Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Kagum

2 min read

Kitam kagum karena, ibarat buah, ada hal-hal yang kita lihat dan rasakan sudah sampai di puncak ranum–atau tak mudah diterima secara umum.

Tapi kagum berbeda dengan, memakai istilah anak-anak kekinian, melting alias “meleleh”. Sebab dalam laku meleleh, yang kita rasakan bukan lagi kekaguman, melainkan kekacauan yang akut. Hal ini merupakan akibat dari gagalnya kita menengarai satu perasaan yang sebenarnya biasa saja–jika logika bermain di dalamnya. Dan bablasnya tatanan berpikir itu, biasanya, dipengaruhi oleh hal-hal di luar kemampuan nalar kita untuk mencerna sesuatu (informasi, misalnya) yang kita terima dan rasa.

Lelaki, misalnya, akan terkagum-kagum pada sosok perempuan yang memenuhi standar dan kriterianya ketika kali pertama ia menemukannya. Meski, adakalanya, hal-hal yang berada di luar ekspektasinya pun juga mampu untuk membuatnya terkagum-kagum tanpa perlu berpikir dua kali. Dalam konteks ini, kepintaran perempuan itu, misalnya.

Dihadapkan dengan kepintaran perempuan (terutama dalam hal-hal yang tak bisa ia lakukan), lelaki biasanya akan tampak bodoh–selain terkagum-kagum. Ia bisa kehilangan apa saja yang ada pada dirinya, di sekitarnya, atau apa yang ingin ia raih–pun lagi sesuatu yang ia puja. Sebab ia, si lelaki ini, jarang sekali untuk tidak terangsang secara membabibuta akan sesuatu (terutama kepintaran)yang menurutnya sangat membedakan perempuan yang ditemuinya itu dengan perempuan lainnya.

Padahal ia tahu, kepintaran bukanlah hal yang profan, tapi entah mengapa, ia mengkultuskan itu sekaligus mengkuduskannya di atas segalanya. Ketika perempuan (pintar) itu menangis, misalnya, lelaki (yang sedang dalam keadaan bodoh tadi) biasanya akan menganggap jika laku menangis itu terjadi di luar batas dan standar perempuan lainnya. Hingga di puncak ekstrem, tangisan perempuan (yang dianggap pintar) itu akan ia (si lelaki) pedomani sebagai laku yang tak terjemahkan kata-kata.

Barangkali, ia akan menganggap tangisan itu sebagai buah dari cara berpikir dari si perempuan (yang pintar) itu, yang menurutnya, terlalu biasa jika dilakukan perempuan selainnya. Artinya, si lelaki menafikan tangisan perempuan lain yang menurutnya hanya bersandar pada kesementaraan belaka dan bukan tentang hal-hal yang purna.

Dalam dunia aktivisme kita sering menemukan hal ini. Ketika seorang aktivis perempuan (yang kebetulan) sedang menangis, maka hal-hal di luar konteks jatuhnya air mata tadi akan segera mencuat di kepala para penyimaknya.

Kita ambil contoh kasus penggusuran. Tangisan yang jatuh dari para aktivis perempuan yang berada di lokasi (yang tengah ia perjuangkan) sering dianggap sebagai tangisan yang tak biasa. Lelaki (yang lagi-lagi sedang dalam taraf kebodohan paling rendah itu) biasanya akan segera memercayai jika tangis itu jatuh sebagai bagian dari perlawanan yang tengah ia lakukan. Singkatnya, tangisan itu dianggap sebagai sandiwara semata, yang artinya, setelah mendapatkan apa yang ia upayakan, tangisan aktivis perempuan tadi hanya akan jadi obyek yang direproduksi dalam amatan yang semenjana.

Kita tentu tak mau mendapati kondisi ini terjadi–apatah lagi bagi para perempuan yang kerap jadi sosok penting dalam kejadian ini. Sebab perempuan, dengan segala maksud dan tujuannya, tentu bersandar pada petuah lama, bahwa air mata adalah simbol kekalahan.

Itulah kenapa ketika ada lelaki yang terharu menyaksikan adegan perempuan menangis di layar kaca dan kehidupan nyata, seringkali kita berpikir bahwa itu bukanlah perasaan turut merasakan (derita)–pun lagi empati. Sebab kita tahu, lelaki yang tak sedang dalam keadaan bodoh tak akan pernah terharu pada tangisan perempuan, namun akan berusaha untuk tidak terjebak dalam tangisan yang sama.

Mungkin lelaki tidak akan meminjamkan bahunya pada perempuan yang sedang menangis di sampingnya, tapi ia akan menggunakan seluruh indra di tubuhnya untuk meminimalisir risiko dari luapan emosi (kesedihan dan kegembiraan) yang tengah ia saksikan itu dengan cara-cara yang lebih masuk akal dan tak dangkal. Membiarkannya, misalnya.

Sebab lelaki tahu, mendiamkan tangisan perempuan akan sama tak bergunanya dengan memiliki gagasan (dan angan-angan?) yang besar tapi malas menuliskannya–sebagai langkah untuk mewujudkannya.

Di situlah akhirnya kita tahu, bahwa kekaguman itu hanyalah sesuatu yang tak ada artinya. Sebab, ibarat buah yang ranum tadi, kita memang kerap lupa dan abai (atau tak acuh?) pada hal-hal yang lebih dulu ada dan membuatnya punya nilai dan harga: perjuangan di sekitar ranumnya buah. Atau dalam konteks ini, laku apa yang sejatinya mengalasi dan mendasari proses jatuhnya air mata.

Sebab kekaguman, apalagi yang lahir dalam diri lelaki, seringkali hanya merupa percikan-percikan hasrat yang memang sering berkelebat dan boleh jadi, perasaan itu hanyalah semacam laku “terangsang”.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *