Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Keluar dari “Zona Teman”

2 min read

Hampir seluruh bagian dari generasi Millennial akrab dengan lagu ini dan pernah merasakan getaran yang ditimbulkannya:

Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk s’luruh hatiku

Tembang lawas milik Dewa itu memang ajaib. Sebab, sebagaimana lagu-lagu milik band yang digawangi Ahmad Dhani lainnya, kisah pilu “Pupus” itu mengandung makna filosofis: ia memang bercerita soal pribadi, tetapi malah menyentuh seluruh kalangan — yang patah hati, terutama.

Kita tahu kemudian bahwa lagu itu menjadi “soundtrack” tiap kali ada yang sedih karena perasaan tak berbalas.

Bahkan hingga hari ini. Seorang dari angkatan terbaru (Generasi Z) — jika memang dimulai dari anak kelahiran 2000an- sayup-sayup terdengar memutar lagu itu dari gadget-nya. Di layar handphone tertera: playlist berisi 140an lagu.

Musik bergenre Metal, Reagge, dan lain-lainnya yang juga terhimpun di gawainya itu mungkin baik untuk pengantar ke gerbang kedewasaan, tetapi “Pupus” adalah pilihan paling masuk akal bagi kesedihan. Lantas, tepat di refrain, sesuatu akan terlepas dalam diam (baca: air mata).

Anak itu sendiri tak menangis: ia tahu kecengengan bagi usianya yang muda itu sia-sia. (Kita pun pernah begitu: tak ada yang tak khusyuk mendengarkan “Ternyata Cinta” dari Padi, tetapi jarang yang menitikkan air mata, bukan?)

Jika perlu head to head, “Pupus” mungkin cuma bisa diimbangi –atau, bahkan dilampaui- oleh “Yang Terlupakan” milik Iwan Fals. Lagu yang lahir bagi generasi sebelum kita itu memang punya banyak roh; tembang itu terus di-cover dan dinyanyikan hingga kini dan karena itu pula punya makna lebih.

Seorang saudara suatu hari pernah memaki saya karena lagu itu. Penyebabnya: ia yang tengah serius mendengar —sembari menyanyikan, sesekali- lagu tersebut, terkejut saat saya tiba-tiba memindahkan ke nomor lain yang ada di daftar musik. Mungkin bagi saya, juga kita, lagu itu biasa saja, tetapi baginya hal itu bisa memicu kemarahan.

“Itu lagu kenanganku dengan si Anu,” bentaknya. “Jangan kamu ganti!”

Agak tolol, memang. Namun, musik, sebagaimana bau parfum, memang mendekatkan kita kepada sesuatu yang pernah ada dan kenangan.

Dari kenangan itu juga saya bersua sebuah parodi “Zona Nyaman” dari Fourtwnty. Gubahan itu unik karena berganti format pesan: zona teman alias friendzone.

Meski segendang-sepenarian dengan makna “Pupus”, lagu “Zona Teman” hadir dengan kesegaran. Sebab, kita akan mendengar hal-hal yang ada di sekitar generasi ini — seperti saat membaca novel Sapardi Djoko Damono Hujan Bulan Juni yang, bagi saya, menolak “usia” pengarangnya dan titimangsa puisi yang menjadi sumber dari penciptaan prosa itu.

Ketika “Pupus” bicara cinta yang halus, parodi itu berkelit —seakan-akan hari ini tak ada lagi perasaan yang tulus. Lalu kita akan mengerti kalau hal tersebut memang benar terjadi di zaman serba-lekas ini: percakapan, sekaligus pendekatan, instan membuat cinta cepat berlalu.

Namun, bagi sebagian dari kita, tampaknya, itu masalah serius. Mungkin pernyataan cinta pada kurun ini bisa selesai dengan satu chat ringkas, tetapi di situ pula persoalan tiba: bisakah kata-kata “yang (lahir dari) dalam” tak langsung diucapkan sebagai bentuk keseriusan rasa?

Bisa, agaknya, tetapi dangkal. Komunikasi memang lebih efektif dan efisien saat ini, tetapi “kehadiran” dua entitas yang saling punya maksud itu tak pernah bisa digantikan oleh gawai mereka.

Di luar itu, ada juga yang memang bisa saling bersemuka soal keinginan-menyatakan-perasaan itu. Namun, jika ditolak, dampaknya kadang lebih mengena ketimbang “penembakan” via chat — meski kurang gentle.

Soal diterima atau ditolak itu pun sebenarnya taksa: bukan lantaran langsung bersitatap atau tidak saat menyatakannya, melainkan sejauh mana kita mengenali perasaan sendiri alih-alih dari sang lawan jenis. Karena itu, kiranya, “Pupus” punya tempat tersendiri di hati para pendengar (yang bersedih): ia tak berupaya menghibur meski tak juga bermaksud membela — lagu itu hanya ingin bercerita.

Kendati ia mencoba menenangkan dengan berujar, “Sepertinya waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku”, kita wajib memahami bahwa sebuah karya tetaplah milik pribadi. Karena itu, waktu yang diharapkan itu bisa jadi tak pernah datang.

Sebagaimana “Yang Terlupakan” atau “Ternyata Cinta” atau “Zona Teman” tadi, yang bisa menginterpretasikan perasaan hanyalah diri sendiri. Meski kita piawai menebak apa saja, hati lawan jenis boleh jadi seperti perempuan (sebagai belut) dalam salah satu puisi WS Rendra: meski telah kau kenali segala lekuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman.

Sukma yang berarti jiwa atau nyawa itu dalam suatu situasi pendekatan bisa diartikan sebagai cinta — paling tidak: sayang. Jika hal itu luput dari genggaman, bagaimana mungkin hasil akhir yang diharapkan alias pacaran atau, bahkan, menikah dapat terwujud?

Kery Astina dalam parodi “Zona Nyaman” itu menjawabnya, “Keluarkan ku dari zona teman.”[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (10 September 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *