Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Hujan

2 min read

Jika ada orang yang paling dibenci lelaki maka itu adalah perempuan yang berpura-pura mencintai hujan–padahal ia takut basah.

Sejak kecil, para lelaki telah menjadikan hujan sebagai simbol keberanian: mereka akan saling beradu kuat dalam menembus hujan, termasuk dalam soal menahan gigil pada tubuh masing-masing.

Pada musim hujan, anak-anak di kampung, biasanya (terutama sepulang sekolah) akan menyambut hujan sebagai berkah–sebagaimana kodrat bagi apa saja yang turun dari langit. Tanpa perlu belajar soal siklus, anak-anak kampung itu seolah sudah tahu: hujan, bagaimana saja kadarnya, tak sedang membawa kesukaran (apalagi untuk sekadar mereka pulang).

Itu sebabnya anak-anak di kampung akan menempuh hujan dengan santai, tanpa beban, dan kadang, dengan bahagia juga kasmaran–seakan-akan di sana ada keriangan yang belum pernah mereka rasakan.

Berbekal daun talas, daun pisang atau sobekan terpal, anak-anak itu akan menempuh perjalanan pulangnya dengan kebahagiaan yang konstan. Kecuali sepatu yang biasanya segera ditanggalkan, mereka seperti telah merelakan apa saja (yang melekat) dari dirinya untuk terpapas “benang basah” itu. Tak ada kekecewaan di wajah dan mata mereka; tak ada rasa sakit yang mereka khawatirkan, sebab mereka juga tak memikirkan itu–apatah lagi menghendakinya.

Anak perempuan di kampung itu juga melakukan hal yang sama sebenarnya. Tapi mereka masih meyakini pentingnya membaca situasi. Intensitas, bagi mereka, masih dipandang sebagai hal-hal yang akan menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Maka wajar saja, kebanyakan dari mereka akan menunggu sampai hujan tak lagi turun dalam kategori berbahaya, lantas barulah mereka yakin untuk pulang.

Sampai di sini, anak-anak di kampung, rupanya, tak butuh payung dan kerap berteduh untuk waktu yang tak lama. Karena, bagi mereka, akan sia-sia rasanya melewatkan kesempatan “berjalan” dalam hujan–meski tak sedikit yang “merayakannya” sembari “berlari”.

Lain di kampung, lain pula halnya di kota. Anak-anak di sana, sebagaimana sering kita perhatikan, rela menunggu berjam-jam hingga hujan benar-benar reda. Tak jarang, laku berlama-lama ini juga mereka lakukan hanya untuk sesuatu yang sejatinya tak ada hubungannya dengan hujan, yaitu saat payung menemukan fungsinya yang (dianggap) paling “penting: sebagai pelindung, entah dari sekadar ricik, juga tempias, hingga dari rasa sakit (demam) yang (dicemaskan) akan ditimbulkan oleh hujan.

Seakan-akan telah menganggap hujan sebagai wabah, anak-anak kota rupanya takut jika titik-titik air yang tengah mengepung bumi itu membawa epidemi. Padahal, mereka belajar siklus: mereka tahu hujan adalah proses pengembalian yang utuh. Singkatnya, hujan adalah perulangan yang baku dan konstan, atau katakanlah, sebuah fenomena alamiah yang bukan musibah.

Tapi terlalu naif rasanya jika harus menjadikan jarak sebagai biang keladi dari perbedaan ini. Sebab, barangkali, ada yang tengah menduga-duga, bahwa anak-anak kampung, dengan teritori-nya yang “sempit” itu, tentu saja termudahkan dalam akses dan waktu. Dalam arti, mereka dimudahkan karena perjalanan yang ditempuh tak seberbahaya anak-anak di kota.

Jika di kota anak-anaknya mesti naik turun bus atau diantar-jemput untuk bersekolah, anak-anak kampung selalu dideskritkan sebagai “anak-anak alam” yang terbiasa mendaki tebing-tebing curam, menembus jeram, atau jika perlu, berhadapan dengan hewan buas.

Maka, dengan perbedaan begini, anak-anak kota kemudian diuntungkan dalam satu hal: keselamatan mereka dianggap terancam lebih kepada hal-hal yang terjadi sebagai akibat dari hujan, semisal penculikan, penodongan hingga pemerkosaan. Padahal kita tahu, hujan bukanlah pemicu dari tindak kejahatan. Artinya jelas, keadaan ini terlalu dibuat-buat, diada-adakan, dan kesemuanya, bbarangkali, untuk membangun satu pemikiran bersama: kota terlalu berbahaya bagi anak-anak–terlebih jika hujan tiba.

Kita memang tak perlu tahu sejarah payung untuk tahu jika sejarah hujan bukanlah tentang “pengkhianatan”. Dalam arti, hujan belum pernah diterminologikan sebagai biang masalah, semisal banjir, sebab hujan memang tetaplah hujan, sedang kealpaan (termasuk keserakahan) manusia adalah hal yang lain pula.

Tapi memang, lelaki membenci perempuan yang pura-pura mencintai hujan–padahal ia takut basah. Sebab, tak seperti anak-anak kota yang takut pulang ketika hujan tiba, anak-anak kampung dan lelaki (kampung dan/atau desa) akan lupa dua hal seketika itu juga: payung dan rasa takutnya–sementara perempuan sebaliknya.

Maka dari itulah, ketika perempuan berpura-pura mencintai hujan, ia sejatinya hanya tak ingin kehilangan payung di hatinya: si lelaki. Ia takut tak lagi punya peneduh; seakan-akan, baginya, kesendirian adalah epidemi atau kutukan yang berbahaya–setara atau melebihi hujan.

Mungkin lebih baik jika perempuan berkata jika ia membenci hujan, agar lelaki tahu kapan bisa mengembangkan dan mengatupkan payungnya–begitu pula dengan hatinya. Karena bagi lelaki, berpayung dalam hujan adalah pekerjaan sia-sia, sedang berpayung dalam panasnya hari adalah ketololan yang nyata, yang melemahkan keberaniannya.

Maka tak ada lelaki yang membenci hujan kecuali jika ia berpura-pura sedang mencintai perempuan–padahal ia tak takut basah. Sebab, ia hanya takut mata perempuan itu basah, dan ia tahu belum ada payung yang mampu untuk, bahkan sekadar, menahan rintik apalagi derasnya air mata–apatah lagi yang jatuh dari langit jiwa seorang perempuan. Meski, ia tahu, itulah hujan yang paling berbahaya hingga saat ini, yang kehadirannya kadang membawa epidemi (bagi si lelaki).[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *