dan yang kelak membuat nasib memukul-mukul dinding jantungnya.

Seperti suara gong, Parinem tahu, dan sadar, jika tahun-tahun itu nyaring, tetapi sedikit “berisik”: politik tengah jadi panglima. Dan dalam situasi “berkabut” itu pula, akhirnya, ia berkabung.

Hatta, suatu malam di tahun 1966, sekelompok orang mendatangi kampungnya. Kantor kepala desa diperiksa, atribut-atribut PKI, dari bendera hingga gong yang berdiam di rumahnya, dikumpulkan di sebuah lapangan, sebelum akhirnya dimusnahkan. Parinem tak kenal orang-orang itu–kecuali segelintir oknum yang ditengarai sebagai “penunjuk jalan”.

“Saat mereka tiba, saya masih tidur. Mungkin sekitar pukul 02.00, kami dibariskan di depan kantor. Pak kepala desa, kata saudara saya, sudah digebuk duluan,” ujarnya.

Jawa Tengah, di masa itu, memang “rumah besar” bagi PKI. Bahkan dalam pelariannnya, Aidit tak memilih tempat lain untuk kabur; ia ke Jawa Tengah, sebelum akhirnya tewas di Boyolali. Dari provinsi yang pernah jadi basis bagi tokoh radikal macam Semaun itu pula, ditambah kejadian nahas yang menimpa kepala desa Parinem itu, saya teringat Surakarta.

Dalam film dokumenter Jembatan Bacem (2012), pembantaian terhadap orang-orang kiri di tanah kelahiran Joko Widodo itu seolah jadi aksioma. Eskalasi suhu politik menyebabkan Surakarta, yang “merah”, dari rakyat hingga pejabat, seketika berubah jadi ladang pembantaian. Wali Kota Solo, Oetomo Ramlan, yang juga simpatisan PKI, bahkan tak jelas juntrungannya. Ia, yang pernah “menyelamatkan” Aidit itu, barangkali “dibon” (dalam istilah pembantaian terhadap orang-orang Surakarta di Jembatan Bacem) duluan. Tapi mungkin, tak seperti Aidit, nyawanya tak harus melayang di bawah deru peluru satu magasin penuh.

Sedikit beruntung dari orang-orang di Surakarta itu, Parinem dan keluarganya tak sempat “dibon”. Adiknya, yang masih muda belia, lari ke Sumatra. “Paman saya yang di Muhammadiyah bantu dia kabur ke Lampung,” kata Parinem. “Dan sejak saat itu, kami tak pernah bertemu.”

Bersama suaminya, Parimem juga terusir ke Sumatra. Beberapa bulan di Bengkulu dan tinggal di rumah kerabat, ia melanjutkan perjalanan ke Medan, sebelum memilih hidup dan menetap di Pekanbaru. Di Kota Bertuah itu ia tinggal di sebuah ladang. Tanah itu milik seseorang yang bekerja di Chevron. Parinem tak mengontrak meski tak sepenuhnya bisa bebas. “Sekadar menjaga saja. Daripada ditumbuhi ilalang, dari pertama tiba, ya, saya garap,” ujarnya.

Barisan pohon pinang memagari sekitar ladang, menjaga sekeliling rumah Parinem. Seorang cucunya tengah membasuh piring ketika kali pertama saya datang ke sana, sedang Mbah Joko, suami Parinem, baru selesai menebas semak di sisi selatan rumah. Untuk menambah penghasilan, pria yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu sering membantu membersihkan ladang tetangga, dan Parinem, yang mahir memijit, sering menerima panggilan dari rumah ke rumah.

Itulah muasal perkenalan kami. Parinem saya jemput-antar hari itu dan hanya hari itu saja. Tapi darinya saya belajar untuk mulai menerabas rasa cemas dan meminggirkan rasa kahwatir.

“Kamu masih muda dan belum pernah terusir. Jadi, tak usah khawatir kalau melangkah. Masa depanmu masih panjang, Mas,” ucapnya. Saya tak menjawab dan hanya mengangguk pelan.

Di jalan pulang, tak ada hujan senja itu, tapi pipi saya rasanya lembap sekali ….[]

Catatan: Parinem dan Joko bukanlah nama sebenarnya

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Refleksi

Avatar Boy Riza Utama
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *