Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Hatta, Kemerdekaan Itu…

2 min read

Apa yang menarik dari kemerdekaan ini, Mohammad Hatta?

Kau tahu, bung-aku terpaksa memanggilmu begitu karena revolusi, kukira, tak kunjung selesai, setengah kilometer ke depan mereka mesti berjalan; menuju Pasar Bawah. Kau juga tahu kan, peristiwa itu terus berulang dan barangkali sudah ada jauh sebelum Belanda menegakkan tiang-tiang pertama Loih Galuang di kota yang dingin itu.Di Simpang Landbouw, sekira 150 meter dari rumah kelahiranmu, petani-petani dari daerah Kamang, Kabupaten Agam, tampak turun dari beberapa mobil angkutan umum. Peluh mereka yang tersigi dalam matahari pukul 07.00, membuat pagi seakan bercahaya. Lalu satu per satu ketiding mereka yang penuh dagangan itu diturunkan, termasuk harapan-harapan yang sederhana.

Tapi karena itu juga, Hatta, aku mesti berkabung.

Betapa tidak? Apalah dayaku saat itu: bocah 13 tahun yang menunggu satu angkutan umum untuk membawanya ke sekolah yang kian hari kian tak jelas tujuannya. Sementara mesin-mesin industri terus menggerus jantung peradaban manusia yang kerap disebut desa itu.

Kami, bocah-bocah yang seakan-akan terus hidup dengan sidik jari seorang inlander ini, terus dipaksa untuk meningkatkan nilai-nilai rapor, selain mengejar sejumlah prestasi yang tak pernah jelas apa maknanya.

Maafkan kami bung, jika karena itu pula kami lena dan mulai kehilangan kemanusiaan kami.

Hanya saja, mungkin guru-guru di sekolah kami akan menyela hal itu (seandainya kau juga ada di sana): “Mereka harus dididik begitu agar tak kalah bersaing dengan anak-anak bangsa lain. Pintar itu penting.”

Hatta, jika kau mendengarnya, kami akan menatap dalam-dalam kedua mata cerlangmu dan interupsi: “Jawaban itu menyebalkan, bukan?” Lantas, sambil membetulkan gagang kacamata, kami yakin kau akan berkata: “Sia-sia aku jauh-jauh bersekolah ke Belanda.”

Tapi kau tak sia-sia, bung. Rantaumu berbahaya, tapi kau genius. Mungkin jika kau masih berdiri di antara kami, kupandu anak-anak yang datang dari hampir seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat demi bersekolah di Bukittinggi itu untuk berucap: “Belanda telah membesarkan harimau Kamang di ruang tamu mereka!” Siapa bisa lupa saat kau dengan tegas membacakan pledoimu yang terkenal itu; “Indonesia Merdeka?”

Apa yang membuat kami bisa tak yakin jika teks proklamasi itu bukanlah sebentuk “pembangkangan” paling purna? Tapi, cukupkah dengan pintar saja kau buat negeri ini bebas dari jerat rantai kolonialisme, Hatta? Dari hati yang paling dalam, kuharap kau berkata: “Tidak”.

Lalu apa yang menarik dari kemerdekaan ini, Hatta?

Mungkin aku menemukannya, bung, di Bukit Ambacang. Pada sebuah senja kemerahan, di hari yang tak ditandai, aku melihat sekelompok anak berlari di gelanggang pacuan kuda peninggalan kolonial itu.

Beberapa masa setelah usia 13 tahun itu kutinggalkan, Hatta, aku pulang sebagaimana lelaki Minangkabau kebanyakan; perantau. Tapi anak-anak itu terus berlari, berputar-putar di lapangan berumput hijau itu, sementara ingatan akan masa kanak juga berputar di kepalaku.

Tapi, Hatta, kau masih ingat kepada Syekh Muhammad Jamil Jambek, bukan? Sebab anak-anak itu mungkin “Orang Kurai”, Hatta. Mereka orang asli Bukittinggi. Tapak kaki mereka yang halus itu mungkin juga punyamu, juga punyaku. Akankah sidik jari mereka, termasuk aku, juga berutang pada kepunyaanmu? Dengan tegas kuajak mereka menjawab: “Iya”.

Itu sebabnya di salah satu kursi pada tribun gelanggang yang atapnya mulai lapuk itu, diam-diam kuseka air mataku karena terbayang: betapa jauh jarak yang mesti kami tempuh, jauh lebih berat derita yang dulu pernah kau tanggung. Hingga aku percaya, Hatta, kemerdekaan itu ada, meski aku tak tahu hal-hal pelik apa yang selanjutnya akan ditawarkan waktu pada kami, penerus-penerusmu ini.

Kini, Hatta, jika ada kesempatan untuk pulang, di Simpang Landbouw itu kadang-kadang aku sempatkan berhenti karena ingin menjenguk hari-hari lalu dari rumah kelahiranmu itu. Meski aku tak pernah tahu, di manakah kini petani-petani Kamang yang keringatnya dulu pernah menetes dalam tiap suapanku.[]

Tulisan ini tayang di Reportimes.com, Rabu (31/8/2016)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *