Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Di Dunia Orang-orang yang Kelihatan Waras

2 min read

“Satu-satunya alasan bagi Fulan untuk bertahan dalam mengarungi asmara bersama pacarnya, Fulanah, adalah backstreet.”

Anda ingin ketawa sehabis mendengar pernyataan itu? Silakan. Soalnya, saya sudah ketawa duluan.

Di dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang kelihatan waras (padahal jiwanya sakit), bersembunyi/menyembunyikan sesuatu, termasuk hubungan, mungkin menjadi pilihan paling masuk akal bagi sebagian kecil dari populasi makhluk bernama manusia ini. Ada yang betah dengan rahasia besar: kerja apa, pacarnya siapa, hingga kekayaannya berapa. Namun, jelas ada orang-orang yang tak seperti itu. Orang menyebut mereka ekstrovert: mereka yang mampu berinteraksi dengan orang lain melebihi ekspektasi kaum rumahan-santuy-rebahan, kutu buku-biblioholic, dan sebagainya yang biasanya dilabel sebagai introvert.

Mungkin keduanya tak ada beda, tetapi mari periksa hubungan mereka:

Suatu hari, ketika Fulan datang menemui Fulanah di rumahnya, sang calon ibu mertua keluar dengan wajah masam. Ia cemberut karena harus meladeni (lagi dan lagi) pacar anaknya cum calon menantu yang kere nauzubillah itu. Dari balik pagar, si ibu melongok keluar dan menemukan motor butut si calon menantu diparkir agak ke tepi parit. Ia menyumpah dalam hati, “Sekalian aja masuk parit motor jelekmu itu!”

Fulan, yang sehari-hari hidup dalam fantasi cinta ala sinetron dan film televisi, meyakini bahwa tatapan si calon ibu mertuanya merupakan jalan awal untuk masa depan yang lebih baik. Ia sadar akan tatapan sinis itu, tetapi batinnya menjerit lega, “Ini akan jadi kisah cinta yang indah. Ditolak, pada awalnya, lalu bahagia, pada akhirnya.”

Si calon ibu mertua yang tak sabar kemudian membuka pintu, memberikan ujung tangannya, menatap bibir yang menyongsong jari-jarinya itu, lalu memanggil anaknya keluar rumah.

Adegan selanjutnya selalu begini: tiga jam di luar rumah, Fulan dan Fulanah akan mulai saling pandang (di hadapan dua gelas minuman kafe) dengan isi kepala berbeda.

(Fulan: Seandainya aku kaya, sedikit saja, besok ganti motor, langsung lamar Fulanah.)
(Fulanah: Seandainya pun mami merestui, besok belum tentu bisa menikah. Fulan kerjaannya belum mapan.)

Berbulan-bulan menjalani episode cinta demikian, Fulanah, pada suatu hari, tak tahan dan bilang, “Mami nyuruh putus.”

Sambil menggigit ujung bungkus kuaci, dari seberang sini, Fulan membalas, “Terserah kamu. Aku udah sabar selama ini.”

Setengah jam berlalu, tawaran ajaib pun meluncur dari bibir Fulanah, “Backstreet aja, gimana?”

Menjelang kumandang azan magrib dari surau di dekat rumahnya, Fulan telah resmi menjalani hubungan diam-diam dengan Fulanah.

Anda ingin ketawa sehabis mendengar kisah itu? Silakan. Soalnya, saya sudah ketawa duluan.

***

Saya mengetik istilah “Me Time” di pencarian dan bersua ini: “Pentingnya ‘Me Time’ bagi Bla Bla Bla”, “Jenis-jenis ‘Me Time’ yang Pelu Bla Bla Bla”, dan senarai judul lain dari artikel-artikel yang sejurusan.

Kenapa “Me Time”?

Ada warganet baik hati yang menulis bahwa zodiak A, C, D, dan E, merupakan tipe penyendiri, sementara zodiak lain tidak. Kolom komentarnya sontak ribut:

“Lah, itu kan perasaan jenengan aja.”

“Goblok ra usah ngajak-ngajak!”

“Apaan sih ajg !1!1!”

“Eh, kok tau?”

“Aku banget”

“Hmmm, yha saia itu”

Apanya yang “Me Time”?

Dalam kelimpungan mencari jawabannya, saya justru teringat salah satu kisah Fulan dan Fulanah:

Beberapa jam menjelang awal pekan, Fulan dan Fulanah sudah pulang ke rumah masing-masing. Lima jam lalu, mereka duduk mengaso di sebuah kedai jus yang tak jauh dari bioskop. Sambil melahap bakso tahu goreng, Fulan bilang ke Fulanah kalau dia perlu waktu sendiri. “Istilahnya itu ‘Me Time’, paham kan?”

Fulanah mengganguk. Dalam hati, ia mengutuk, “Mau dengerin musik gratisan aja sok belagu ngomong pengin ‘Me Time’. Untung dia pacarku, Gusti.”

Memang demikianlah yang terjadi kemudian: Fulan pulang, berberes, lalu duduk menghadapi laptop bututnya dan mulai mendengarkan lagu-lagu yang rajin ia unduh tiga malam belakangan. Inilah “Me Time”, kata Fulan dalam hati. Menjauh sejenak dari keriuhan duniawi, katanya lagi.

Berjarak 14 kilometer dari rumah Fulan, seorang gadis sedang manyun di kamarnya, sendirian. Ia menunggu kabar, ucapan selamat tidur, dan puja-puji bahwa ia adalah makhluk-Tuhan-yang paling-seksi dari mulut seseorang yang beberapa bulan ini ia sebut pacar. Tak sabar, gadis bernama Fulanah itu menelepon Fulan sebelum akhirnya putus asa karena tetap tak ada jawaban setelah 15 kali percobaan panggilan. Ia pun tidur, sementara 14 kilometer dari rumahnya, seorang lelaki masih dalam setelan lengkap (celana bokser tiga lima belas ribu yang kini terpantau agak sobek di bagian selangkangan) dan terus beryanyi sendirian dengan nada tak jelas dan berharap waktunya tak terganggu oleh apa dan siapa pun.

Anda ingin ketawa sehabis mendengar kisah itu? Silakan. Soalnya, saya sudah ketawa duluan.

Di dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang kelihatan waras (padahal jiwanya sakit), ekstrovert atau introvert memang kadang tak tampak bedanya dan ketawa menyatukan mereka—selicik apa pun maknanya.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *