Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Guru

1 min read

Pada sebuah pelajaran Pendidikan Agama, guru yang terkenal suka memiuh pusar murid laki-laki di kelasnya itu bertanya pada saya: “Kenapa kau goyang kaki kursimu?” Melihat kemarahan di wajahnya, saya yang sadar akan kesalahan “fatal” itu, kontan tak bisa menjawab. Dengan kepolosan anak-anak, akhirnya saya hanya bisa katakan: “Tak sengaja, Pak.”

Dua atau tiga menit berselang, beliau sudah tepat berdiri di samping meja saya. Setelah menyuruh saya berdiri, dengan sepatu hitam mengkilap khasnya itu, sebuah tendangan tepat diarahkannya ke betis kecil saya. Dua hal yang terjadi kemudian adalah ia kembali ke mejanya dan saya menangis.

Usai jam pelajaran itu, yang kebetulan jam pelajaran terakhir, saya berjalan menghampiri pintu kelas dengan terpincang-pincang. Ketika kami berpapasan, beliau memanggil saya. Dengan sedikit iba dan khawatir, ia mengurut betis yang baru jadi korban dari jurus tendangan mautnya itu dan bilang: “Kau tadi ngapain goyang-goyang kaki kursimu? Kalau kau jatuh, Bapak juga nanti yang disalahkan.”

Ketika kemudian pulang, beberapa abang kelas yang kebetulan satu arah menuju rumah menyuruh saya melaporkan hal ini kepada pihak sekolah dan, tentu saja, orangtua saya. Pilihan yang kedua saya ambil; saya tak mau pihak sekolah sampai menjatuhkan sanksi pada beliau, sementara kesalahan juga terletak pada saya. Sampai di rumah, kabar ini membuat orangtua saya berang. Tapi untungnya, ayah saya masih cukup sabar untuk tidak “menaikkan lengan bajunya” alias melakukan tindak kekerasan sebagai balasan. Hubungan keluarga saya dan bapak tersebut akhirnya tidak sampai merenggang, meski akhirnya mulai jadi biasa-biasa saja.

Peristiwa itu saya rekam dalam ingatan bertahun-tahun lamanya; hingga hari ini. Saat itu saya duduk di kelas 5. Masnil, nama guru itu, adalah staf pengajar di mata pelajaran Pendidikan Agama. Hampir di semua kelas di SD Negeri 07 KGB, sekolah saya itu, beliaulah yang mengajar di mata pelajaran itu. Murid-murid saat itu mengenalnya karena dua hal: Vespa merah marun, dan wajahnya yang tak murah senyum.

Tapi saya dekat dengan beliau, bahkan terlalu. Sejak didapuk sebagai tukang pidato alias dai cilik yang sering mewakili sekolah itu, ia sudah saya anggap sebagai bapak sendiri; entahlah jika begitu sebaliknya. Meski ia terkesan kasar pada murid laki-laki, hatinya sangat baik menurut penilaian saya. Walau tak jarang, saya juga jadi sasaran dari kemarahan beliau sekalipun menurut ukuran kawan-kawan saat itu, sangat tidak mungkin beliau akan “menyentuh” saya; mengingat sumbangan prestasi yang telah saya berikan sejak dalam “besutan” beliau.

Hingga saya mendengar kabar duka itu tadi malam: beliau meninggal, pada siang hari kemarin. Ada kawan yang berkabar jika ia meninggal karena sakit paru-paru. Meski penyebab jelasnya belum diketahui. Tapi belakangan beliau memang dikabarkan dalam keadaan tidak sehat, lanjut kawan tadi. Hal yang paling mengecewakan bagi saya, juga kawan-kawan itu, tentu tak lain adalah ketika kami tak bisa melihat jasad almarhum untuk yang terakhir kali; bahwa setidaknya kami ikut mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Tapi begitulah hidup, barangkali: kita terus bergerak karena sesuatu yang diam itu tak ada. Begitu pula dengan bapak Masnil, yang kini telah, dan tengah, menuju tempat barunya di sisi Ilahi. Bukan usia memang yang membawanya pergi, tapi kehendak-Nya.

Kepada Tuhan, kami hanya dapat berdoa agar beliau tenang di alam sana; agar segala dosanya dapat diampuni dan jalan dan pintu surga semoga dilapangkan untuknya; agar segala amal dan laku baiknya dulu diterima; agar ridho Sang Pencipta menyelamatkannya di Sidang Penghabisan, kelak. Amin.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *