Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Gizi

2 min read

Seorang anak menangis ketika tiga pasang tangan memeganginya. Sebatang jarum suntik akan ditanamkan ke tubuhnya tepat di seberang jarum infus yang lebih dahulu berada di pergelangan tangannya yang mungil.

Saya tak tahu siapa nama anak itu–juga tengah di mana ia berada saat itu. Tapi ia kurang gizi, saya tahu: perutnya besar dan tulang-belulangnya menyembul dari kulitnya yang lisut. Ia hampir jadi mumi, padahal, usianya baru–barangkali–sekitar setahun lebih. Ia hampir jadi santapan maut, padahal ia belum merasakan kehidupan.

“Tikus Mati di Lumbung Padi,” tulis Andriyas Siregar di laman Jokowinomics.com untuk menggambarkan bagaimana malnutrisi (kurang gizi) yang menjangkiti para balita di negeri yang berlimpah kekayaannya bernama Indonesia; untuk menggambarkan penderitaan anak kecil bertubuh lisut itu. Ia mungkin hanya satu dari lima juta lebih–dari data yang dihimpun Andriyas–anak-anak penderita gizi buruk yang tersebar di Indonesia.

Andriyas kemudian menyebut beberapa provinsi, yakni Aceh, Banten, NTT, dll., sebagai daerah dengan penderita gizi buruk terbanyak di Indonesia. Padahal kita tahu, bagaimana kapasitas sumber daya alam Aceh dan daerah lainnya itu: seolah tak habis digerus waktu. Tapi mengapa gizi buruk tetap ada di negeri Daud Beureuh itu? Atau di negeri yang kini dipimpin Rano Karno bagaimana pula kejadiannya?

“Aceh namaku,” tulis penyair Ahda Imran dalam pusinya, “buih ombak yang menikam daratan…”

Sejak tsunami menghempas negeri Inong dan Agam ini, ekonomi Aceh tumbuh dalam situasi yang serbasulit. Pemberontakan GAM di wilayah pegunungan dan meluas hingga ke permukiman, menjadi ganjalan awal dalam tumbuh-kembang sektor ekonomi Aceh usai dihantam gempa dan tsunami 2004 lalu. Tapi Aceh sudah “berdamai” dengan Republik; GAM sepakat untuk kembali ke pelukan Indonesia.

Tapi persoalannya kemudian, apakah Indonesia membalas pelukan Aceh dengan hangat? Barangkali sudah, namun masih setengah hati. Orang-orang Aceh kembali bergerilya; orang-orang Aceh masih terluka. Din Minimi, organisasi sempalan GAM, melakukan perlawanan di hutan-hutan. Saya menyaksikan wajah gusar dan putus asa Din, sebagai pimpinan, di sebuah siaran Metro TV; ia menolak berintegrasi dengan Republik. Alasannya, pemerintah belum menepati janjinya pada Aceh pasca-perdamaian Helsinki: para janda yang suaminya ditembak tentara, masih terkatung-katung nasib anaknya; pemuda Aceh mantan anggota GAM masih belum jelas posisinya di masyarakat–pun lagi bicara soal masa depan mereka. Begitu kata Din. Meski akhirnya, Din kembali ke pangkuan Republik: tawaran Sutiyoso, Kepala Badan Intelijen Negara, meluluhkan hati Din.

Kemudian tentang Provinsi Banten. Saya punya saudara yang tinggal di Pandeglang. Ketika salah seorang kerabat berkunjung ke sana, ia bilang: “Banten masih terbelakang. Tapi bukan karena orang Baduy. Di negeri sekaya itu, bahkan di salah satu kecamatannya warga masih buang air di sawah yang kering. Mereka tak punya jamban.”

Miris sekali mendengarnya. Sementara, dalam garasi para pejabatnya (semisal keluarga Ratu Atut), barisan mobil mewah terpajang elegan. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi masyarakatnya yang serba-kekurangan, baik air, pangan, dll.

Mendengar kondisi Banten yang sebegitu riskan, kita tentu terkejut badan. Bukankah negeri ini tak berapa jauh dari Pusat; dari Jakarta. Sudah kian kandaskah harapan untuk hidup layak di negeri yang kaya ini bahkan untuk daerah yang tak seberapa jauh dari ibukota Republik itu?

Apalagi jika kita bicara tentang NTT. Meski, “Sumber air su dekat,” kata bocah kurus di iklan itu, kita jadi paham satu hal: sudah sedemikian lama (bayangkan: berpuluh tahun lamanya sejak merdeka!), barulah ketika Aqua sampai ke sana orang NTT bisa punya sumber air! Apalagi masalah pangan. Tentu orang NTT serba-kekurangan: di sana, tanah cukup gersang dan angin kering siap sedia menyapu tanaman.

Tapi hidup mesti berlanjut. Anak-anak Aceh, Banten, NTT dan lain-lain yang hidup serba-kekurangan itu, mesti lekas mendapat perhatian yang besar. Mereka manusia; mereka calon-calon pemuda di zaman berikutnya. Jika tak lekas diselamatkan, suatu hari, jika hidup masih memberi mereka kesempatan, tentu mereka melawan; mereka akan menggugat kesempatan hidup layak yang pernah tak diberikan oleh negaranya sendiri. Persis seperti anak-anak muda Papua ….[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *