Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Kekasih yang Slengean: Apa Adanya dengan Cinta

2 min read

Kekasih yang Slengean Apa Adanya dengan Cinta

Sepasang muda mudi masuk ke sebuah warung makan pada suatu malam. Keduanya adalah 1) seorang lelaki berbadan cukup tinggi, tetapi juga lumayan kurus dan 2) si perempuan yang lebih pendek dari si lelaki—mungkin cuma sebahunya atau lebih sedikit—dan berkerudung. Mereka kini duduk di hadapan kami, saya dan pacar, lalu sejenak kemudian memesan makanan.

“Lelaki ini slengean,” kata saya dalam hati, mengomentari salah seorang dari mereka yang datang dan kini duduk menghadap kami.

Kurang dari semenit, lelaki yang mengenakan jaket ojek online/daring alias ojol itu berdiri. Ia kini menuju ke sebelah warung. Di genggamannya: sebotol kecil air mineral.

Cressss. Cressss. Cresss. Ia mencuci mukanya dengan air itu.

Semua orang melihat ke arahnya. Pacar saya tersenyum dan menepuk dada saya—mungkin refleks karena perasaan aneh tertentu saat melihat pemandangan itu.

Saya tersenyum kepadanya. Saya jelas bukan cenayang atau peramal yang konon bisa membaca masa depan; saya kebetulan cuma bisa merasakan aura yang sama dengan diri ini: slengean—lelaki itu juga memiliki karakter tersebut.

***

Muda mudi yang usianya cuma berjarak beberapa tahun dari saya itu sekarang sedang makan. Si lelaki tampak lahap, sedangkan si perempuan terlihat sesekali memeriksa sambal/lauk yang ada di piring. Tiga atau empat tindakan kemudian, si lelaki sudah menyelesaikan makan malamnya.

“Lihatlah ke-slengean berikutnya,” saya berkomentar—masih dalam hati.

Pacar saya tampak kembali tersenyum.

Di hadapan kami, lelaki itu kini mengeluarkan rokoknya.

“Rokoknya murah,” kata saya kepada pacar seraya meloloskan sebatang sigaret dari kotaknya.

“Mungkin dia berhemat,” ucap pacar saya.

“Rokok itu lebih murah delapan ribu (Rupiah) dari punyaku.”

Kini, dalam hening masing-masing, kami melihat lelaki itu mengepulkan asap rokoknya ke udara. Pacarnya masih makan dan sesekali mereka tampak saling melempar senyuman. Terkadang, lelaki itu mengusap lembut kepala pacarnya di sela-sela aktivitas merokoknya—tentu dengan tangan yang tak menggenggam bara api sigaret.

“Apa aku juga kayak gitu?” tanya saya kepada pacar.

“Iya, santai dan tanpa beban.”

***

Apa yang membuat perempuan bertahan dalam hubungan asmara?

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada seorang kawan yang usianya kebetulan lebih tua. Ia sudah menikah.

“Perhatian,” jawabnya.

“Harta?”

“Ponsel dan mobil mungkin setia menemanimu makan, tapi orang butuh kehadiran orang lain di hadapannya, di sisinya. Benda-benda tak bisa menggantikan peran manusia, terutama dalam cinta.”

Kata-katanya terdengar seperti filsuf, kala itu, di telinga seorang remaja berseragam SMA.

Benar saja. Ketika kakek saya meninggal, nenek tidak pernah menikah lagi dan suatu waktu ia membocorkan sebuah rahasia: “Kakekmu ada di saat aku bersedih dan tertawa. Ia yang membantuku membesarkan anak-anak meski tak lama dan peran itu sampai sekarang tak bisa digantikan oleh orang lain biarpun dia lebih kaya.”

Kata-kata barusan, agaknya, memang berasal dari filsuf.

***

Kini saya menatap ke arah lelaki di sebuah warung makan itu: ia letih, tentu—seharian “narik” ojek jelas menguras energinya. Namun, kini ia makan bersama orang tersayang, kekasihnya, dan itu sudah cukup untuk menghapus semua lelahnya sehari penuh.

Saya kira, semua orang sepakat akan hal itu.

Lantas, kenapa si lelaki bisa demikian slengean? Saya jawab sendiri: ia apa adanya, terutama dalam, dan dengan, cinta. Tanpa itu, ia cuma menjadi pemuda onar yang gampang memutarbalikkan fakta dan mengarang epos tentang dirinya dengan satu kalimat utama: “Aku hebat, perempuan, maka cintailah aku.” Tak lama setelah itu, lahirlah bab terakhir dari seorang petualang asmara: ia akan merancang perpisahan, yang bagi perempuan tak bisa dihapus rasa sakitnya.

Menjadi apa adanya memang sulit sekali—tak semua orang mau dan mampu, bahkan untuk sekadar mengucapkannya dalam hati.

***

Pandemi Corona ini belum lagi berlalu dan tiap kali memapasi seorang pengemudi ojol, saya teringat pemuda tadi—bersama beberapa pertanyaan: “Ia di mana kini?”, “Apakah ia dan pacarnya masih bisa makan bersama di sebuah warung seperti kami?”, dan “Bagaimana penghasilannya? Apakah baik-baik saja dan bisa seperti sediakala?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terus membentur kepala saya hingga suatu masa ketika kami bersua lagi meski bukan di warung yang sama.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *