Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Gagal

2 min read

Kegagalan terbesar lekaki terjadi ketika ia mencoba memahami apa yang dipahami perempuan.

Banyak yang bercerita (dan mengadu) pada saya perihal kegagalan dirinya selaku anak. Dalam obrolan (pengaduan) itu, ada hal menarik yang saya temukan, yakni ketika ukuran keberhasilan (dan kesuksesan) dinilai dari seberapa lama harapan-harapan itu diwujudkan.

Bagi kawan tadi, puncaknya adalah ketika ia tak mampu memenuhi ekspekstasi orangtuanya untuk menamatkan kuliah 4 tahun alias diwisuda tepat pada waktunya. Dengan badan lemas terhuyung ia barangkali akan menangis saat itu juga, meski akhirnya niat itu ia urungkan sebab (mungkin) malu bila harus mengucurkan air mata di hadapan saya.

Barangkali apa yang ia adukan adalah sesuatu yang memang sering kita rasakan. Tapi diberi kewajiban untuk menyelesaikan apa saja sesuai waktunya, tentu membuat setiap orang mutlak mengalami dua hal. Pertama, menjadi lebih tertantang. Kedua, tentu, gamang dalam menjalani “kewajiban” itu.

Tapi rasa gamang lahir dari tekad yang separuh matang; ia muncul dari sebuah keputusan-keputusan yang tak diukur dalam dua sudut pandang: bagaimana menjalaninya di masa kini dan apa pentingnya di masa mendatang.

Tapi sebab itu pula kiranya kita sering merasa bahwa kegagalan mutlak adalah kebodohan yang tak datang dari mana saja alias lahir dari tindak-tanduk sendiri. Kita, misalnya, sering meragukan pencapaian yang telah tergoreskan di atas pasir kehidupan sendiri dengan menganggap bahwa apa yang ditilaskan orang lain dengan jejaknya yang lebar dan besar itu sungguh jauh lebih bermakna.

Maka di sanalah kita seringkali lupa bahwa hidup yang dijalani sehari-hari itu tak lain hanyalah potongan-potongan peristiwa. Ibarat fragmen sebuah film, tentu ia tak bisa berdiri sendiri tanpa kesatuan yang utuh. Meski kita tahu, selalu ada scene-scene dan kilas-kilas menarik yang kadang memang bisa kita sampirkan sebagai penghalang keraguan bahwa kegagalan itu sedang merayap ke arah kita, tapi ada satu hal lagi yang mesti kita yakini: kita belum mencapai puncaknya alias belum menamatkan jalan cerita.

Tapi keraguan terbesar kawan saya tadi lahir dari orangtuanya–terutama ibunya. Di titik ini, tentu sulit membayangkan bagaimana bisa seseorang yang dibesarkan dengan cinta dan harapan malah akhirnya menjadi tokoh antagonis yang akan membunuh harapan (dan cinta) tersebut. Namun, perlu kita cermati pula kiranya, bahwa definisi dari hak dan kewajiban orangtua tentu berbeda dengan pengertian kasih dan sayang (yang diberikannya).

Pada hak dan kewajiban misalnya, satu perbandingan tajam dapat kita rumuskan, bahwa orangtua memang tak mutlak punya hak untuk menerima segala kewajiban yang telah ia berikan pada anaknya.

Hal ini tentu berlainan dengan kasih dan sayang. Sebab pada dua kata itu tersimpan maksud yang tak bersifat memaksa (mutlak)–alih-alih mencederai harapan sang pemangku kewajiban (si anak).

Kasih dan sayang adalah laku berkorban, dan setiap pengorbanan tentu tak mengharapkan balasan–apatah lagi pengembalian yang setimpal-sepadan, apalagi utuh.

Tapi seperti yang kemukakan di awal: memahami apa yang dipahami perempuan, hanya akan menerang-jelaskan jika lelaki tengah memulai satu kegagalan besar. Maka, kepada kawan tadi saya katakan, bahwa yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah terus berusaha, menggali bakat-minatnya, dan yang terpenting, tak putus dari jembatan doa orangtuanya–seberat apa pun kewajiban tadi membebaninya.

Sebab, jika segalanya mesti diarah-tujukan atas nama dan kehendak orangtua, saya katakan padanya, tak heran jika sampai hari ini jodohnya belum tampak di pucuk mata alias belum kelihatan.

Sesekali, bolehlah kiranya kita curiga, bahwa kisah percintaan orang-orang semacam ini tentu juga tak lepas dari sorotan orangtua: sang pemangku kewajiban yang meletakkan beban berat di pundak anak-anak yang barangkali tak mampu mewujudkan hal itu, namun teramat segan menolak segala pintanya.

Berbakti memang laku bersakit-sakit, kiranya ….[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *