Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Jokowi, Sekali Lagi

2 min read

“Kalau Jokowi nyapres lagi dan terpilih, kira-kira hutan kita masih akan terbakar nggak, ya, nak?” tanya seorang ibu penjual kopi pada saya malam itu. Di tepi sungai Siak, Pekanbaru, ada banyak kedai kopi sebenarnya. Tapi saya lebih suka ngopi di kedai ibu itu. Bukan biar sama seperti Jokowi yang sekadar mampir di partai “ibu itu”. Bukan. Tolong bedakan antara “saya lebih suka” dan “yang sekadar mampir”.

Sebagai kaum kecil, saya menduga beliau pasti pendukung Jokowi di Pilpres yang lalu. Wajahnya militan, tapi sopan. Pembawaannya tenang, gak krasak-krusuk, tegar dan gak emosian, persis seperti kebanyakan pemilih Jokowi lainnya. “Saya gak nyesal milih Jokowi, nak,” ucapnya. Dan dugaan saya benar ternyata.

Banyak sekali orang seperti ibu itu di Indonesia: mereka yang menggantungkan harapan perubahan pada pundak Jokowi. Mereka inilah para pemilih Jokowi yang paling menentukan raihan suaranya di Pilpres lalu. Sebab pemilih Probowo, konon kabarnya, terlalu pintar untuk memilih Jokowi yang udik dan gak bisa nunggang kuda mahal. Jonru, misalnya.

Adalah fakta, jika fitnah merupakan nama tengah dari setiap pendukung Prabowo: waktu itu, kini dan mungkin juga nanti. Tak percaya? Bilang ini fitnah? Anda pendukung Prabowo berarti.

Lihatlah realita: klaim-klaim tak berdasar yang mereka tujukan, subtansinya itu tak lebih dari sebuah upaya untuk membunuh karakter Jokowi ketimbang menyoroti program dan capaian-capainnya. Sementara, ketika masalah HAM yang jelas-jelas memang terjadi sama capresnya, mereka seolah tutup mata dan bilang itu fitnah. Ya, fitnah memang jadi nama tengah mereka. Kalau “jualan isu” kan nama depan. Untungnya, dalam kasus ini, salam “jari tengah” bukan budaya pendukung Jokowi. Mereka masih setia dan percaya pada salam dua jari.

Kembali ke ibu tadi. Saya pun bukan tak melihat kerisauan di wajahnya. Matanya merah. Tapi saya berani pastikan itu bukan karena Jokowi. Kabut asap yang tebal ini penyebabnya. Kerisauannya pasti lebih kepada kapan kabut asap ini berakhir. Bukan soal Jokowi yang dituding jadi biang masalah dan gak bisa menyelesaikan masalah. Kecuali bila ia termasuk golongan “terpelajar” yang gampang menghubung-hubungkan dua perkara yang gak ada relevansinya: kedatangan seorang presiden yang bikin crane jatuh seketika, dan bla bla bla.

Tapi saya tak habis pikirnya begini: kok bisa ya, asap yang sudah 18 tahun di negeri kami, tapi yang disalahin Jokowi? Apa karena dia presiden, dan dia yang bikin regulasi? Aneh. Ironis. Cacat pikir kayak Jonru namanya itu. Padahal dia baru setahun memimpin, lho. Sedang regulasi soal hutan itu sudah ada dari zaman mantan mertua Prabowo bertakhta dulu.

Apa sebegitunya kebencian kita, hingga lupa menengok data dan berkaca pada sejarah, hingga sekarang ini, mau tak mau, harus Jokowilah yang dipersalahkan?

Sebagian umat Prabowo dan seluruh hamba Jonru dengan tenangnya tentu bilang, “Karena Jokowi Presidennya lah, makanya kebakaran hutan sampai terjadi. Lihat tu presiden pilihanmu. Kacau kan jadinya? Makanya gak usah sok-sok jadi presiden segala!” Ah, logika yang bebal dan terlalu banal untuk pendukung Prabowo yang katanya kaum intelektual itu. Jokowi yang rendah di mata mereka tak pelak jadi bulan-bulanan. “Orang kampung, ndeso dan gak punya wibawa kok mau sok mengurusi negara,” umpat mereka. Pasti ini fitnah, kan? Tidak. Silakan cek senarai komentar ad hominem di banyak portal berita. Selain umpatan, teror “purba” berupa “Gerakan Anu Merdeka” pun juga ada.

Ah, bukannya sudah biasa, ya. Khilafah mau gantiin Pancasila yang thoghut itu aja biasa.

Mungkin mereka lelah, dan saya memakluminya. Empat tahun lagi itu sungguh terlalu lama. Dan makin ironis jika Jokowi terpilih lagi. Tentu duka-lara akan menggerogoti mereka sembilan tahun lagi. Bagi kaum yang susah move on seperti ini, memang berat adanya. Tapi mereka harus berbenah: meleburkan diri ke dalam barisan pendukung Jokowi yang tak larut dalam kemenangan setahun silam, tapi juga ikut mengawal pemerintahan ini dan kritis terhadapnya. Atau bisa jadi opsi selanjutnya: pindah ke Gurun Sahara, lalu bangun negeri kahyangannya sendiri di sana.

***

Hari makin malam, si ibu penjual kopi tadi mulai batuk-batuk. Apa juga karena Jokowi? Tidak. Saya masih waras untuk tidak menarik kesimpulan sepihak. Kabut asap yang sejatinya makin tebal malam itu. Titik api kabarnya mulai bertambah lagi meski pemadaman jalan terus. Catat: bukan jalan di tempat seperti yang dituduhkan mereka.

“Kalau kabut asap ini berakhir, apa mereka bisa berhenti nyalahin Jokowi, bu?” refleks saya bertanya. “Kalau Jokowi nyapres lagi, apa anak masih mau memilihnya? si ibu balik bertanya. “Sebegitu terkutukkah Jokowi, bu, sampai saya malas ke TPU lagi?” Kami pun tertawa. Lepas sekali. Meski dada kami beberapa bulan belakangan ini terasa sesak sekali.

Di jalan pulang, baru saya terkenang, “Aduh, kok sampai lupa bilang ya ke ibu itu kalau Pilpres kemaren gak ikutan nyoblos karena lagi KKN. Pasti dia kira saya pendukung Jokowi.”

Nasib, nasib.[]

Tulisan ini tayang di Jurnal Kompatriot, Kamis (22 Oktober 2015)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *