Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Hijrah (karena) Cinta

2 min read

Kehidupan yang sibuk di media sosial dan lingkungan “nyata” belakangan ini menjadi kian “bernyawa”. Sebab, tidak hanya senarai foto dan status (atau keluhan!) yang terpampang dan terlihat oleh mata kita, tetapi juga model-model dan corak-corak manusia yang bisa diidentifikasi ke dalam dua golongan: yang gaul dan yang bersyariat.

Ada satu golongan lagi, memang, tetapi tak banyak; mereka yang santai dan kalem dalam mengikuti perkembangan dunia — nyata dan maya.

Awalnya, tak ada yang aneh benar. Namun, ketika membaca baris-baris puisi Afrizal Malna ini, mestinya kita terhenyak:

relijiusitas dalam fashion kontemporer
menjual batu akik di mana-mana
apakah kita stres, tuan?

Baris-baris menohok itu datang dari puisi “filologi datangnya pulang”. Afrizal, di dalam puisi itu, tampaknya, berupaya menegaskan kegelisahannya — yang mungkin juga ketakutan kita semua; ketika dewasa ini agama dibalut dengan fashion dan mode — keimanan yang ukurannya pada penampilan luar.

Apakah kita stres? Atau dalam pertanyaan seorang kawan, “Sebegitu stres-kah ‘mereka’ itu?

Spontan, tentu, kita menjawab tidak. Pasalnya, ukuran “perubahan” (atau dalam tulisan ini saya sebut hijrah) tak serta-merta datang dari kegelisahan yang teramat atau, katakanlah, stres yang membebani. Bukankah kesadaran untuk berubah juga harus lahir dari pikiran yang jernih atau paradigma yang dewasa?

Maka, kita bisa simpulkan begini: Hijrah bukan keputusan semalam saja.

Namun, yang menjadi gejala belakangan ini dan tentu saja menarik ialah persoalan hijrah (karena) cinta. Itu tampak ketika beberapa rekan yang sebelumnya merasa jika dirinya telah terjerembap ke dalam kubangan maksiat, tiba-tiba berubah. Mengenakan pakaian bak pemuka agama dan padri di zaman lalu, biasanya ia akan mengiringi foto (jika diunggah) di saat begitu dengan kutipan ayat suci atau nasihat menyejukkan hati.

Seharusnya kita kaget, tetapi di zaman ini, yang hampir segalanya serbalekas dan bisa mendadak terjadi, hal-hal semacam itu terasa taksa. Adapun yang menjadi catatan penting dari semua itu ialah nasihat pada unggahan foto mereka itu. Meski tak secara implisit menunjuk hidung dan merujuk siapa, yang terjadi memang kadang kala sudah di luar kemampuan kita sebagai hamba.

Kita bisa lihat ketika ada satu unggahan yang bernada dakwah, disampaikan oleh mereka yang tak jelas ilmu agamanya. Meski kebanyakan dari mereka mengenyam pendidikan madrasah, toh, semua mesti dikembalikan kepada ahlinya, bukan?

Jelas saja, kita tak perlu menyebut fenomena itu sebagai dampak dari sebuah kesadaran bersama. Sebab, memang tak semua orang bisa terbawa arus deras perubahan itu. Masih ada mereka yang dengan kerendahan hati mengakui bahwa dirinya belum bisa menempuh jalan yang demikian. Karena itu, saya teringat satu kisah yang sudah lama terjadi ini.

Ketika perjuangan dan pembelaan atas nama agama belum semasif saat ini, saya punya seorang tetangga yang sudah lebih dulu menerapkan cara hidup yang kini ramai dijunjung itu. Ia tak berhujah, memang, dan karena itu segalanya mengalir biasa saja. Namun, pada satu titik ketika agama mulai menjadi pemicu tikai, apa yang dikhawatirkan tetangga mulai terasa: doktrin, yang dibungkus dengan untaian kata bernada provokasi, mulai mewabah.

Seorang tetua di lingkungan itu, yang ilmu agamanya mumpuni, kemudian bicara dari hati ke hati kepada orang itu. Hasilnya, debat yang melelahkan itu berakhir dengan manis; tak ada gaduh yang tertinggal dari persoalan sederhana dengan kipas besar bernama bela agama. Orang itu, yang belakangan diketahui sebagai salah satu simpatisan organisasi masyarakat (Ormas) tersebut, masih muda; ia, saat itu, 24 tahun.

Saya mengingat kisah itu lagi belakangan ini, meski menyadari kita nyaris terlambat untuk mengubah semua yang sedang berlangsung dan terjadi kini. Sebab, tak sedikit rekan-rekan yang bertudung kepada pemahaman baik, tetapi langkah dan penerapannya terasa berlebihan, yang, sialnya, juga terjadi dalam kerangka asmara.

Suatu hari, di tahun ini, akhirnya saya bersua hal itu. Seorang rekan dengan kalimat-kalimat menyejukkan itu suatu kali terpantau mengunggah foto. Ia, di foto itu, ternyata, bersama sang pacar atau entah apa istilahnya (mereka memiliki hubungan khusus, tentu saja). Menariknya, alih-alih menjauh dari prasangka buruk orang yang memandang foto lumayan aneh tersebut, rekan tadi malah menjejalkan satu petuah bijak yang datang bukan dari sini.

Saya ingin tertawa mendapati itu semua, tetapi tak bisa. Namun, tentu juga tak kuasa buat menudingkan telunjuk kepada yang bersangkutan atas apa yang baru saja ia pertontonkan. Sederhana saja soalnya: jika saya berada di posisi itu, mungkin hal yang sama akan saya tangkap juga, sebagaimana pandangannya.

Hanya, lantaran menyadari bahwa era millennial ini masih menjadi kurun paling gamang di bumi hingga saat ini, saya, juga kita, barangkali, tak ikut mendaras pemahaman itu. Tahu atau tidak, kita memang sadar bahwa, sekali lagi, hijrah bukan keputusan semalam, apalagi yang disebabkan cinta.

Mungkin karena kita sadar kalau itu semua cuma soal asmara, yang juga tak jelas juntrungannya.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (21 Mei 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *