Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Ketika Ema Dibakar

1 min read

Ketika Ema dibakar, burung-burung dan satwa lain, juga pohonan, di sekitar lokasi itu menjerit dalam bahasanya sendiri. Namun, api terus berkembang di tubuh seorang perempuan dan kita tahu bahwa suara apa saja akan “jatuh ke dalam” tiap kali menyaksikan itu semua.

Sang pacar juga menyadari hal itu. Meski begitu, ia, lelaki yang menginjak 27 tahun, adalah manusia yang cukup matang, tetapi dengan api di tangan — akumulasi dari kebencian, juga dendam, berikut penyesalan.

Di kepala si pria itu mungkin ada sebaris pertanyaan: Kenapa Ema harus mengandung? Kenapa segalanya harus berubah menjadi tanda untuk berkabung?

Kita dengar juga ini: anak-anak, yang lahir, tetapi gugur atau meninggal sebagai janin, tak pernah salah, memang. Yang memilukan, dan terjadi atas Ema, ialah janin itu tumbuh bersamanya. Enam bulan, dari hasil pemeriksaan.

Lantas, lelaki itu tak tega — kepada dirinya, tentu saja. Jika pada masa sebelum ini tiap kali perempuan dinodai dan di tubuhnya ada janin yang tak dikehendaki, berarti nasibnya bergantung kepada aborsi, pacar Ema itu justru berlaku lebih sadis lagi: ia membakar dua tubuh yang tak ingin ia miliki.

Karena itu, burung-burung tadi, sekali lagi, pasti menjerit. “Terpekik” mungkin kata yang lebih tepat untuk menakwilkan apa yang mereka ingin ungkapkan saat itu.

Sebelum Ema dirayapi api yang diumpan fiber itu, kisah lain mendahului.

Seorang perempuan, dari sebuah berita, dikabarkan telah menjadi korban pembunuhan. Seperti tragedi Ema, pelaku dari jenis yang sama: sang pacar — lebih jauh: tunangan.

Pria dengan jam terbang penipuan yang terbilang tinggi itu dilaporkan terus membual kepada sang gadis. Ia mengaku berada, padahal tidak; menyebut dirinya hartawan, meski bukan.

Singkat cerita, si pria yang terus merongrong perasaan si gadis dengan mendesakkan kepalsuan itu, ingin sesuatu yang lebih. Pada era millennial ini, yang ia inginkan itu memang nyaris terdengar biasa: sebuah pengakuan cinta yang berakhir sebagai persetubuhan.

Tak lama, teror terbesar bagi tiap perempuan itu terjadi.

Akibat terus meminta pertanggungjawaban pria berotak mesum itu, tubuh ringkih si gadis kini hampir menjelma abu. Jasadnya dipanggang di antara belukar: sebuah jalan menuju luar kota.

Sebelum api menggerayang di tubuh si gadis, jalan-jalan adalah modus.

Hal yang sama juga terjadi beberapa jam sebelum Ema mangkat. Ia dan pacarnya berkeliling kota —dari hasil penyelidikan polisi- dan tak lama kemudian…

Pembunuhan itu, kata berita, sudah terencana. Namun, dengan enam bulan usia si bayi di kandungan, seharusnya kita menganga dan tak habis pikir dibuatnya: apakah keputusan lain, bagi muda mudi yang belum menginjak kepala tiga, pada masa ini, sudah tak ada hingga keputusasaan merajalela?

Apakah, di zaman edan ini, cinta juga terencana, awalnya, hingga, akhirnya juga bisa dipastikan sebagai kisah yang sudah tak lagi punya makna?

Tak ada yang tak tahu kalau itu hanya bualan orang-orang yang sering kesepian belaka.

Kini, kabar yang terus mengalir di kanal-kanal berita mendamparkan kita kepada fakta lain: Ema dan pacarnya sudah bertunangan. Akan tetapi, apa mungkin kematian merupakan satu-satunya jalan bagi hubungan-tak-sehat-itu?

Burung-burung dan satwa lain, juga kita, mungkin dengan tigas bilang tidak. Namun, segalanya sudah terjadi: Ema meregang nyawa bersama buah cintanya.

Yang kini tersisa: sekerat doa untuk Ema dan sumpah serapah bagi pacarnya dan “Homo Homini Lupus” versi berbeda: seseorang adalah serigala bagi pacarnya.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (20 Agustus 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *