Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Kangen

1 min read

Cinta yang luhur lahir dari (1) “kasih” yang tak memaksa dan (2) “sayang” yang tak menyiksa.

Tapi ini abad 21: dunia terus, dan tengah, bergerak dalam kendali linimasa. Di sana, tak ada lagi “yang penting”. Semua bertukar dan bergerak ke arah “yang genting”.

Dari situlah kangen lahir, sekaligus raib. Kangen itu, terutama pada “kata”: baik pada mula atau pada akhirnya, sebab ia telanjur memberi satu ruang dan makna. Tapi ia kini diabaikan–sebagai akibat dari keberlimpahan informasi.

Padahal dalam “kata” kita akan menemukan kembali “kita”, berikut perangkat-perangkatnya semisal lupa. Tapi sebuah inovasi dan perubahan zaman memang menarik, sekaligus menjengkelkan.

Saya teringat A. Teeuw. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda itu pernah memberi tajuk bukunya Tergantung pada Kata dan yang terbayang: ambivalensi–alih-alih laku berserah diri. Sebab kata “tergantung” memang mengisyaratkan nilai lebih.

Dalam istilah yang lain kita kenal: kapstok. Benda yang kerap tertancap di dinding itu paling tepat untuk menunjukkan makna “tergantung”. Padanya: topi, jaket, mantel, dll., seolah berhenti–untuk tak menyebut “sekadar singgah”. Padanya pula sesuatu yang rutin jadi punya arti lain.

Maka kangen itu pun akhirnya memang bisa berhenti. Dengan kata lain, ia tentu tak rutin, dan tak mungkin pula dinisbahkan dengan sesuatu yang serangkai dan mesti sebuhul-sepilin. Sederhananya, kangen boleh dimaksud-tujukan kepada “sang entah”, tapi di sisi lain, ia juga tak bisa seenaknya membuat si pemiliknya agar berkisai-berpindah.

Seseorang yang kangen, misalnya, tak serta-merta mesti mendapatkan apa yang ia ingin itu: temu, bertemu, pertemuan, menemukan. Sebab pada “sang entah”, barangkali ada ketidaksamaan-ketidaksatuan “maksud hati” alias perasaan.

Orang bisa berkata rindu, meski hati dan tubuhnya tak mengisyaratkan hal itu. Maka di sini, ia barangkali hanya perlu dan berupaya mewujudkan “kebutuhan”.

Dan kangen adalah hikayat tentang “kebutuhan”, bukan “ketubuhan”. Artinya, “gerak raga” dapat digantikan “gerak rasa”. Kita, akhirnya, tak perlu lagi bersua muka, tapi cukup sekadar “mengolah rasa” yang hidup dalam jiwa dan bergolak-berkecamuk dalam dada.

Itu sebabnya saya urung menggunakan kata “rindu” sebagai judul. Sebab dengan segala kesalahkaprahan kita memaknai dua kata ini, sebenarnya kita sudah sampai pada satu laku: ingin.

Maka, mereka yang ingin bertemu memang tak perlu menggunakan kata “rindu” karena “kangen” sudah mewakilinya. Tapi “yang kangen” memang belum tentu punya rindu. Sebaliknya, “yang kangen” sudah barang tentu, atau sedang, sekarat dalam “rindu”.

Tapi pernah saya dengar ucapan seorang tua: “Jika cinta sudah membuatmu tersiksa, maka di sana, pasti ada satu sikap (dari ia yang dicintai, yang tengah digandrungi, atau yang tengah di sisi) yang sangat memaksa”.

Semoga yang ia maksud bukanlah “kangen”–apalagi bila hanya sekadar saja …[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *