Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Cinta Monyet Sepanjang Masa

2 min read

Kalau ada yang terus-terusan mengganggu saat kita benar-benar sudah nyaman menjalani hidup —dalam segala lininya-, hal itu mungkin bernama-berwujud kasmaran pertama. Cinta monyet, begitu kita menyebutnya.

Kita ingat: Adam, sebagaimana disebut banyak riwayat, berahi (karena jatuh cinta terlalu ringan untuk perasaan itu) kepada Hawa saat perempuan pertama itu sedang terlelap. Betis sang gadis tersingkap dan Adam tergeragap: cinta pertama bermula dalam tidur dan terjaga.

Kisah itu memang menarik, tetapi sebentar kita paham lagi: sehari di surga sebanding dengan beberapa masa di bumi. Karena itu, untuk berpuluh tahun kemudian, Adam kehilangan cinta pertama dan terakhirnya; Hawa.

Adam, yang sunyi sendirian di bumi, berkelana — Hawa juga. Takdir, sebagaimana telah tercatat di suatu masa sebelum ini, memang merekatkan mereka kembali, akhirnya. Namun, perjalanan tak sebentar itu telah memberi makna lebih: tiap pasangan, pada akhirnya, bertemu dan berpisah dengan sebuah garis melengkung yang bertaut kedua ujungnya.

Mungkin, dan karena itu pula, bumi tak datar.

Jauh setelah kisah dua moyang tadi, kita kenal seorang Abraham Lincoln. Ia bijak benar karena sudah mengatakan, “Hampir semua pria memang mampu bertahan menghadapi kesulitan. Namun, jika Anda ingin menguji karakter sejati pria, beri dia kekuasaan.”

Akan tetapi, jauh pula setelahnya, kita, generasi peragu ini, menilai suaranya itu terlalu tinggi — seakan-akan ia bicara dari panggung terbaik di dunia karena ia bukan pula Musa di Bukit Tursina.

Bukan skeptis, tentu saja. Itu karena ucapan bijak seorang Lincoln itu mesti kita sesuaikan (dalam konteks cinta monyet) dengan becermin kepada karakter muda mudi masa kini. Maka, mungkin beginilah seharusnya jika kalimat Presiden ke-19 Amerika Serikat itu mesti di(g)ubah:

“Hampir semua pria memang mampu bertahan menghadapi kesulitan. Namun, jika Anda ingin menguji karakter sejati pria, ingatkan dia soal cinta pertamanya.”

Masa Lincoln, antara 1809-1865 itu, sudah usang, memang. Namun, cinta pertama tidak — ia utuh dalam perasaan, meski agak tak lengkap di ingatan.

Ada cerita soal itu.

Suatu malam, seorang kawan yang sudah menikah, menelepon seseorang. Suara seorang perempuan terdengar di seberang. Pria yang sebentar lagi berusia 30 tahun itu berada tak jauh dari kerumunan yang ada di sebuah kedai itu — tempat kawan-kawannya duduk menghidupkan malam-malam mereka yang nyaris tak punya arti. Tak lama, kawan itu, yang duduk-berdiam di bawah batang jambu biji, tiba-tiba tertawa sendiri.

Tak ada yang peduli, awalnya.

Namun, ketika ia “klimaks”, agaknya, ada ucapan yang memang penting untuk tak diresapi sedemikian rupa: “Kalau dulu kita tak putus, mungkin lain ceritanya sekarang.”

Hiruk pikuk yang sebelumnya memenuhi kedai itu tiba-tiba reda saat kalimat itu keluar dari mulutnya.

Tak ada yang tak peduli, akhirnya.

Kerumunan pemuda pengangguran itu sontak menegur kawan tadi. Namun, apa daya, berahi memang menumpulkan pikiran sembari meruncingkan hasrat dalam badan.

Meski begitu, kawan tadi dengan santai berujar, “Tenang. Aku tahu anak-biniku di rumah sekarang. Aku tak akan main gila.”

Ia bijak, tentu. Namun, yang dilakukannya barusan memang mengganggu — setidaknya bagi mereka yang masih menganggap cinta punya harga.

Barangkali, karena itu toleransi punya makna: kita kadang-kadang butuh ruang baru buat menghidupkan kenangan-kenangan yang tak utuh. Menelepon seseorang yang sudah lama pergi dari masa muda, misalnya.

Karena itu, tiap kali mendapati mereka yang mengenang hari-hari indah masa dulu —cinta monyet yang lenyap ditelan waktu- dengan menelepon atau berkirim pesan, seharusnya orang-orang mengerti bahwa “kesan” (dalam hidup) yang hidup di benak tak bisa dibunuh alih-alih disingkirkan untuk sementara waktu. Sebab, memang tak ada yang bisa memberangus memori seseorang — kapan, tentang, dan di mana saja.

Jika kemungkinan terburuk dari itu semua mungkin bernama perselingkuhan, sebaiknya kita percayakan segalanya kepada kata-kata penyair Chairil Anwar ini: “Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.”

Tentu saja, kata “bahaya” di konteks “panggilan malam” alias laku teleponan yang terjadi antara dua orang yang pernah saling jatuh cinta dulu itu sejatinya tak pernah ada. Selagi masih dikomunikasikan dengan pasangan saat ini dan bukan dalam rangka “rujuk” atau hal-hal “konyol” semacam itu, kita memang perlu menganggap laku itu wajar-wajar saja. Sebab, cinta monyet memang sepanjang masa, tetapi getarannya tentu tak akan lagi sama atau bahkan tak akan lagi ada.

Bukan kata Chairil: “Cinta (dengan panggilan tengah malam) adalah suara dari masa lalu yang tak lagi punya getar.”[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (13 Agustus 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *